
Nyaman juga tidur dalam pesawat. Walau perjalanan cuma beberapa jam ternyata terasa lama juga.
"Sekarang tujuan yang anda tuju telah sampai. Kami mohon untuk mengencangkan sabuk pengaman, dikarenakan sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara xxx, dengan tujuan terakhir di negara Singapura," Pengumuman suara pramugari.
Akupun yang tertidur pulas akibat enaknya merasakan dingin ac di dalam pesawat, kini telah bangun tiba-tiba akibat pengumuman itu.
"Mas ... Mas, bangun!" ucapku membangunkan.
"Eh ... eeh, iya. Ini sudah bangun," jawabnya antara sadar dan tidak, mungkin akibat masih mengantuk.
"Kita sudah hampir sampai, nanti tolong ambil tasku yang ada di tempat penyimpanan tas," suruhku.
"Emm, baiklah!" jawab mas Adit lemah, yang masih memejamkan mata.
Tak butuh waktu lama, pesawat kini sudah mendarat secara perlahan-lahan dengan selamat.
"Adit sampai ketemu lagi dilain waktu, ya! Kalau kita berjodoh pasti akan bertemu kembali," ujar si perempuan Nola, yang sudah antri ingin keluar.
"Iya, semoga saja. Kamu hati-hati," simbatan mas Adit.
"Ciiih, dasar janda yang sudah keriput seperti tante-tante, masih saja mencoba mengoda. Apa tidak lihat disini ada istrinya," gumanku dalam hati merasa kesal, tanpa mas Adit mendengarnya.
Akibat hati gondok dan kesal, selama keluar dari bandara dan sekarang menaiki taxipun diri ini hanya diam seribu bahasa, tidak ada percakapan sama sekali pada mas Adit.
"Kamu kenapa, sayang? Mukanya dari tadi kok kelihatan ditekuk begitu?" tanyanya.
Tanganku sudah bersedekap didada, dengan tubuh sedikit melorot untuk merebahkan badan disandaran kursi taxi.
"Aku baik-baik saja," jawabku sambil pura-pura memejamkan mata.
"Kamu bohong," ucap mas Adit, dengan tangan sudah mengelus pipiku.
__ADS_1
"Beneran, Mas! Aku baik-baik saja. Mungkin ini efek naik pesawat yang baru pertama kali, jadi badan sedikit terasa tak enak dan sedikit pegal-pegal," jawabku berusaha menjelaskan, supaya Mas Adit tak bertanya aneh-aneh lagi.
Mengalihkan pembicaraan agar dia tidak tahu jika sikapnya cukup berlebihan sama janda itu.
"Ooh ya, sudah. Kalau begitu nanti saat sampai dihotel, kamu langsung istirahat saja," celoteh Mas Adit yang masih berusaha mengajakku berbicara.
"Eem."
Entah mengapa rasanya malas sekali berbicara dengan suami. Hati terasa benar-benar kesal akibat dia mencuekkanku didalam pesawat tadi, dan dia lebih mementingkan si janda genit yang bernama Nola tadi.
Langkah terus saja berjalan maju, dengan tangan sibuk menyeret koper. Sedangkan Mas Adit sibuk check-in, dan mau mengambil kunci kamar kami, yang mana kamar hotel sudah dipesan terlebih dahulu oleh mama mertua.
Mata terus saja berkeliling melihat pemandangan hotel, yang terlihat bersih dan mengkilapkan bangunannya, mungkin semua kemewahan hotel itu disebabkan karena memang hotel berbintang kelas atas.
Tenggorokan terasa haus sekali saat duduk dibangku yang disediakan hotel. Ketika masih menunggu suami yang belum selesai-selesai juga melakukan check-innya. Seteguk demi seteguk air telah mengalir dari tenggorokan, dan itu sudah terasa segar masuk kedalam perut.
"Uhuk ... uhuk," Suara batukku keselak air putih.
"Kamu kenapa, sayang? Kok belepotan air minum gitu?" ucap mas Adit yang sudah menghampiriku.
"Heheheh, gak pa-pa, Mas. Tadi cuma tersedak ketika minum saja," jawabku yang lansung mengelap mulut dengan tisu.
"Makanya hati-hati. Minum saja kayak anak kecil begini. Basah semua 'kan!" Tangannya sibuk membantu mengelap baju yang basah.
Mata terus saja terbelalak tak suka, saat perempuan si Nola itu mulai dekat ... dekat, dan lebih dekat lagi menghampiri kami, yang mana mas Adit tak mengetahuinya akan kedatangannya, sebab sedang berhadapan berbicara padaku.
"Iiih, sial. Pasti janda itu mau ke sini?" gerutuku tak senang dalam hati.
Dan ternyata benar saja, langkahnya semakin lama semakin dekat saja ke arah kami.
"Hai Adit," sapa Nola pada suamiku.
__ADS_1
"Eeh, iya! Kok?" jawab mas Adit yang langsung menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
"Kak Nola, kamu? Kok-?" Suami kelihatan terkejut.
"Kalian menginap dihotel ini juga?" tanyanya yang membuatku tak senang.
"Eeh, betul itu! Kamu juga nginap disini?" tanya mas Adit yang sumringah tersenyum.
"Iya Adit. Wah, nanti aku bisa kangen-kengenan ngobrol sama kamu nih!" basa-basinya berkata.
"Wah ... wah, benar ... benar banget itu, Kak!" jawab mas Adit dengan gembiranya.
"Sini! Mana kuncinya? Aku mau ke kamar dulu, capek banget rasanya nih!" ucapku sewot dengan tangan menengadah meminta kunci
"Sebentar dulu, sayang. Aku mau menyapa dan ngobrol sebentar sama kak Nola."
Jawaban yang tidak diinginkan. Semakin membuat kesal saja. Kelihatan mulai ganjen lagi sikap suami.
"Ayo cepetan, mana ... mana?"
"Sebentar saja."
"Cepat, pusing banget kepalaku, tahu!" Suaraku yang melengking meminta.
"Ya ampun, ngak sabaran betul sih," gerutu mas Adit tak suka.
"Aaah, kamu banyak ngomong betul sih, Mas! Kasih kunci saja apa susahnya sih, banyak ngoceh melulu dari tadi," ucapku yang sudah kesal dengan menghentakkan kaki.
"Tapi sebentar saja, sayang. Tidak enak sama Kak Nola yang sudah menyapa kita."
__ADS_1
"Dih, ya sudah. Lanjutkan urusanmu itu. Ngak tahan sama kepala yang pusing lihat keganjenan," sindirku.
Tanpa kudapatkan kunci kamar, kaki langsung melenggang pergi meninggalkan mas Adit yang sedikit terbengong-bengong, atas sikapku yang sedikit marah.