Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Ku Jaga Dia


__ADS_3

Mentari cerah telah menyapa tidur nyenyakku, yang sedang tidur menunggu Ana di sofa panjang ruang VIP. Walau menguras kantong tebal, bagiku tidak masalah demi kebaikan istri.


"Pagi, Mas!" sapa Ana yang ternyata sudah bangun duluan.


"Pagi juga, sayank!" balik sapaku.


"Kamu sudah lama bangun?" tanyaku mendekatinya.



Dia yang lemah terpaksa aku mendekatinya. Tangannya kukecup mesra. Keadaan kian hari kian banyak perkembangan menjadi baik.


"Baru saja, Mas."


"Sebentar, ya! Ada hal yang ingin kukerjakan," pamitku ingin permisi ke kamar mandi.


Merasa bangun tidur masih kotor. Rasanya tidak nyaman jika air belum menyentuh kulitku dipagi hari.


"Iya, Mas."


Setelah mengosok gigi dan membasuh muka, kini langkah berlanjut sudah menuju ke kantin rumah sakit, untuk mencari beberapa makanan dan kopi.


Apa yang diinginkan sudah dapat. Langsung kembali ke ruangan Ana dirawat.


"Kok beli, Mas?" tanya Ana.


"Gak pa-pa, mungkin makanan dari rumah sakit pasti agak siang sedikit memberikannya. Jadi sebelum kamu kelaparan aku belikan dulu," jelasku.


"Ooh."


Beberapa bungkus nasi yang rapi dalam kantong kresek hitam langsung kuletakkan diatas nakas. Membuka dari kertas minyak dan menaruh diatas piring. Menyuapi dirinya. Walau tangan dia baik-baik saja, tetap kumanja agar bisa menyuapi, sebab keadaan masih belum stabil dari kelemahan. Agar mulut terbuka mudah sampai menirukan menganga a'a.


"Gimana , Mas?" tanyanya saat diriku masih sibuk menjejalkan makanan dimulit sendiri.


"Apanya?" tanyaku balik.


"Aah, Mas Adit masak lupa, sih? Janji kamu yang mau menjenguk Salwa," ujarnya mengingatkan.


__ADS_1


"Ooh itu."


"Nah 'kan baru ingat. Boleh 'kan?"


"Ya nanti dulu, kenapa? Sepertinya kamu antusias sekali ingin segera bertemu dengannya. Tubuhmu masih lemah," ucapku dengan nada selembutnya.


"Aku sekarang memang tak sabar, dan cepat-cepat ingin melihatnya. Takutnya keburu Salwa dibawa pulang," jawab lepas.


"Luka kamu belum sembuh total, sudah ingin main jenguk orang lain saja. Entarlah kita pasti akan kesana. Kalau tidak ketemu dirumah sakit 'kan bisa dirumahnya," responku sambil menyuapi makanan yang kubeli tadi.


"Kan ada kursi roda, jadi apa yang dikhawatirkan? Kalau dirumahnya beda, dan sedikit trauma kesana. Jadi boleh 'lah, ya ... ya," terangnya memaksa..


Hembusan nafas kasar mengalun pelan.


"Ya ampuun, ngotot banget mau ketemu Salwa," ketus berbicara sambil mentoel hidungnya.


"Memang kenapa sih, Mas? Sepertinya Mas Adit tak suka, apa jangan-jangan masih ada benih cinta dihatimu," godanya berkata diiringi dengan senyuman tipis.


"Iiih, apaan sih! Mana ada kayak gitu. Kamu tahu sendirilah dari gelagat sikapku, yang hanya mencintai kamu seoranglah," gerutu tak senang.


"Tapi pada kenyataannya benar 'kan?" ucapnya mengoda lagi.


"Aku sekarang kebal yang namanya cemburu," sahutnya merasa sombong.


"Ciih, benarkah?" tanyaku penasaran.


"Kalau begitu, boleh dong aku nambah istri? meringisnya mulutku berbalik mengoda.


"Wah ... wah maunya. Kalau itu ngak boleh, harus cukup satu saja. Punya istri satu aja kelihatan kerepotan apalagi dua. Satu saja tidak habis, mau nambah dua yang bakalan bikin susah saja," balasnya menjawab terlihat sedikit dongkol.


"Aah, kenapa tidak bisa? aAku 'kan kaya, tampan, cool. Masalah nambah istri itu gampang," tambahku menjahilinya lagi.


"Cck ... ckkkk, sudah ... sudah. Jadi ngalor ngidul pembicaraannya."


Decak yang tak senang. Bibir sudah mengerucut. Berhasil berbalik membuat dia kesal. Dalam hati hanya bisa tersenyum nyegir.


"Kenapa? Mulai ada bau-bau cemburu 'kah?" ucapku yang memulai memajukan wajah ke wajahnya.


Kini kutatap lamat-lamat wajahnya, untuk mencari jawaban atas ucapannya barusan.

__ADS_1


"Iiih, siapa juga yang cemburu! Cuma kesel aja ucapan mas Adit, yang jauh sekali tak nyambung tentang Salwa," kilahnya mencari alasan.


"Yang namanya kesel berarti cemburu, sayang! Cuuup," Daratan ciuman kilat kuberikan pada bibirnya.


Tangannya langsung menutup bagian kukecup mesra.


"Aah Mas Adit, gak malu apa? Main cium sembarangan, kalau ada yang melihatnya gimana? ujarnya seperti takut akibat ulahku.


"Kenapa harus malu sama istri sendiri! Sah-sah aja kali," kubalas ucapannya.


"Iya ... iya, aku cemburu. Puas?" ungkapnya dengan menyendok makanan.


Terlalu fokus bicara, sampai lupa akan kerjaan yang ingin membuat kenyang perut Ana.



"Hehehehe, kamu memang istri yang paling gemesin," tuturku dengan mencubit mesra pipi kiri kanannya.


"Aaa, sakit mas!" Muara manjanya.


"Hoh, uluuh ... uluuuuuh, maaf!" ucapku mengelus pipinya.


"Kuat banget, sih."


"Eeh, beneran yang aku katakan tadi, boleh 'kan aku nambah istri lagi," celetukku mengodanya lagi.


"Mas Adit," pekiknya kuat dengan membulatkan matanya.


"Hahahahah, lucu sekali ekspresi wajahmu itu. Jangan kuat-kuat mendelikkan mata, nanti bisa-bisa copot," gelak tawaku puas melihat wajahnya.


Pluk, sebuah sendok berisi nasi tiba-tiba masuk dalam mulutku.


"Makan yang banyak-banyak, ya sayang. Biar itu pikiran cepat dewasa," ucapnya geram yang terus menjejalkan nasi ke dalam mulutku.


"Eem ... mmm. Jangan banyak-banyak, sayang. Tidak bisa ketelan dengan baik nih!" Suaraku tertahan agar Ana stop melalukan tindakannya.


"Heehhhh, biarlah. Harus kenyang. Jangan ngoceg terus, ok!" desah Ana dengan menagkupkan tangan ke dada, seperti sedang kesal.


Wajahnya berubah cemberut. Setelah mengunyah dan menelan makanan secara cepat-cepat, kini aku berusaha meminta maaf atas cadaanku, yang mungkin sudah sedikit kelewatan.

__ADS_1


Walau bagi kita itu hanya candaan, tapi sebagai istri yang sangat mencintai mungkin sangat menyingung. Lain kali enggak lagi membahas itu. Harus menjaga stabil hatinya agar tidak terluka lagi, mengenang diri ini selalu berbuat salah menyakiti.


__ADS_2