Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Tak kunjung jua kutemukan


__ADS_3

"Ahhhh ... ahh, sial." Kekesalanku yang terus saja memukul setir kemudi mobil, akibat kesal tak dapat mengetahui keberadaan Karin.


Sudah seminggu Karin menghilang dan aku tidak tahu kabarnya, apakah dia masih hidup ataukah sudah meninggal.


"Ya Allah, apabila dia masih hidup? Berilah hamba petunjuk untuk segera menemukannya, tapi jika dia sudah meninggal tunjukkan dimanakah kuburan maupun jasadnya sekarang," Doaku dalam hati sudah berlinang airmata.


Kuusap pelan airmata dengan segera biar orangtua tidak mengetahuinya, sebab tidak ingin mereka bertambah khawatir. Berat badanpun kini mulai turun dratis, tak ada nafsu makan dikarekan terlalu kuatnya pikiran memikirkan Karin.


Langkah begitu lemahnya saat ingin menginjakkan tanah. Tulang-tulang terasa ingin terlepas dari persendian. Entah sudah berapa langkah diri ini menyusuri jalan, rasanya langkah sudah tak kuat lagi untuk menapakki bumi. Padahal jarak dari mobil sampai rumah tidak terlalu jauh hanya 20 langkah saja sudah sampai, tapi berhubung rasa semangat yang tak bergairah, membuat diri inipun terpaksa terhenti untuk melangkah, yang akhirnya akupun terduduk lemas di emperan rumah, dengan tatapan kosong melihat ramainya jalanan yang sudah banyak mobil berlalu lalang.


"Adrian bagaimana?" tanya Mama yang sudah menghampiriku tengah duduk melamun.


"Masih sama, Ma!"



"Sampai sekarang tidak ada kemajuan tentang kabar Karin," jawabku dengan bibir sudah bergetar, diiringi mata mulai berkaca-kaca.


"Kamu harus sabar dan jangan berhenti menemukannya," ucap Mama memberi semangat, sambil menepuk bahuku dengan pelan.


"Bagaimana Adrian mau semangat, Ma! Jika petunjuk keberadaannya saja tidak ada sama sekali," keluhku merasa putus asa.


"Mama tahu Adrian, kamu begitu frustasi. Tapi disebalik itu semua, mama yakin Allah akan menunjukkan jalan, sebab Allah maha diatas segala-galanya. Allah tidak akan pernah membuat umatnya menerima cobaan melebihi batas kemampuan umat itUK sendiri, sebab kamu dan Karin kuat menghadapi maka Allah memberi cobaan ini pada kalian," nasehat Mama.


"Iya Ma, Adrian akan berusaha lebih bersabar dan mencarinya lagi."


Shok, sedih, binggung, kini telah tercampur aduk semuanya jadi satu dalam perasaanku.


Mama dari sembari tadi hanya bisa berdiam ikutan duduk disampingku, yang mencoba berusaha menenangkan dengan semua nasehat dan kata-kata semangatnya.


"Kamu harus kuat, lebih tenang dan bersabar. Ingat anakmu Naya yang harus kamu perhatikan juga," ucap beliau mengingatkan.


"Iya, Ma."


"Sekarang masuklah ke rumah, tidak enak dilihat orang duduk termenung disini. Nanti hiburlah Naya dengan memberi semangat dan alasan yang tepat, sebab dia terlihat begitu sedih sampai beberapa hari ini tidak mau ke sekolahan," imbuh perkataan mama.


"Iya, Ma!" jawabku lesu.


Sampai didalam rumah, kami duduk kembali diruang tamu. Mama sudah melangkah ke dapur, lalu kembali dengan tangan membawa segelas air putih.


"Adrian, kamu minumlah dulu!" kata Mama sambil menyodorkan air yang dibawa beliau barusan.


"Terima kasih, Ma!" jawabku sambil mengambil air yang berada ditangan Mama.


Air itu sampai tandas kuminum, kemudian kuletakkan gelas yang kupegang tadi diatas meja. Badan terasa sangat lelah sekali, yang ditambah juga dengan pikiran kacau dan pusing.


"Ya Allah, aku mohon. Kabulkanlah permintaanku sekarang. Berilah petunjuk bagaimana aku harus mencari Karin lagi," Doaku dalam hati dengan wajah termenung kembali.


"Kamu jangan bersedih begitu, Adrian. Mamapun jadi ikut bersedih melihat keadaanmu yang kacau begini!" cakap Mama saat melihat mataku sudah sedikit mengeluarkan air bening.


Rasanya pikiran dan hati sudah tidak kuat, akibat menahan kesedihan dan cobaan ini.


"Kamu harus kuat. Mama yakin, kita secepatnya akan menerima kabar baik tentang, Karin!" Imbuh beliau yang sudah menitikkan airmata pulak.


"Amin, Ma."


"Mama jangan menangis juga," ujarku sambil menghapus airmata beliau.


"Mama ngak pa-pa kok, Nak."

__ADS_1


"Makasih, Adrian. Mama merasa tidak tega saja, melihat keadaanmu yang terus-menerus seperti ini!" ujar beliau sambil mengelus-elus bahuku.


"Mama tenang saja, aku adalah anak kuat. Dulu Adrian pernah diposisi seperti ini, bahkan lebih lama kehilangan Karin," Kata-kataku berusaha memecah kesedihan diantara kami.


"Dulu beda kasusnya, Nak. Karin pergi ada yang menolongnya. Sekarang dia pergi entah siapa yang menemani," lesunya jawaban Mama.


"Jangan bersedih lagi Ma, oke!" ujarku balik memberi semangat.


"Adrian tidak tahu bagaimana untuk mulai mencari? Rasa-rasanya semua sudah buntu tidak ada satu petunjuk sama sekali," Perkataan lirih sudah frustasi.


Aku mendengar suara langkah kaki dari arah pintu, dan ternyata Chris dan bapak Karin yang datang.


"Assalammualaikum," salam Bapak dan Chris.


"Waalaikumsalam," jawab Mama dan diriku secara bersamaan.


"Duduk Pak, Chris!" jawabku mempersilahkan duduk.


Chris sudah duduk dikursi tepat didepanku dan bapak duduk tepat disamping, dimana beliau sudah mengeluarkan sapu tangan yang ada dalam kantong baju, setelah itu mengelapkan kewajahnya yang sudah ada peluh keringat.


"Saya tinggal dulu kebelakang."


"Oh, iya."


"Bagaimana Adrian? Apakah kamu sudah ada kabar tentang Karin?" tanya bapak angkat padaku.


"Belum, Pak. Masih sama hasilnya, tidak ada petunjuk sama sekali," jawabku lesu.


"Kalau Bapak gimana?" balik tanyaku.


"Sama, Adrian."


"Entahlah, aku dan Chris sudah bertanya ke semua tetangga rumah kami kalau-kalau ada yang melihat, tapi juga masih sama tidak ada petunjuk," jawab bapak sudah putus asa juga.



"Heeeh, mungkin kita harus lebih teliti dan bersabar untuk mencarinya," desahku pasrah.


Kami bertiga diam sejenak, tak ada percakapan lagi diantara kami. Sedangkan Mama sudah pergi yang sepertinya menuju dapur.


"Hei Pak, hei Adrian!" sapa Yona yang tiba-tiba datang.


"Hei juga, Yona!" jawabku lemah.


"Iya, Yona!" Giliran jawab bapak juga.


"Mana, tante?" tanyanya.



"Sepertinya tadi pergi ke dapur, Kenapa?" jawabku sambil bertanya.


"Ooh, ngak pa-pa. Cuma nanya saja."


"Kalian ngobrol 'lah, aku sama Chris mau pamit pulang dulu. Ayo Chris, kita pergi!" pamit bapak mertua sambil mengajak Chris.


"Iya pak," jawab Chris.


"Kalau ada kabar mengenai Karin langsung hubungi kami."

__ADS_1


"Emm, tentu itu."


"Kalau begitu kami pamit."


"Baiklah. Hati-hati dijalan."


Setelah bapak dan Chris pergi, wajahku sudah melamun lagi akibat pikiran sudah tak bisa diajak kompromi lagi.


"Wajah kamu kok samakin kacau begitu, Adrian?" tanya Yona yang aneh.


"Kacau gimana?" tanyaku penasaran.


"Ya kacaulah, semakin kelihatan kurus dan tak terurus begitu!" respon Yona khawatir.


"Memang patut aku kacau, sebab pikiran dan hati sedang binggung memikirkan keberadaan Karin dimana sekarang," penjelasanku.


"Karin lagi ... Karin lagi. Memang tidak ada hal lain yang kamu pikirkan selain dia," nyolotnya suara Yona seperti orang yang sedang tidak senang.


"Apa maksudmu?" tanyaku pura-pura penasaran, sebab ada keanehan dari ucapannya barusan.


"Ya, wajarlah aku khawatir, sebab dia wanita berharga dalam hidupku.


"Eee ... eeh, enggak kok!" jawabnya kikuk.


"Maksud kamu apa, barusan? Kok bicara kamu aneh begitu?" tanyaku sedikit curiga.


"Gak kok, Adrian. Maksudku adalah kamu tidak usah memikirkan Karin terlalu dalam begitu, 'kan ada orang lain yang harus kamu pirkirkan, contohnya ya Naya anak kamu itu," penjelasannya dengan senyum kecut seperti tak ikhlas.


"Ooh."


Hatiku kini bertanya-tanya, apakah ini semua ada kaitannya dengan Yona. Dan lebih anehnya lagi, beberapa hari ini Yona selalu berkunjung menemuiku, dengan alasan ingin bertandang saja. Tak mengapa dia datang dan ada niatan baik bersilaturahmi, tapi sikapnya itu agak terlihat aneh dan aku sudah ada sedikit curiga padanya, sebab tidak biasa-biasanya Yona sering berkunjung berlebihan begini.


Aku sebenarnya tidak mau berburuk sangka terlalu dalam padanya, tapi kecurigaanku begitu kuat dan ada gelagat-gelagat aneh pada Yona.


"Ya sudah, aku pergi saja. Takutnya menganggu kamu yang dalam keadaan mood tidak baik."


"Emm, hati-hati dijalan."


"Oke, bye ... bye."


"Sipp, bye .. bye."


Tangan sudah melambai lemah ke arah Yona.


"Ada apa, Adrian?" Mama bertanya setelah kepergian Yona.


"Gak ada apa-apa, Ma! Cuma itu tadi Yona ada bertandang sebentar mampir kesini. Tapi perasaanku ada yang aneh dan menganjal terhadap dia. Emm, pastinya sedikit curiga padanya," penjelasanku.


"Kok sama sepikiran kamu dengan mama, ya! Aku begitu curiga juga sama dia. Yang buat mama aneh, bukankah selama ini dia sangat membenci Karin, tapi akhir-akhir ini setelah Karin menghilang dia jadi ramah dan baik, sok akrab sama kita. Apalagi sama anak kamu, dia rela membawa oleh-oleh membelikan mainan dan baju," ujar mama yang juga merasa curiga.


"Iya ... yah, Ma! Adrian telah lama mengenal Yona. Oh iya, aku baru teringat. Dia itu kalau benci sama orang, tidak bisa baik lagi pada orang yang dibencinya. Tapi ini kok baik sekali dan ingin berteman, aneh?" ujarku dengan mimik wajah berpikir keras, atas keanehan sikap Yona.


"Kita patut mencurigai dan berhati-hati padanya. Mungkin saja dia akan bisa berbuat kejam, akibat sebuah kekesalan dan dendam yang terpendam," pesan perkataan Mama.


"Iya, Ma. Kita harus berhati-hati padanya. Aku akan mencoba menyelidikinya, sebab siapa tahu masalah ini berkaitan dengannya," tebakku.


"Baiklah, Adrian."


"Pesan Mama kamu harus berhati-hati saja saat pencarian Karin, sebab kita tidak tahu lawan kita itu siapa? Kemungkinan besar bahaya akan mengancam kita sewaktu-waktu," imbuh ucap Mama.

__ADS_1


"Baik, Ma. Pasti itu."


Apa yang dikatakan Mama ada benarnya. Mulai sekarang aku akan menyelidiki Yona, dengan cara mulai dari pertama mengintai rumahnya. Sebab siapa tahu ada petunjuk, dikarenakan sudah semua tempat dicari dan hanya rumah Yona saja yang belum.


__ADS_2