Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Penyelidikan Ala Detective


__ADS_3

Tanpa terasa obrolan kami, sudah membawa kami keluar dari perusahaan. Mata mencoba melihat kanan kiri, untuk mencari sosok sekertaris Rudi.


"Hei, sekertaris Rudi, sini!" panggilku dari kejauhan.


"Emmm," jawabnya melambai tangan.


Terlihat sekertaris Rudi sudah menaiki mobil mewahnya yang berwarna putih, dan tak butuh waktu lama, mobil itu sudah bertenger tepat berhenti didepan kami.


"Ayo cepetan masuk!" Perintah sekertaris Rudi dibalik kaca.


Aku dan Edo langsung saja masuk ke dalam mobil, dan sekarang diriku duduk dibelakang, sementara Edo duduk sejajar didepan dengan sekertaris Rudi.


"Kita sebenarnya mau kemana, Ana?" tanya sekertaris Rudi penasaran.



"Antarkan aku ke perusahaan xxx?" jawabku.


"Mau ngapain kita ke sana? Apa ngak berbahaya itu?" respon sekertaris Rudi seperti tak suka.


Dari kaca spion didepan, sekertaris Rudi melihat heran.


"Ya tentunya mau menyelidikilah, masak mau makan!" ketusku menjawab.


"Oke ... baiklah, tapi kita mengintainya dari jarak jauh saja, takutnya nanti ketahuan dan itu akan membahayakan kita," usulan sekertaris Rudi.


"Bener itu Ana, kita harus hati-hati sebab ini menyangkut seperti menyelidiki, atau memata-matai perusahaan mereka," Sahut Edo.


"Siip dah! Yang terpenting baik untuk keselamatan kita. Tak apalah kita mengawasi dari kejauhan," jawabku menyetujui.



Lama sekali kami bertiga menunggu didalam mobil, sampai rasa bosanpun telah menghampiri, tapi tetap tak ada gerak-gerik yang mencurigakan dari perusahaan mereka, yang ada hanya para karyawan yang lalu lalang keluar masuk.


"Sepertinya kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari pengintaian disini!" Keputusasaan Edo bercakap.

__ADS_1


"Iya Edo, kita kayaknya ngak menemukan apa-apa disini," simbatan sekertaris Rudi.


"Gimana, Ana? Kita sudah lama sekali menunggu disini? Tapi gak ada hal-hal yang mencurigakan sama sekali ditempat mereka," keluh Edo.


"Tunggu sebentaaaar saja. Kalau masih tak ada apa-apa, kita nanti pulang . Sebenarnya hatiku mengatakan, bahwa hari ini ada sesuatu yang dapat kita jadikan bukti dari perusahaan ini," ucapku meyakinkan mereka berdua.


Tak berselang lama, ada lima mobil box yang sedang berjalan pelan-pelan, saling sejajar dan saling mengikuti dari belakang.


"Lihat! Bukankah mobil box itu seperti pengiriman barang?" tunjukku.


"Iya bener, itu seperti mobil untuk mengirimkan barang," sahut sekertaris Rudi.


"Kita ikuti saja mereka, siapa tahu ada petunjuk yang dapat membantu kita, untuk memecahkan teka-teki semua ini!" usulku.


"Baiklah."


"Tapi dari jarak jauh saja kita mengikuti, jangan sampai ketahuan!" Perintahku pada sekertaris Rudi.


"Siip, Ana."


Perlahan namun pasti, mobil kami telah mengikuti mobil-mobil box itu dari kejauhan, yang sepertinya dari jalan yang dilalui akan menuju perusahaan mas Adit. Lama kami mengikuti, dan sampai pada akhirnya mereka berbelok ke arah lain, yang sepertinya menuju ke tempat jalanan yang sepi.


"Lihat ... lihat ... itu ... itu, tuh! Dari kejauhan dari arah berlainan, telah ada mobil 5 box juga?" tunjuk sekertaris Rudi.


"Apakah ini yang dinamakan pertukaran barang diam-diam," Mulutku yang tiba-tiba menebak.


"Wah ... bener ... bener, apa yang kamu katakan Ana. Keluarkan ... keluarkan ponsel, cepat ... cepat," ucap sekertaris Rudi gugup, sedang menyuruh kami.


Edopun secepat kilat sudah mengeluarkan handphonennya untuk merekam aktifitas mereka, yang kekihatannya sedang melakukan pertukaran pengiriman barang.


Klik, suara gawai Edo menekan tombol berhenti, tanda bahwa perekaman telah selesai.


"Yees ... yes, kita akhirnya telah berhasil merekam. Ini benar-benar keberutungan kita, ngak salah firasat kamu hari ini Ana," puji Edo.


__ADS_1


"Jangan terlalu senang dulu, sebab bukti ini masih belum kuat," ucapku.


"Benar kata Ana. Kita tidak boleh gegabah menunjukkan hanya satu bukti saja, kita harus cari banyak-banyak bukti lagi," usul sekertaris Rudi.


"Iya bener," setujunya Edo.


Kami bertigapun masih sibuk memperhatikan mereka, dan mata kami tak henti-hentinya terus menatap tajam ke arah mereka.


"Lihat ... lihat, ada orang yang keluar dari mobil merah itu! Coba kamu foto dia Edo, siapa tahu kita akan menambah barang bukti lagi, untuk mengungkap siapa dibalik dalang semua ini," suruhku.


"Baik, Ana."


Tangan yang memegang gawai siap memotret. Wajah kami bertiga begitu tegang dan antusias.


"Lebih dekatkan lagi layar kamera kamu, untuk mengambil fotonya," suruhku lagi.


"Emm."


Jepret ... jepret , gawai telah berhasil mengambil 3 buah foto.


"Coba ... coba, lihat sini Edo. Sepertinya aku pernah lihat orang ini! Tapi dimana, ya?" ujarku meminjam gawai Edo.


Lama sekali kepala berpikir memutar-mutar, untuk kembali mengingat siapakah orang yang ada di gawai Edo sekarang. Kuperhatikan lamat-lamat wajahnya, tapi otak tak kunjung jua bekerja, mengingat siapakah gerangan dirinya?.


"Aaahaaa ... aku baru ingat! Dia ini adalah orang yang bekerja diperusahaan mas Adit, dan tak sengaja pagi tadi aku telah menabraknya," penjelasanku.


"Benarkah itu? Wah ... wah, berarti dalam perusahaan ada mata-mata juga. Berarti aku harus segera memberitahu bos Adit, bahwa di perusahaannya ada orang-orang yang berniat jahat," sahut sekertaris Rudi.


"Bener itu sekertaris Rudi, kita harus memberitahu mas Adit," ucapku menyetujui.


"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Edo binggung.


"Kita ikuti mobil-mobil box itu, apakah benar akan dibawa keperusahaan mas Adit atau tidak? Takutnya kita nanti salah rekam, dan akan menjadikan boomerang bagi kita," ucapku memberi usulan.


"Baiklah, Ana."

__ADS_1


Akhirnya kamipun mengikuti mobil-mobil box itu, dan ternyata benar saja, mobil yang berisikan kain asli, kini telah disetor menggunakan kain yang telah ditukar.


Dan kami bertigapun dibuat geram dan kesal, sehingga secepatnya ingin melaporkan penyelidikan kami, kepada suamiku yaitu mas Adit.


__ADS_2