
Walau lukaku belum sembuh benar, kini aku sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, dengan menjalani berobat jalan. Disamping itu alasan utama aku ingin cepat pulang adalah sangat merindukan puteri kecil, yang berminggu-minggu sudah lama tidak bertemu.
"Assalamualaikum," salamku yang memasuki rumah mertua, bersama dengan mas Adit.
"Walaikumsalam," sahut Mama dari dalam rumah.
"Alhamdulillah, yang ditungu-tunggu ternyata sudah datang."
Mertua menghampiri kami, dan langsung saja tangan punggungnya kucium.
"Gimana keadaanmu?" tanya beliau.
"Alhamdulillah, agak mendingan, Ma!
Kami duduk disofa ruang tengah. Rumah beliau begitu adem dan nyaman.
"Buntuin jaga Ana sebentar, Ma. Aku mau bawa masuk pakaian-pakaian kotot ini masuk ke dalam dulu," ucap Mas Adit meminta izin.
"Emm," jawab mama.
Kutatap punggung mas Adit dari belakang, dia semakin tak menampakkan batang hidungnya, saat sudah berlalu pergi menghilang begitu saja. Padahal mau meminta bantuan sebentar, untuk mengambilkan air putih. Tenggorokan terasa kering sekali.
"Mana Aliya, Ma?" imbuhku.
"Dia sedang tidur dalam kamarnya," jawab beliau ramah.
"Gimana dengan luka kamu? Apa masih ada yang sakit?"
"Masih sakit sih, Ma! Tapi tak terlalu, masih bisa kutahan," ujarku menjelaskan.
"Kamu harus hati-hati dengan lukamu itu! Jangan melakukan kerjaan dan hal-hal yang berat-berat dulu," nasehat beliau.
"Baik,Ma. Akan kulakukan semua pesan Mama."
Sebentar melakukan obrolan, sebab beliau sedang sibuk juga sama urusan keperluan Papa mertua, yang kebetulan sedang dirumah akibat cuti kerja.
Kaki sudah masuk ke dalam kamar Mas Adit, dengan badan sudah terbaring dikasur yang empuk dan nyaman.
"Kamu istirahatlah, aku mau kekantor dulu," Meminta izin.
Kelihatan buru-buru dengan tangan sibuk membenahi dasi.
"Baik, Mas. Kamu hati-hati dijalan," pesanku saat kening sudah dapat kecupan.
"Istirahat disini saja, oke! Awas kalau ketahuan mengerjakan hal-hal yang berat," Peringatannya.
"Siip dah, Mas! Sudah berangkat sana, nanti keburu Rudi menunggu lama."
"Iya, sayang."
Lelah yang mendera tidak sempat untuk mengantarnya. Tidak masalah, sebab Mas Adit tahu jika aku masih dalam tahap pemulihan.
__ADS_1
*********
Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas saat membuka mata mas Adit sudah tertidur lelap berada disampingku. Mungkin akibat efek minum obat, jadinya tidurkupun terlalu nyenyak, sehingga tidak menyadari dama sekali kalau mas Adit sudah tidur sekasur denganku.
"Duh, jam berapa sih ini?" Melihat gawai diatas nakas.
Ternyata sudah hampir pagi. Tepat jam empat. Tidak terasa jika mata begitu lama terpejam.
Suara azan shubuh sudah begitu mengema terdengar ditelinga, sehingga mata yang sempat terpejam, kini harus terbuka untuk menjalankan semua perintah ibadahNya. Setelah melakukan sembahyang dua rokaat, matapun enggan tidur kembali, membuat langkah kakiku sekarang terpaksa menuju dapur.
"Pagi, Bik!" Sapaku pada pembantu mama.
"Eeh, Non Ana. Pagi juga, Non!" Balik sapa bibi pembantu.
"Masak apa'an, Bik?" tanyaku.
"Masak opor ayam, sambal goreng tempe, sama mau goreng telur aja, Non." Beliau masih sibuk sama wajan yang dipegang.
"Aku bantuin, ya!" tawarku.
"Ee'eh, tidak usah, Non. Nanti nyonya besar marah. Lagian Non Ana lukanya belum sembuh betul," tolaknya.
"Gak pa-pa, Bik. Yang luka belakang badanku, bukan tangan jadi masih bisa membantu kamu," penjelasanku yang masih ngotot.
"Tapi, Non. Duh, gimana ya!"
Beliau sangat ragu. Mimik wajah sudah memberi isyarat tidak enak.
"Tenang saja. Kalau nyonya besar marah. Saya nanti yang tanggung jawab," ujarku yang ngeyel ingin tetap membantu.
Tanpa ucapan lagi bibi pembantu pasrah begitu saja, saat diriku membantunya memasak sarapan pagi.
"Pagi, sayang!" sapa Mama yang mengagetkanku.
"Pagi juga, Ma!" balik sapaku.
"Pagi-pagi kamu kok sudah masak, luka kamu belum sembuh betul lho itu!"
"Gak pa-pa, Ma! Ana sudah punya suami dan ini adalah kewajibanku. Lagian habis sembahyang tadi, mataku benar-benar tidak bisa tidur lagi. Daripadan gak ada kerjaan jadi Ana bantu-bantu didapur," terang dengan santai.
"Ooh. Sudah ... sudah, biar mama ganti'in untik membantu bibi. Kamu istirahatlah dulu. Oh ya, bangunkan Adit pagi ini, sebab katanya tadi malam dia pagi-pagi harus berangkat ke kantor," suruh Mama.
"Benarkah, Ma? Kok ngak ada bilang. Ya sudah, aku bangunkan mas Adit dulu, Mama beneran gantiin Ana bantuin bibi."
"Iya, pasti. Kamu pergilah sekarang," perintah beliau.
"Iya."
Tanpa banyak kata lagi, langsung saja kakiku melangkah menaiki anak tangga menuju kamar tidur kami.
Kulihat mas Adit masih tertidur lelap, yang masih berbalutkan selimut yang hangat. Akupun tak membuang-buang waktu untuk menghampirinya dan duduk disampingnya, supaya bisa menatap wajah mas Adit dari dekat.
"Waaah, sungguh perfeck sekali ketampanan pujaan hatiku ini! Gak salah Mama telah menjodohkannya untukku," gumanku dalam hati terkikik pelan, saat menatap lekat-lekat wajahnya.
Perlahan aku mulai mengangkat tanganku mencoba membelai wajahnya perlahan-lahan.
__ADS_1
"Masih halus, putih lagi!" Hati terus merancau mengaguminya.
Tapi seketika tanganku ditahan oleh tangan mas Adit, dia terlihat membuka matanya secara tiba-tiba akibat belaian tanganku. Sejenak kemudian mata mas Adit sudah memicingkan matanya, akibat menatapku yang sudah dilanda grogi, akibat keterkejutan sudah ketahuan atas kelakuanku.
"Ana sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya mas Adit yang sudah bangkit dari tidurnya.
"Gak ada apa-apa, Mas!" kilahku.
Makin bringsut saja. Sungguh memalukan.
"Bohong kamu 'mah! Lihat saja wajahmu sudah bersemu memerah gitu," tebaknya saat menatap wajahku penuh curiga.
"Masak sih, Mas! Beneran gak ada apa-apa kok," jawabku sudah memalingkan muka.
"Beneran sayang," mas Adit sudah membelai wajahku pelan, dengan cara menghadapkan lurus pada wajahnya sekarang.
"E'eh, ngak ada."
"Suhu wajahmu panas. Lagi bersemukah ini?"
Cuup, secara kilat dia melayangkan ciuman ke bibir mungilku.
"Mas Adit!" ucapku kaget.
"Hahahaha, kenapa? Gak boleh 'kah? Itu hukuman kamu karena diam-diam menatap wajahku," Dengan gamblang telah memberitahu jika sudah mengetahui.
"Siapa juga yang menatap wajah kamu. Iiiihh, pede amat jadi orang," Kekesalanku berkata sambil mencoba mengalihkan alasan.
"Beneran apa yang kamu ucapkan barusan?" ujarnya yang mendekatkan wajahnya lagi, yang hanya menyisakan beberapa centi dari wajahku.
"Emm, bbb-ben-ar, Mas!" jawabku grogi.
"Ataukah perlu aku mencium kamu lebih lama lagi? Biar kamu mengaku apa yang kamu lakukan barusan," ancamnya.
"Iiih, apaan sih! Pagi-pagi sudah bawaannya panas aja," ketusku berkata yang langsung berdiri menghindar dari tubuh mas Adit.
"Hahahaha, memang itu yang kumau. Pagi-pagi dingin begini enaknya 'kan sedikit hareudang," ungkapnya yang tak tahu malu.
"Dasar manusia berotak mesum," ketusku menjawab.
Kini aku sudah bersiap-siap pergi, mengambil handuk dan baju kimono yang berbahan seperti handuk juga.
"Kamu mau kemana?" tanya mas Adit.
"Mau mandilah, tadi habis bantuin bibi masak didapur. Gerah rasanya, jadi aku mau mandi," jawabku.
"Ikut!" teriaknya meminta.
"Gak boleh," balasku menjawab.
"Haiiis, aku beneran mau ikut mandi sama kamu," regeknya seperti anak kecil.
"Apaan sih, Mas! Mandi sendiri sana nanti, 'kan bisa. Dasar suami ngak bisa terhindar dari otak ngeres," jawabku kesal yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Tapi aku maunya mandi sama kamu. 'Kan enak pagi-pagi berpikiran kayak gitu, apalagi kamu bisa menyabuni kulit mulusku ini," Dia yang ingin ngeyel yang ternyata sudah menyusulku.
"Haaaiiiist, dasar pria mesum. Dibilang ngak boleh ya ... ngak boleh, awas kalau ikut masuk kemari. Kulempar batu, mau 'kah!" ancamku dengan memberikan kepalan tangan padanya.
__ADS_1
"Hahhahah, dasar istri pelit. Suami minta mandi bareng gak diizinkan. Sadis amat jadi cewek," Suaranya teriak-teriak ketika pintu sudah kututup rapat.
Setelah masuk ke kamar mandi, diri inipun kembali mengingat apa yang kulakukan tadi, membuatku kini tersenyum-senyum tergelitik geli, akibat membayangkan tingkah-tingkah suami yang konyol dan mesum.