Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Pingsan


__ADS_3

Membayangkannya saja membuat jantungku berdebar tak karuan, rasanya bahagia sekali bisa mengenal Ana. Wanita yang lemah lembut. Penuh misteri atas semua kesabarannya.


Tak ada yang bisa menerka tentang masa depan, dan tak ada yang tahu kisah hidupku akan seperti apa jadinya nanti. Walau Ana tetap bersikukuh minta cerai padaku dan benci, kuacungi jempol atas kebaikannya yang selalu menerima kehadiranku dengan baik. Tetap melayaninya dengan santai. Tidak ada dendam, serta selalu berusaha mengacuhkan pembicaraannya jika akan mengarah pada perceraian.


Kini aku makan direstoran mertua sendiri, yang mana Ana sendirilah yang melayaninya.



"Terima kasih, Ana!" ucapku sambil memberikan senyuman selebarnya.


"Eeem," Hanya kebungkaman jawabannya.


Dimeja banyak menu yang mengugah selera. Walau hanya makanan khas kampung seperti ayam geprek, tapi tetap siapapun yang melihatnya membuat perut keroncongan. Mungkin seringnya memakan yang mewah lidah jadi ingin berubah.



Banyak pelanggan yang datang, sehingga hanya duduk sendirian. Tempat tidak bercampur baur dengan pelanggan lain. Sedikit masuk ke dalam. Sepertinya Ana memang menyuguhkan ditempat istimewa.


"Hei, Bos! Makan kok ngak ngajak-ngajak, sih!" ucap Rudi mengagetkan, dengan menepuk bahuku.


"Gimana mau mengajak, kamu saja dari tadi sudah pergi tanpa disuruh!" celetuk kesal.


"Heheheh. Aku 'kan baik hati memberi waktu biar kamu bisa berduaan dengan Ana," alasannya menjelaskan.


"Shuuuuuut," tindakanku yang dengan kilat langsung membekap mulut Rudi.


"Nolong sih nolong, kalau berucap jangan kencang-kencang nanti bisa kedengaran Ana! 'Kan bisa malu aku nantinya," terangku berbisik-bisik, akibat sudah sebal pada Rudi.


"Iya ... iya, bosku yang cakep. Amanlah pokoknya. Dari gelagat saja aku sudah tahu yang padahal Bos tidak cerita," jawabnya memuji.


"Baguslah. Memang orang yang bisa dipercaya. Pertahankan itu."


"Siip. Oh ya. Bagi'in dong makannannya," celetuknya memelas.

__ADS_1


Mulut Rudi mengecap sudah ngiler, akibat sudah kepengen makan, saat melihat banyaknya lauk makanan sudah terhidang dimeja.


"Kamu bisa pesan sendiri kenapa! Jorok amat main comot-comot saja. Basuh tangan dulu, kenapa! Datang-datang main cicip," protesku tak suka.


"Alah, gak pa-pa dong sama Bos sendiri, masak sama anak buah pelit amat," jawab Rudi yang merasa tak ada masalah.



"Maunya! Selalu yang gratis-gratis aja. Tapi jaga kebersihan 'lah," Keluhan.


"Betul tu. Iya ... iya. Aku minta maaf," ucapnya yang sedang mengunyah makanan.


"Iya .. iya. Bukan itu maksudku. kamu boleh ikut makan, tapi jangan mencomot pakai tangan begitu, 'kan ada sendok untuk makan. Sekarang berdirilah. Basug tanganmu," protesku kesal.


"Ok, siap bos."


Rudipun pergi. Anak yang baik selalu nurut sama majikan. Selama ini dialah teman yang ada dibelakangku. Kalau ada masalah Rudi selalu menyokong agar aku tidak mudah menyerah.


Mulut Rudi kini sudah monyong-monyong mengunyah, akibat sedang terisi penuh dengan makanan.


"Kamu tadi habis dari mana?" tanyaku saat hampir selesai menyudahi makan.



"Ooh, aku tadi membeli hadiah untuk ulang tahun pacarku," jawab Rudi.


"Hadiah apaan sih! Sampai lama betul belinya?" celetukku penasaran.


"Ini! Hadiah bunga mawar merah sama kue coklat," tunjuk Rudi menaruhnya diatas meja.


Beberapa biji bunga mawar terikat rapi. Sangat cantik. Wanginya sampai menusuk hidung.


"Bunga mawar sama kue coklat?" kekagetanku bertanya dalam hati.

__ADS_1


Kepala kini sudah ada bayang-bayang pernah melihat dan melakukannya, tapi rasa kebingungan kini sedang menderaku, akibat tak tahu untuk apa bunga mawar merah sama kue coklat yang sempat ingin kuberikan?.


"Bukankah itu kesukaan Ana?" bathin hati terus saja berguman dan bertanya-tanya.


"Aah, kayaknya aku pernah membelikan untuknya? Tapi kemarin-kemarin untuk apa aku memberikannya?" pikiran terus saja merancau berpikir.


"Aaah ... aaa ... akh ... awww," Suaraku menahan sakit, ketika kepala mulai berdenyut yang tak terperi lagi rasanya.


"Bos ... Bos, ada apa? Eeeh, kamu kenapa?" tanya Rudi binggung saat aku sudah berdiri memegang kepala.


"Aakh ... aah ... akkkh. Kepalaku ... aakh," Suara histeris kesakitan.


Akibat tak bisa menahannya lagi, sekarang diri ini sudah terduduk dilantai, yang mana masih memegang kepala dengan kuatnya.


Bayangan samar-samar mulai hadir. Makin lama makin jelas, tapi malah semakin membuat kepala berputar-putar rasa sakitnya.


"Ana ... Ana. Tolong ... tolong, cepetan kesini," teriak Rudi memanggil.


Suara langkah berlari mengalun kuat terdengar, sehingga semakin menambah power deyutan. Bumi nampak terbalik.


"Astagfirullah. Ada apa dengan Mas Adit, Rudi?" Suara seorang perempuan dekat dengan posisi kami


Yang ada suara dengungan. Tidak bisa kucerna lagi kata-kata mereka. Samar-samar terus memanggil namaku.


"Mas ... Mas Adit," suara perempuan itu memanggil.


Semakin lama semakin banyak suara orang seperti berkumur-kumur.


Saat semua orang sudah berkerumunan ingin membantuku, mataku mulai mengabur memandang. Mereka begitu panik saat diri ini kian meronta-ronta kesakitan, sebab denyutannya begitu kuat sekali, sampai-sampai badan terasa lemah sekali akibat menahannya.


Badanpun kini merasa sudah tak ada tenaga lagi, bagaikan sudah melayang-layang berputar pusing tak tentu arah. Dan akhirnya tubuh kian melemas, dan tergolek jatuh ke lantai memejamkan mata akibat tak sadarkan diri.


"Bos ... Bos! Astagfirullah," suara Rudi menepuk-nepuk pipi, sebelum mataku benar-benar terpejam.

__ADS_1


__ADS_2