Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Dia Memberi Semangat. Season 2


__ADS_3

Hati bisa hancur. Ya, hati bisa hancur. Kadang-kadang berpikir akan lebih baik jika kita mati ketika mereka menginginkannya, tetapi kita tidak mau melakukannya. Ketenangan yang harus diperlukan, tapi apakah diri ini yang rapuh akan bisa melalui?.



Cinta itu seperti angin


Kau tak dapat melihatnya, tapi kau dapat merasakannya.


Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?


Dan saling menyayangi bila ada ruang?


Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan.


Tapi tidak ingin tercekik akan rasa cinta.


Mencintai harapan kita tentang seseorang


Namun apalah daya jika takdir selalu berbelok.


Hingga kenanganmu akan selalu terukur indah dalam pikiran.


Sungguh menyiksa ...


Ketika kau terus berjauhan, namun itu adalah suatu keputusan.


Hendak meraih genggaman


Tapi akankah sesulit ini lagi rintangan diantara kita.


"Kenapa kata-katamu membuatku begitu terluka? Sungguh tak rela jika kau mengatakan itu?" Rancau hati yang sedih.


"Kamu baik-baik saja 'kan, Karin?" tanya Chandra saat aku tengah melamun.


"Iya, Aku baik." Datarnya jawaban.

__ADS_1


"Aku melihatmu seperti ada yang sedang kamu pikirkan, apakah ini semua berkaitan dengan pria tadi?."


Chandra sudah curiga, dan tebakkan adalah benar.


"Sedikit."


"Berarti benar dugaanku. Apakah dia kekasihmu?"


"Bukan kekasih, tapi dia dulu adalah mantan calon imamku."


"Oh, begitu. Kenapa bisa jadi mantan, apakah ini berkaitan dengan papa Naya?"


Chandra banyak tanya. Mungkin penasaran, dan sekarang mungkin waktunya agar dia boleh tahu.



"Iya."


"Hmm, sesuai tebakanku. Kalau sudah tahu papa Naya meninggal, kenapa kalian tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi?."


"Aku sangat paham akan posisimu itu."


Minuman yang kami pesan belum tersentuh sama sekali olehku, sedangkan Chandra hampir setengahnya sudah terseruput. Duduk santai dalam kafe, membuat kami bisa berbicara leluasa. Cukup ramai juga pengunjung. Untung saja kami datang masih dalam keadaan sepi, sehingga bisa menepati tempat duduk yang tersedia ketika kini nampak full.


"Iya, Chan."


Pesanan spagetti sudah datang. Hanya Chandra yang memesan. Tadi dia tawari namun menolak, sebab dalam kepala terisi penuh atas nama dan bayangan Chris saja.


"Tidak salah dengar tadi ada menyebut luar negeri, apakah selama ini kalian terpisah?"


"Boleh dibilang begitu."


"Benar itu. Bahkan kami sudah hampir tiga tahun lebih tidak bertemu."


"Dari sorot mata kalian masih menyiratkan akan rasa cinta pada diri masing-masing. Apakah tebakanku benar?" Chandra sudah menginterogasi bagaikan detectiv.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjawab kebenaran yang sesugguhnya."



"Ok, baiklah. Tapi dari mimik dan bahasa tubuh kelihatan banget, kalau kamu masih menginginkan pria bernama Chris tadi. Kamu harus mencari tahu apakah tadi betul-betul tunangannya, sebab kelihatan terpaksa sekali pengucapan semua itu. Dari si perempuanpun wajahnya nampak syok saat Chris menyebutkan kata tunangan."


Sungguh tak menduga Chandra banyak keahliannya, bahkan sekarang bisa menebak bagai paranormal dari melihat gaya bicara saja.


"Aah, mana berani aku melakukan itu, sedangkan Chris sendiri tadi bilang kalau mereka sudah tunangan."


"Cobalah dulu, siapa tahu dia hanya berbohong saja. Dia itu nampak tulus mencintaimu, maka jangan sampai kamu akan menyesal dikemudian hari, bila terlepas genggaman hati yang pernah bersemayan untukmu. Dia kelihatan pria baik dan cocok sekali sama kamu. Kejarlah dia sebelum terlambat. Mereka baru tunangan belum sampai kejenjang serius yaitu pernikahan, pasti ada kesempatan kalian untuk memperbaiki dan melanjutkan jalinan asmara yang terputus," Nasehat Chan dengan penuh antusias memberi semangat.


"Tapi aku ragu dan takut." Kepala langsung tertunduk.


"Tidak usah takut. Yakinlah pada hatimu, bahwa semua akan baik-baik saja. Bangkitlah kembali dan jangan pernah putus asa untuk mendapatkan semuanya. Tidak ada yang mustahil jika kamu berusaha. Lakukanlah, jangan putus asa duluan sebelum kamu bergerak ingin mendapatkan kembali hati yang sempat dia berikan. Berbahagialah, kamu pantas mendapatkan itu. Aku disini ada untukmu."


Seyuman yang begitu damai. Chandra menepuk-nepuk tanganku yang tergeletak tidak berdaya diatas dimeja. Lagi-lagi ucapan dewasanya sangat menentramkan jiwa.


Sekelebat bayangan terasa ada yang keluar dari tubuhnya. Wajah yang mirip seakan-akan telah mengingatkan akan sosok yang aku cintai setengah mati yaitu kak Adrian.


"Apakah kau sekarang sedang bersemayam dalam tubuh Chandra, kak? Tak henti-hentinya dia memberi semangat untukku. Kalau itu benar kamu, apakah ini berarti kamu ingin aku bahagia bersama musuhmu dulu. Apakah ini yang selama ini kamu inginkan?" guman hati yang menatap seksama wajah Chandra.


Nasehatnya begitu halus dan menusuk tembus dalam relung dasar hati. Kesadaran akan ketepurukan mulai kembali normal.


Chandra selalu bilang jangan lagi menengok ke belakang, sebab itu akan membuat hati terhambat tak bisa melupakan kenangan lama yang bakalan terus menyiksa. Terus 'lah berjalan kedepan, dan jangan pernah berhenti sebab mungkin disitulah kebahagiaan hakiki yang bisa menguak teka-teki kehidupan selama ini.


"Gimana atas pendapatku tadi?"


"Emm, akan kucoba nanti."


"Baguslah kalau begitu. Berarti kamu berani maju tanpa ada rasa takut lagi. Aku disini sebagai teman kamu, hanya bisa memberi semangat dan doa saja. Semoga kamu akan mendapatkan jalan kebahagiaan lagi. Kalau bisa lupakan semua. Tetap terus bersemangat menatap masa depan."


Tangan Chandra sudah terangkat ke atas, bagaikan orang yang siap adu panco, tapi ini lain cerita yaitu memberikan semangat.


Rasa syukur tak luput terus kuucapkan, sebab Tuhan selalu mengirimkan orang-orang yang baik hati agar bisa menata kehidupan yang sempat berantakan.

__ADS_1


Chandra selain tampan, akhlaknya juga baik. Tidak seperti pria lain, yang pasti bila dekat dengan wanita sepertiku pasti akan main gesit dan serobot. Ini lain dan beda, dia lebih mementingkan kedewasaan dan keluarga kecilnya. Cinta dia pada sang istri begitu kuat, dan sempat bilang bidadari dihatinya itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun, sampai maut ajal menjemput.


__ADS_2