
Akhirnya sampai juga dirumah sendiri. Sudah beberapa tahun tidak melihatnya, ternyata ada rasa kangen juga. Akibat ingin memberi kejutan pada Karin, sampai lupa juga memberitahu orangtua kalau sudah berkunjung ke kota kelahiran.
Orang kedua yang selama ini terindukan adalah orangtua. Walau mereka sering tidak kusuka atas sikap kelicikam, tapi namanya orantua tetap harus disayangi, karena tanpa mereka tidak mungkin diriku bisa sesukses ini. Doa dan dukungan mereka sangat berarti, bahkan sebagai anak satu-satunya wajib berbakti dan membalas budi suatu saat nanti.
Yang jelas berbuat baik pada kedua orangtua adalah kewajiban dan amal yang mulia. Aturannya tetaplah berbuat baik, meskipun orangtuamu memerintahkan keburukan padamu.
(Maka jangan turuti perintah buruknya dan tetaplah berbuat baik padanya. Jika engkau dapati orang tuamu berbuat salah maka ingatkanlah dengan lemah lembut dan tetap berbuat baiklah. Itulah ketaatanmu pada mereka)
Jadi tetaplah berbuat baik dengan terus memberikan masukan-masukan baik untuk mereka. Carilah cara yang baik untuk mengingatkan kedua orang tua, walau kadang anak tabu melakukan itu. Kadang orangtua juga pernah salah maka sebagai anak wajib mengingatkan juga.
"Assalamualaikum!" salam ketika mamasukki rumah.
Sepi yang terlihat sekarang. Mungkin memang tidak ada orang dirumah.
"Tuan, pasti sedang kerja. Kalau Nyonya tadi ada, tapi kenapa kok jadi sepi begini!" ucap sopir memberitahu.
"Oh, gitu. Tapi Bapak tidak kasih tahu 'kan kalau aku pulang hari ini?."
"Tidaklah, Tuan. 'Kan Tuan sendiri suruh jangan bilang siapa-siapa." Beliau menjawab sambil sibuk menyeret koper, yang ikut memasukki rumah.
"Baguslah."
"Astagfirullah. Ternyata Tuan telah pulang!" Sambut hangat bibi pembantu.
"Hehehe, Iya, Bik."
"Bibi, pikir tadi tamu. Eeh, ternyata Tuan. Kenapa tidak bilang kalau mau pulang. 'Kan Bibi bisa siapkan makanan yang enak-enak."
"Tidak usah repot-repot, Bik. Maaf kalau tidak memberitahu. Sebab memang mendadak kangen ingin pulang saja."
"Ooh. Pantes pulang diam-diaman begini."
"Hehe, iya, Bik. Mana Mama?" tanyaku sudah clingak-clinguk mencoba mencari sosok beliau.
"Oh, nyonya. Ada. Sepertinya sedang dikamar."
"Ya, sudah. Chris, saja yang akan menyusul ke sana."
__ADS_1
"Iya, Tuan. Silahkan."
"Makasih atas informasinya."
"Iya, sama-sama."
Tidak sabar ingin menemui beliau. Telapak kaki sudah berjalan cepat menaiki anak tangga.
Tok ... tok, pintu kuketuk pelan.
"Iya, tunggu sebentar."
Ganggang pintu mulai terlihat pelan-pelan akan diputar.
"Ta ... daaaa," Mencoba mengangetkan beliau.
"Astagfirullah!" Kekagetan beliau yang langsung mengelus dada.
"Kaget ya!" Senyuman berhasil telah terukir.
"Chris?" Beliau kaget membulatkan wajah.
"Astagfirullah, Nak. Kamu bikin kaget saja, tadi kupikir siapa yang berani mengetuk pintu saat Mama ingin istirahat," Beliau sudah menyambut baik pelukan.
"Hehehe, maaf kalau mengangetkan, Mama."
"Tak apa, Nak. Walau sedikit kaget, tapi cukup puas tergantikan dengan rasa bahagia." Beliau melepaskan pelukan.
Wajah beliau nampak bahagia sekali. Pasti kedatangan yang selama ini dirindukan telah terbayarkan.
"Ya sudah, Ma. Aku ingin istirahat. Capek banget."
"Apa kamu tidak mau makan dulu?."
"Nanti saja. Masih kenyang."
"Oh, ya sudah."
"Aku masuk kamar dulu, ya."
__ADS_1
"Iya, Nak. Istirahatlah." Tangan beliau sudah mengelus pelan bahu yang lebar ini.
Sebenarnya anggota badan sehat dan tidak ada rasa lelah, namun hati dan pikiran cukup menguras tenaga, hingga mampu melemahkan semua otot-otot badan.
Badan sudah kubanting kasar diatas pembaringan. Dengan posisi tengkurep, pikiran masih saja terbayang akan sosok Karin. Seribu masalah yang hadir telah berkecamuk jadi satu.
Dalam menapakki bumi ini, mungkinkah aku harus selalu sendirian. Kekecewaan yang menghampiri telah berhasil memunculkan rasa takut akan jatuh cinta lagi.
"Apakah aku orang yang tak pantas mendapatkan cinta? Kenapa berkali-kali harus tersakiti? Mungkinkah ini takdirku kalau tidak boleh mendapatkan pasangan?."
"Aah, mungkin saja. Kenapa rasanya aku jadi trauma begini? Letih hatiku begitu menganggu, entah sampai kapan akan begini?" Hati terus saja bertanya-tanya.
Tok ... tok, gantian pintu diketuk.
"Iya, Ma. Sebentar!" jawab saat terdengar suara beliau.
Dengan rasa malas tetap membuka pintu.
"Ada apa, Ma?" tanya yang membuka pintu kamar setengah terbuka.
"Turun dulu, yuk. Ada seseorang yang ingin Mama kenalkan!" ajak beliau.
"Hah, siapa dulu itu, Ma."
"Ikut saja. Nanti akan tahu. Kamu dijamin tidak akan menyesal."
Netra sudah memicing sebelah. Merasa heran atas permintaan beliau.
"Ayo! Jangan malah bengong begitu."
"Eeh, iya, Ma."
Beliau berjalan duluan. Baju yang terpakai habis pulang dari luar negeri belum sempat terganti. Gak pa-pa 'lah, yang penting masih wangi dan tidak berbau.
Anak tangga kuturuni perlahan satu-persatu. Terdengar suara riuh percakapan seorang wanita dan pria. Kening mengekerut saat hampir mendekati ruang tamu, ketika terlihat sepasang suami istri dengan disampingnya ada seorang gadis yang cukup lumayan cantik jelita. Kemungkinan besar kalau umurnya sepantaran denganku.
__ADS_1