Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Masih mengintai


__ADS_3

Diri ini begitu tak menyangka, bahwa Salwa akan berbuat nekat dan seberani ini. Dimanakah letak kesalahanku, sehingga Salwa berani melakukan ini. Kalau diteliti lebih mendalam, seharusnya dialah yang bersalah sebab meninggalkan diriku yang lagi sayang-sayangnya.


"Bagaimana keadaan kamu, Ana? Semoga kali ini aku bisa membebaskan kamu. Sudah sekian hari menderita, akibat tidak tahu kabar kamu. Akan kubuat perhitungan pada Salwa. Tunggu kedatanganku. Sabarlah dalam menghadapi ini, sebab aku tidak akan pernah membiarkanmu menderita lagi," Kegelisahan hati.



"Wah ... aaah, ternyata Salwa benar-benar nekat dan gila saja," gerutu Edo kesal.


"Kita jangan lengah saja untuk mengawasi rumah itu."


"Untung saja kamu tidak jadi menikah dengannya, bisa-bisa hidupmu akan ngenes dan hancur jika bersamanya," ucap Edo yang masih saja ingin mengajakku berbicara.


"Emm. Tuhan menunjukkan atas kuasanya. Mungkin Salwa memang bukan yang terbaik untukku."


"Ooh ya Adit, sebaiknya kita laporkan ke pihak kepolisian saja. Sepertinya Salwa tidak akan menyerah begitu saja untuk melepaskan Ana!" ide Edo.


"Apakah harus, Edo? Apa itu tidak akan semakin membahayakan Ana?" tanyaku yang gagal fokus, akibat sudah terlalu khawatir atas keadaannya.


Ingin rasanya menjatuhkan airmata, namun malu dilihat Edo yang masih setia menemani. Mungkin wajar saja jika seorang pria bisa meneteskan airmata akibat rasa sayang tidak ingin ditinggalkan, tapi kalau didepan orang lain pasti punya harga diri juga, malah akan takut jika dikatain cengeng dan lebay.


"Iya Adit, kamu harus minta bantuan pada pihak kepolisian. Kelihatannya Salwa akan berbuat nekat dan lebih gila lagi, sebab sudah tahu bahwa kita akan menyelamatkan Ana, tapi dia malah semakin berani menghindari kita," desaknya menyuruh.


"Baiklah, kalau menurutmu itu bagus dan bisa menyelamatkan Ana. Aku akan segera melaporkan dan meminta bantuan polisi. Tapi kita awasi dia dulu, sejauh mana dia akan bertahan menculik Ana!" Setujunya ucapanku.


"Baguslah kalau kamu setuju. Semoga kita berhasil membawa Ana pergi."


"Amin."


Terasa lama sekali mengawasi, namun sang empu masih tidak menunjukkan gelagat aneh. Kami mengintai agak jauh dari kediamannya, sebab biar dia tidak mengetahui bahwa aku telah mengikutinya kembali. Bisa gawat jika dia mengetahui, pasti dia akan berbuat nekat melawan lagi, dan kami bakalan kehilangan jejaknya, sehingga bisa-bisa membahayakan keadaan Ana.


Ada perasaan lelah menunggu. Mata mulai ngantuk. Dari pagi kami terus memgawasi. Sampai lupa kalau perut keroncongan belum terisi. Petengahan malampun mulai terasa. Angin yang semilir dingin membuat tubuh kudekap sendiri. Edo kubiarkan mendengkur sebentar. Tahu kalau dia cukup kelelahan, makanya tidak tega jika membangunkan untuk bergantian berjaga. Menahan agar mata tetap terjaga. Sedikit saja terpejam pasti akan membuat kami kehilangan Salwa yang sudah kabur.


Perlahan Edo mengerjap. Tangan mengelap bagian mulut. Mengeliat sebentar dengan menaikkan tangan keatas meregangkan otot. Tangan ini dari tadi sibuk memijit pelipis. Pusing akibat masalah yang dihadapi, terlebih lagi sekarang kurang tidur.


"Gimana? Apakah ada kemajuan?"



"Belum ada. Sepertinya anteng-anteng saja, Salwa.


"Keadaan rumahnya dari tadi sepi."


"Wah, benarkah itu? Ini adalah kesempatan kita."


"Ide kamu bagus juga."


"Berarti kita bisa segera melancarkan penyelamatan dengan mudah. Tapi sebelumnya kita harus meminta bantuan dari pihak kepolisian dulu, takutnya nanti akan ada hal-hal buruk yang tidak diinginkan, jadi kita tidak bisa disalahkan atas tindakan yang sudah gegabah" suruhnya.


"Baiklah, Edo."


Gawai dalam kantong celana segera kuambil. Mendial nomor yang akan bisa membantu menjalankan aksi kami.

__ADS_1


Tut ... tut, nomor kantor kepolisian telah kutekan, untuk segera kutelpon.


[Hallo, pak, selamat malam]


[Malam, pak. Ada yang bisa kami bantu?]


[Ini pak, saya ingin melaporkan tentang adanya kasus penculikan. Dan kami sekarang minta bantuan dari pihak kepolisian, untuk membantu kami mengatasi masalah ini. Disebabkan korban sedang dalam tahap penyanderaan, sedangkan pelaku sepertinya tidak mau menyerah begitu saja]


[Baiklah, pak. Kami telah menerima laporan anda, dan secepatnya akan ke sana dengan membawa bala bantuan. Berikan alamatnya kepada kami, agar kami segera membantu dan secepatnya datang ke sana!]


[Alamatnya Jalan Kenanga, no.30, Blok A gang lima]


[Baiklah, kami akan segera ke sana dan membantu anda]


[Terima kasih, pak]


[Iya]


Akhirnya kami terpaksa meminta bantuan kepada pihak kepolisian, biar nantinya bisa menyelamatkan Ana dengan mudah .dan tanpa ada kendala lagi.


"Gimana, Adit?" tanya Edo.


"Alhamdulillah, mereka sangat siap untuk membantu kita, dan katanya akan segera meluncur ke sini," jawabku yang sudah sedikit merasa lega, karena ada bala bantuan dari pihak kepolisian.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi rasa-rasanya aku sungguh tidak sabar ingin segera menyelamatkan Ana," keluh Edo.


"Tapi Edo, apa tidak sebaiknya kita menunggu pihak kepolisian saja. Takutnya didalam malah sangat berbahaya, apalagi kita tidak tahu medan didalam, 'kan siapa tahu Sakwa sudah menyewa orang untuk membantu aksinya," sahutku tak setuju.


"Aku tahu Edo, aku juga melihatnya tadi. Tapi-?"


"Jangan ragu, Adit. Pikirkan Ana. Kalau kita yang dibahayakan, pasrahkan semua pada Tuhan bahwa akan melindungi orang yang selalu melakukan hal yang benar."


"Baiklah, ayo kita masuk! Lagian Salwa hanya seorang diri dan seorang perempuan juga," balasku menyanggupi.


Mantap sepenuh jiwa raga. Akhirnya aku dan Edo turun dari mobil, yang berusaha maju dan nekat untuk segera menyelamatkan Ana. Pintu gerbang telah dikunci dari dalam, dengan terpaksa aku naik melompati pagar, setelah itu membuka pintu gerbang, agar Edo bisa masuk dengan mudah. Langkah sudah mendekati pintu dan berusaha mengetuknya, dengan harapan siapa tahu Salwa akan membukanya.


"Ketuk saja pintunya," suruh Edo dengan nada pelan seperti berbisik-bisik.


Edo bersembunyi dibalik tembok. Sengaja aku duluan yang maju, agar disangka datang ke rumahnya lagi sebab ingin bertamu.


"Eem," Anggukanku menyetujui.


Tok ... tok, pintu keketuk.


Ada keraguan jika Salwa curiga, namum Edo terus mendesak dan memberi semangat.


Tok ... tok, berkali-kali pintu terus kuketuk, dan lama sekali respon Salwa untuk segera membukanya.


Ceklek, akhirnya pintu dibuka juga.


"Kamu?" kekagetan Salwa baru membuka sedikit pintu.

__ADS_1


Merasa heran saat dia hanya mengintip.


Braaak, belum sempat pintu dibuka sepenuhnya dan mengeluarkan suara, dengan kuatnya Salwa menutup kembali pintu itu, mungkin sudah merasa ketakutan atas kedatanganku.


Klek ... klek, suara kunci pintu diputar Salwa.


"Buka Salwa ... buka. Brook ... brok ... brook," kugebrak pintu secara kuat, sebab pintu sudah dikunci dari dalam.


"Kita dobrak saja, Adit!" suruh Edo memberi ide.


"Baik, Ayo."


Kami berdua sedang berusaha mendobrak pintu, yang tidak peduli lagi dengan keadaan tubuh. Rasa sakit dan ngilu sudah datang, akibat berkali-kali dibenturkan dipintu. Tetap berusaha, walau tenaga terkuras dan peluh mulai mengalir perlahan dari kening.


"Lebih kuat lagi, Edo! Pasti kita bisa membukanya," suruhku.


Gradaak, akhirnya pintu sudah terbuka lebar, yang sekarang sudah rusak di bagian knop pintu.


"Salwa, dimana kamu? Keluar kamu Salwa, jangan bersembunyi kamu!" teriak-teriakku melengkingkan suara.


"Ana? Kamu dimana Ana?" teriak Edo juga.


Berputar-putar ke sekeliling rumah untuk mencari keberadaan mereka.


Sudah berkeliling mancari kemana-mana, tapi tidak kelihatan sama sekali batang hidung Ana dan Salwa nampak dirumah ini.


"Gimana, Adit?" tanya Edo yang kebingungan dan khawatir.


"Tidak ada. Sudah kucari dari sudut ke sudut, tapi sepertinya mereka tidak ada! Apa jangan-jangan mereka sudah kabur saat kita masuk tadi?" jawabku yang juga bingung.


"Seperti itu tidak mungkin, Adit. Sebab tidak ada jalan lain selain pintu depan. Kalau lewat belakang sekalipun pasti bersimpangan dengan kita tadi," Dugaan Edo.


"Eeh, kalian ini siapa? Kenapa bisa masuk ke rumah ini seenaknya," keluh pembantu Salwa.


Didekat sofa aku dan Edo saling menatap kebingungan.


"Bibi jangan halangi kami. Sekarang katakan dimana majikan kamu."


"Ee'eeh, saya tidak tahu."


"Jangan bohong kamu. Bik. Dimana Salwa dan wanita yang dia culik. Sekarang beritahu kami jika Bibik tidak ingin terseret dalam masalah ini," ancam Edo.


"Duh, jangan Tuan. Saya tidak tahu apa-apa tentang masalah ini, jadi jangan libatkan saya."


Bahasa tubuh terbaca mulai tidak tenang. Menangkap kalau dia tidak ingin memberitahu, namun jika tidak mengakui maka akan terancam. Kepala tetunduk, sambil ujung baju diremas-remasnya.


"Maka dari itu beritahu kami dimanakah majikan kamu," paksa.


"Iii-ii-tttuh, Tuan."


Dengan perlahan jari telunjuk mengarah kearah atas lantai dua. Memang kami belum memeriksanya. Akibat terlalu panik sampai lupa kalau kamar Salwa ada diatas. Yakinlah sudah, kalau Ana pasti dikurung disitu.

__ADS_1


Aku dan Edo langsung berlari menuju kamarnya. Terkunci, dan terdengar senyap. Ada keraguan apakah benar Ana dibawa ke situ, tapi dugaan begitu kuat selain akibat keterangan pembantu, juga kejanggalan pintu tertutup rapat dari dalam.


__ADS_2