Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>> Teman Lama Yang Curiga


__ADS_3

Langkah kaki kini sudah terhenti disebuah taman, dengan bulir-bulir airmata yang tak henti-hentinya menetes.


Beban berat kini seakan-akan telah jatuh menimpa diriku. Rasanya batu berton-ton terkena badan, begitu berat sampai semua persendian melemah. Warna pelangi atas kebahagiaan yang sempat datang, kini hilang ditutup oleh awan, begitu hitam kembali.


"Maafkan ibumu ini, nak. Ibu benar-benar minta maaf tidak bisa membuatmu bahagia. Kamu jangan nakal, dan baik-baiklah disini sebab ibu telah gagal merawatmu dengan baik. Ayah sekarang tidak salah jika tak bisa merawatmu, dan janganlah engkau membencinya, sebab bukan dia tak sayang padamu, tapi dia sedang sakit dan dalam kondisi tidak baik yaitu melupakan kita," Kesedihanku dengan mengelus-elus perut yang masih rata.


"Kamu janganlah bersedih dan menangis, ya sayang. Cukup ibu saja yang menangis, kamu jangan ikut-ikutan bersedih." Kesendirianku yang kian menangis pilu.


"Ya Allah apakah salahku, sehingga rasanya aku begitu berat menerima cobaanMu ini. Lindunglah anakku jika aku tak mampu merawatnya, dia adalah semangatku maka dari sekarang jagalah dan lindungilah dia dari segala marabahaya," keluh kesahku dengan tetesan airmata yang terus saja mengalir.



"Ana?" panggil seseorang tiba-tiba.


"Edo?" ucapku kaget yang langsung mengusap airmata.


"Ana, kamu kenapa?" sapa Edo yang sudah mendekatiku.


"Eeh, aku gak pa-pa kok, Edo!" sahutku.


"Kamu pasti bohong. Lihat, wajah kamu begitu terlihat kacau sekali!" tunjuk Edo penuh kecurigaan.


"Beneran aku baik-baik saja, kok." Kebohongan.


"Ya sudah kalau kamu memang sedang baik."


"Oh ya, kamu kok bisa ada disini?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ooh aku. Biasa 'lah sekarang lagi sibuk mengantar penumpang," jawabnya.


Edo sudah ikutan duduk disebelahku. Bangku yang ada cukup panjang, mungkin tiga, empat menempati akan muat.



"Wah pekerjaan baru kamu pasti asyik juga nih!" kekagumanku saat Edo memakai seragam sopir taxi.


"Asyik apaan, kalau penumpang sepi jatah yang masuk kantong pasti kering juga kali," respon diiringi candaan.



"Ya sabar, ngak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan seperti kamu lho. Banyak pengangguran zaman sekarang. Apalagi yang tidak punya izasah, pasti tambah kesusahan mencari lowongan yang cocok."


"Iya juga sih. Walau pekerjaan begini tapi tetap alhamdulillah bisa menyambung hidup untuk makan," ucap tambah Edo bersyukur.


"Alhamdulillah aku baik," jawabnya sumringah.


Bunga yang bemekaran cukup menyejukkan mata. Kedatangan Edo membawa secercah ketenangan.


"Kamu kok duduk sendirian disini? Mana pak Adit?" tanya Edo dengan wajah clingak-clinguk mencari suamiku.


"Ooh, dia. Dia sedang ada pekerjaan diluar tadi, dan aku sedang mencari udara segar saja disini," kebohonganku.


"Ooh, begitu." Jawab Dio tanpa merasa curiga.


"Edo aku boleh minta tolong padamu ngak?" tuturku bersuara lirih.

__ADS_1


"Ya tentu boleh 'lah, Ana. Memang mau minta tolong apa?" timpal omongnya.


"Minta tolong antarkan aku ke restoran bapak, tapi diriku sekarang tidak pegang uang. Jadi tolong antarkan aku dulu, setelah sampai sana pasti aku akan membayarmu," permintaanku.


"Boleh-boleh aja, tapi--!" tertahannya ia mau berucap.


"Tapi apa Edo?" tanyaku penasaran.


"Gak ada apa-apa, sih! Tapi aku cuma takut saja, jika pak Adit mengetahuinya pasti dia akan marah. Apalagi kalau sampai terjadi emosi seperti kemarin, 'kan bisa gawat dan brabe," jawabnya ada rasa takut.


"Dia ngak akan marah sekalipun kamu menculikku.



"Maksudnya?" tanyanya binggung.


"Aah, lupakan perkataanku barusan. Yang terpenting sekarang kamu benar-benar mau menolongku tidak untuk mengantar?" tanyaku lagi.


"Tentu saja boleh, Ana."


"Oke, sekarang mari kuantar kamu," tawarnya mengajak.


"Terima kasih, Edo."


"Iya, Ana."


Tanpa ragu lagi kini aku meminta bantuan pada Edo, sebab dialah satu-satunya orang yang kini dapat menolongku, yaitu dari masalah-masalah yang kuhadapi sekarang. Sebenarnya tak enak hati pada Edo, sebab ada masalah yang sempat merenggangkan pertemanan kami beberapa hari-hari kemarin.

__ADS_1


__ADS_2