Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Terkejut dia bersama saingan


__ADS_3

Kini kehidupanku telah berubah dratis tak menjadi model lagi, setelah menuruti kemauan orangtua. Usaha mereka untuk merubah kehidupanku telah berhasil, sebab telah menjadikan penerus pemegang perusahaan utama milik papa. Walau kemarin sangat menentang, namun kini sangat sadar sekali bahwa ini semua ada benarnya.


"Gimana dengan pekerjaan kamu sekarang, Chris?" tanya Papa saat kami sedang sarapan bersama.


"Alhamdulillah, kini semua berjalan baik dan lancar-lancar saja," jawabku santai.


"Syukurlah kalau begitu, Nak!" saut ucap Mama.


"Iya, Ma. Ini semua berkat usaha kalian, untuk merubah Chris menjadi lebih baik. Terima kasih, Ma, pa. Kalau kalian tak membuat Chris jadi orang lebih berguna lagi, pasti kehidupanku sekarang akan selalu berantakan," jawabku tak enak hati.


"Tak apa, Chris. Sama-sama, kami senang jika kamu mau mengerti dan berubah secara ikhlas.


"Iya, pa."


"Oh, ya. Gimana keadaan Karin sekarang?" tanya Mama lagi.


"Alhamdulillah, dia juga baik, Ma."


"Syukurlah. Maafkan atas sikap Mama kemarin, Chris. Mungkin Mama tak layak untuk kau jadikan sebagai orang tua, sebab sudah ikut campur dalam urusan percintaan kamu. Mama kemarin terlalu khilaf melarang hubungan kalian, sebab sebenarnya Mama tak ingin kamu terlalu terjerumus atas kesenangan, hingga melupakan tugasmu sebagai penerus perusahaan kami," Penyesalan ucapan beliau.


"Iya, Ma. Chris, paham kok. Mungkin Chris kemarin terlalu asyik dengan pekerjaan sebagai model, hingga terlalu berlebihan membangkang kalian. Tapi kini Chris sadar bahwa langkah kemarin salah, yang padahal sudah jelas-jelas Chris sangat dibutuhkan oleh kalian, saat Papa kini mulai sakit-sakitan pulak," jawabku ikut merasa menyesal.


"Sudah, tak apa Chris. Semua telah berlalu, yang terpenting sekarang pikirkan masa depan kamu saja. Bagaimana dengan hubungan kalian sekarang? Apakah lamaran kemarin telah berhasil?" Sela tanya Papa.


"Alhamdulillah, berhasil Pa. Karin kini sudah sah menjadi milik Chris, yang selanjutnya aku berencana akan meminang ke rumah keluarganya. Semoga berhasil, doakan Chris ya Ma, pa. Tapi Papa dan Mama harus ikut andil dalam pelamaran ini," jawabku santai.


"Tentu saja, Chris. Kami sebagai orangtua pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Mama dan Papa hanya bisa memberi dukungan dan membantu kalian agar tetap bersatu dalam kebahagiaan," ujar Mama sudah tersenyum sumringah.


"Iya, Ma. Terima kasih."


"Sama-sama, Nak."


Setelah perjuangan yang sempat ditentang, akhirnya aku bisa menerima kebahagiaan yang tak terperi lagi rasanya. Sungguh tak menyangka terhadap sikap orangtua sekarang, dulu sangat menentang dan tak merestui kami, namun kini sudah berubah seratus derajat terbalik. Mungkin ini akibat aku jadi anak baik dan penurut, hingga orangtua tak mengekang lagi dan selalu saja memberikan kasih sayang yang sempat hilang.


Sarapan bersama keluarga telah selesai, hingga kini aku bersiap untuk segera ke kantor menjalankan tugasku sebagai penerus.



Kling, gawai sudah berbunyi dan bergetar, tanda ada sebuah pesan masuk.


Klik, layar langsung kugeser dan kini menampakkan sebuah pesan dari Karin.


[Aku tak bisa menjaga toko untuk beberapa hari kedepan, sebab Naya telah masuk rumah sakit. Jadi tolong, kalau ada waktu luang kamu tengok sebentar toko itu]

__ADS_1


[Apa? Kok bisa? Bukankah kemarin-kemarin Naya sudah sembuh?]


[Itu benar, Chris. Aku kurang tahu juga atas sakit Naya sekarang, yang jelas dia kecapek'an dan ada beberapa makanan pantangan yang sempat dia makan, hingga kini kambuh lagi. Tapi mungkin tak akan parah kok, hanya butuh perawatan dirumah sakit saja]


[Oh, syukurlah kalau begitu. Baiklah, akan jaga toko nanti. Kalau begitu sebelum berangkat ke kantor, aku akan mampir kesana]


[Ok, akan aku tunggu]


"Ya Tuhan, apalagi ini? Kenapa Naya sakit lagi, yang padahal kukira dia kemarin sudah sembuh total? Heeh, mungkin aku harus banyak bersabar, untuk acara pelamaran resmi kepada keluarga Karin nanti. Tak apalah, yang penting sekarang adalah kesembuhan Naya dulu, sebab dia juga akan jadi bagian kehidupan dikeluargaku nanti," rancau hati yang kecewa dan sedih.


Kunci mobil sudah tergenggam ditangan, untuk segera melaju ke rumah sakit, namun sebelum itu harus membelikan beberapa buah tangan yang contohnya adalah buah. Tak butuh waktu lama untuk sampai ketempat tujuan, sebab jarak antara rumah dan rumah sakit sangatlah dekat.



Kaki telah berjalan untuk mencari ruangan, yang nomor kamarnya sempat dikirimkan oleh Karin. Wajah sudah sumringah tersenyum bahagia, setelah beberapa hari ini tak sempat bertemu pujaan hati dan anaknya, yang kini pada akhirnya bisa leluasa menemui mereka sekarang.


Ceklek, perlahan-lahan pintu terbuka, saat ruangannya sudah kutemukan.


Deg, terdengar suara Karin sedang parau menangis. Akupun yang melihatnya sempat begitu terkejut, ketika netra nampak jelas Karin tengah santai berada dalam pelukan Adrian. Pintu yang awalnya kubuka, seketika kututup kembali pelan-pelan lagi, yang rasanya tak enak hati jika menganggu moment mereka.


"Astagfirullah, petanda apa ini? Kenapa dadaku rasanya begitu sesak begini? Apakah aku harus secemburu ini, saat Adrian juga pantas berpelukan sama Karin, karena dia dulu adalah pria pertama yang dicintainya. Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku sangat mencintai Karin, namun nampak sekali Karin begitu membutuhkan Adrian disampingnya. Apakah aku sanggup melihat perlakuannya sekarang?" Kekecewaan hati, dengan bersandar sedih ditembok rumah sakit.


Apa yang terjadi dengan cerita kita


Nampak kau lebih membutuhkannya


Apa kini aku harus mengalah saat kau berada bersamanya.


Meski hati ini begitu tak menerima


Namun aku tak bisa berbuat apa-apa.


Saat mungkin dia kau anggap lebih segalanya.


Hanya diam menatap sedih yang kulakukan.


Selamat atas rasa sakit yang kau berikan ini


Namun aku akan berusaha tegar, saat kaulah wanita yang kucintai.


Mungkin aku nampak baik-baik saja


Yang padahal hati tengah tercambuk goresan kecemburuan.

__ADS_1


Setelah dirasa tenang menata hati yang kecewa, kini aku berusaha tegar untuk tetap masuk ke ruangan Naya dirawat.


"Huuuuf, sabar ... sabar, Chris. Ini hanya ujian sementara, saat Naya membutuhkan orangtuanya. Kamu tak boleh lengah untuk tetap bersama Karin, semangat ... semangat Chris," guman hati yang menyemangati diri sendiri.


Tok ... tok, pintu kuketuk lebih perlahan-lahan lagi, sebab tak ingin menganggu mereka, maka dari itu kini aku harus lebih sopan lagi, hanya sekedar menjenguk Naya.


Ceklek, pintu kubuka dengan sikap pura-pura tak terjadi apa-apa.


Nampak Karin sudah terlepas dari pelukan Adrian, namun terlihat ketara sekali Karin habis menangis, saat tangan sedang menghapus airmata dipipinya.


"Masuk saja, Chris!" suruh Karin ramah.


Andrian nampak menatapku sekejap, lalu berubah haluan melihat seksama ke arah Naya.


Namun tak kupedulikan itu semua, atas sikap Adrian yang kelihatan cuek karena kedatanganku, sebab tujuan utama hanya bertemu Karin dan Naya bukan untuk dia.


"Iya, terima kasih, Karin!" jawabku tersenyum dipaksa.


"Gimana keadaan, Naya?" tanyaku berbasa-basi.


"Dia selama sebulan ini harus dirawat di rumah sakit, dengan pengawasan ketat dari dokter. Kami belum tahu jelas lagi bagimana keadaan Naya kedepannya," jelas Karin pilu.


"Kamu yang sabar ya, sayang. Aku yakin kamu wanita kuat, dan Naya bisa lalui ini semua," ucapku mencoba menegarkan keadaan Karin.


Adrian yang cuek, seketika menatapku penuh tatapan melotot tak suka, mungkin dia risih atas ucapanku yang memanggil Karin sayang.


"Iya, Chris. Terima kasih."


"Emm, sama-sama. Oh ya, aku mau pergi dulu, sebab sedang buru-buru, nih! Karena banyak urusan dikantor yang harus kukerjakan," ucapku berusaha pamit.


"Iya, ngak pa-pa, Chris. Maafkan aku yang sudah merepotkanmu," cakap Karin tak enak hati.


"Tak apa, ini sudah biasa. Sebab aku juga menyayangi Naya juga. Ya sudah, aku sekarang pergi dulu," ucapku benar-benar akan pergi.


"Iya, terima kasih."


"Dasar manusia tak ada sopan-sopannya, masak aku bertamu dicuekkin dan tak dianggap sama sekali kalau aku ini orang, sabar ... sabar Chris!" keluhku atas sikap Adrian.


Saat selesai mencium kening Naya yang tengah tertidur lelap, kini langkah berusaha melewati Adrian, yang masih terpaku tak ada sepatah katapun terlontar dari bibirnya.


"Terima kasih atas kedatanganmu kesini, sebab telah menjenguk anakku," cakap ambigu Adrian.


"Emm, sama-sama!" jawabku ketika melangkah akan keluar.

__ADS_1


"Ternyata kamu bisa ngomong juga, Adrian. Aku pikir kamu lagi sakit gigi, sebab tak menyambut kedatanganku? Heeh, dasar!" rancau hati yang tak percaya atas sikap Adrian barusan.


__ADS_2