Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2 =Istriku Yang Hilang>> Hanya sebuah luka bikin suami manja kebangetan


__ADS_3

Begitu tak teganya rasa hati saat melihat wajah suami sudah babak belur. Hanya senyuman manis yang dia berikan saat ini, yaitu menyembunyikan bahwa dia sedang baik-baik saja saat ini. Habis perkelahian mas Adit dengan Edo, dengan penuh keterpaksaan aku menyuruhnya menginap dirumah kos tempat tinggalku, untuk segera mengobati luka diwajah yang penuh memar.


"Silahkan masuk, Mas!" perintahku.


"Terima kasih."


Langkah sudah masuk diambang pintu dengan wajah menatap keheranan.


"Adit, kamu kenapa?" sambut Bapak merasa khawatir.


"Aku gak pa-pa, Pak! Tadi ada kecelakaan perkelahian kecil saja," jawaban santai.


"Oh, ya sudah. Tapi kamu beneran baik-baik saja 'kan?" Bapak masih tidak percaya.


"Benar, Pak. Aku baik-baik saja, kok."



"Ya sudah kalau begitu. Bapak mau ke kamar dulu. Obati lukanya, Ana! Kasihan, sudah memar-memar begitu." suruh beliau.


"Iya, Pak!" jawabku.


Beliau telah melenggang pergi, hilanglah sudah dari pandangan kami.


"Duduklah dulu, Mas! Aku akan mengambil obat dulu," suruhku.


"Heem."


Tak butuh lama aku mengambil kotak obat, dan kini sudah kembali sambil membawa segelas teh hangat, agar bisa meredakan ketegangan yang sempat menderanya, serta rasa haus biar seketika hilang.


"Diminum, Mas."


"Oh iya! Terima kasih.


"Sini aku obati!" perintahku supaya Mas Adit mau mendekat.


"Hmm."



Awalnya dia berdiri tegak, sambil netra tak lepas menyapu seluruh ruangan dirumah.


"Sheeess. Aww ... aaw," Mulut Mas Adit berdesis akibat olesan obat.


"Pelan-pelan donk, sayang! Mengoleskan obatnya. Jangan terlalu kuat-kuat, sakit banget nih!" ocehnya.


"Ini sudah pelan-pelan, Mas! Mungkin bibir Mas Adit saja yang diujung itu sedikit pecah, jadi rasanya perih," penjelasanku.


"Iya aku tahu, tapi tolong pelan-pelan, beneran pedih banget, nih! Kalau kamu kuat-kuat, tambah parah lukanya gimana? 'Kan kamu juga yang rugi, sebab kalau sudah parah akut, bibir ini tidak bisa dipakai dan berguna lagi untukmu," celotehnya berbicara terus.


"Ya ampun, Mas! Banyak ngomong sekali kamu, mau diobati nggak?" tanya kesal.


"Iya ... iya, Anaku sayank! Jangan marah gitu dong," bujuknya.


Heehhh, hembusan nafas kasar.


"Ish ... sheees. Aww ... Aaa, pelan-pelan Ana," ucapnya lagi.


"Niiih, oleskan sendiri." Kutekan kuat-kuat pada bibir Mas Adit.

__ADS_1


"Hah."


"Pakai sendiri obatnya, nih!" ucapku lagi sambil obat kutaruh dilapak tanggannya.


Kini kedua tanganku bersedekap didada. Rasa kesal pada Mas Adit sekarang menghampiriku. Masih untung diriku mengobati luka dia. Bukannya terima kasih, masih saja berkeluh kesah dengan segudang godaan dan candaanya.


"Maaf deh, sayang! Tolong kasih obat lagi, ya ... ya! Dibibir masmu yang super sexy ini," pinta memohon sambil bibir di monyong-monyongkan.



"Diih. Makanya jangan banyak ngomong kalau di obati. Geram sekali rasanya pada kamu. Untung saja Mas adalah suamiku, kalau bukan tidak mau aku mengobatinya. Biar membusuk sekalian bibir itu," kemarahan berucap.


"Ya ampun, sadis bener ucapanmu," tak sukanya dia atas ucapan barusan.


"Habisnya Mas Adit ngeselin, sih."


"Iya ... iya. Aku minta maaf dan terima kasih, ya!" ucapnya dibarengi senyuman.


Entah mengapa diri ini sudah menuruti kemauan suami, padahal hati sedang kesal, sebal, gondok, dan marah sekali padanya, tapi mau nak berkata apa lagi, rasanya kasihan juga jika dia mengobati lukanya sendiri.


"Oh ya, Ana! Bagaimana dengan lukamu atas kekejaman Salwa tadi!" tanyanya.


"Alhamdulillah agak mendingan."


"Maafkan aku, Ana! Diriku benar-benar tidak tahu kalau Salwa akan berbuat senekat itu. Padahal aku sudah lama tidak ada kontak dengannya. Entah mengapa dia muncul begitu saja, dan langsung menganiaya kamu tadi," nada lemah Mas Adit merasa bersalah.


"Gak pa-pa, Mas! Kamu tidak usah merasa bersalah begitu. Mungkin Salwa melakukan itu semua pasti ada sebabnya," Kelegowoan hati.


"Oh ya, cinta mas Adit sudah kembali. Kelihatannya Mas Adit cukup tenang-tenang saja, nih. Kenapa tidak mau kembali bersamanya?" sindirku dengan berucap pura-pura polos.


"Heemm, entah."


"Memang kamu mau, Mas kembali padanya?Kalau kamu ingin aku kembali padanya ngak pa-pa juga, tapi aku harus menyelesaikan urusan cintaku padamu dulu, nanti baru akan kembali padanya," ucapnya berusaha mengoda, untuk memuncakkan emosiku lagi.


"Hahahaha," gelak tawanya puas saat melihatku marah.


"Gak kok, Ana! Cintaku sekarang cuma satu, yaitu cuma kamu seorang! Cuuuup," ucapnya sambil mendaratkan ciuman secara kilat dipipiku.


"Mas Adit," Mataku sudah terkejut melotot akibat tindakannya yang tiba-tiba.


"Hahahaha, bye ... bye." Sikap yang kurang ajar sudah lari dan kini tengah bersembunyi ingin masuk ke kamar bapak.


Diri ini hanya bisa tersenyum geli, atas tingkah suami yang seperti anak kecil.


Rasa sakit dihati yang sempat terukir, sedikit demi sedikit agak terasa mulai menghilang, akibat terpengaruh atas rayuan-rayuan dan gombalan mas Adit, yang kian hari kian mesra sehingga membuat hati kini kian selalu berbunga-bunga saja. Sekarang aku tidak begitu menyangka, sikapnya yang dulu begitu cuek dan tidak peduli padaku, kini telah berubah total menjadi lebih lembut dan penyayang.


Sekarangpun mata bisa terpejam dengan nyeyaknya, akibat rasa manis yang selalu mengiringiku, sebab rasa sayang mas Adit sekarang selalu nampak mulai tercurah untukku.


>>>>>>>


Suara burung berkicau dipagi hari, sangat merdu alunan nada suaranya. Mereka terus saja saling bersahutan, sehingga hati yang mendengarkannyapun terasa damai. Kini aku sedang disibukkan dengan rutinitas dapur, untuk menyiapkan sarapan bapak dan mas Adit.


"Pagi, Ana!" sapaan Mas Adit, yang sudah menarik kursi agar bisa terbuka lebar.


"Pagi juga, Mas."



Ketika menoleh ke sumber suara yang menyapaku, begitu tak tahannya aku untuk tidak tersenyum, tapi senyuman ini tidak begitu ketara, sebab sekuat tenaga kutahan agar mas Adit tidak bisa mengetahuinya.

__ADS_1


"Ada apa, Ana? Kok wajahmu seperti sedang tersenyum-senyum gitu?" tanyanya saat diri ini sudah menaruh piring untuknya.


"Gak ada apa-apa kok, Mas!" jawabku dengan kelembutan.


"Kalau benar ngak ada apa-apa, tapi wajah kamu kok sumringah aneh tersenyum-senyum begitu? Jangan bilang, kamu tertawa akibat aku memakai sarung dan kaos oblong bapak?" kecurigaannya bertanya.


"Gak kok, Mas! Walau kamu pakai baju itu tetap keren, kok!" jempol kuarahkan padanya.


"Keren sih keren, tapi ngak juga mentertawakanku gitu! Isssshh" ujarnya tak suka.


"Iya ... ya, Mas! Kuakui. Habisnya lucu sih Mas Adit memakai baju itu! Tak biasanya orang segagah kamu mau memakai baju itu," penjelasan.


"Kalau ngak terpaksa aku juga tidak mau. Masak orang seganteng dan terkeren sedunia gini, mau saja memakainya," kesombongan berkata.


"Ciihhh."


Kalau sudah keluar sombong, memang tidak bisa dilawan.


"Ada apaan, sih? Pagi-pagi sudah gaduh-gaduh," ujar Bapak sudah datang.


Beliau langsung bergabung dengan kami yang sedang sarapan, ketika beliau sudah siap dengan baju seragam kerjanya.



"Hehehe, itu Pak! Dari tadi Ana mengejekku terus, katanya aku jelek sekali memakai pakaian Bapak. Memang anak Bapak itu kurang ajar, ngata-ngatain baju bagus begini dikatain jelek," tuduhan membalikkan fakta.


"Apa itu benar, Ana?" tanya beliau sambil menyendok nasi.


"Ciiih, ngak kok, Pak! Mas Adit saja yang sudah nuduh-nuduh sembarangan," Kekesalanku berucap.


Bapak hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala.


"Niiih!" ucapku, sambil memberikan nasi goreng, berceplokkan telur mata sapi.



"Hehehee," Mas Adit sudah cegegesan.


"Kalian ini ada-ada saja. Pagi-pagi sudah ribut-ribut hanya gara-gara baju."


"Suapin dong, Ana!" Kemanjaan dia berucap.


"Mas Adit 'kan bisa makan sendiri," tolak halus.


"Mas 'kan lagi sakit. Masak tega membiarkan aku makan sendiri," ngelesnya.


"Ya ampun, Mas! Yang luka itu wajah bukan tangan. Ngak malu apa sama bapak?" Melirik ke arah bapak yang sudah tersenyum, akibat geli melihat tingkah anak kecil Mas Adit.


"Turuti saja, Ana! Bapak sudah selesai kok makannya, dan akan segera berangkat kerja sekarang," ujar beliau yang sudah berdiri.


"Iya, Pak! Hati-hati dijalan," Langsung mencium tangan punggung beliau.


"Kalian harus akur-akur. Jangan ada pertengkaran lagi. Oke, Nak Adit!" pesan beliau sebelum benar-benar keluar rumah.


"Pasti iti, Pak. Aku tidak akan bertengkar sama Ana," jawab nampak serius.


"Assalamualaikum," pamit bapak.


"Walaikumsalam," jawab kami serempak.

__ADS_1


Rasa manja pada diri mas Adit membuatku sudah tesipu malu, namun penuh kegirangan sebab orang yang dulu jauh dariku kini mulai dekat dan minta diperhatikan diriku. Akhirnya dia takluk juga dengan pesona dalam diri ini. Untung saja rasa cintaku padanya masih terjaga aman, tanpa melirik sedikitpun pada pria lain.


Perasaan tentang namanya, selalu terukir indah dihati dan benakku. Awal-awal pertemuan, hatiku sudah menabur rasa terhadapnya, tapi semua tak berjalan semulus yang diharapkan. Dan disaat-saat kami berpisah, rasa ketakutan akan kehilangannya begitu kuatnya, tapi ternyata Allah masih mendengarkan doa-doaku, yang menginginkan mas Adit tersadar akan rasa cintaku padanya.


__ADS_2