
Mata Ana sungguh tajam menatap dengan penuh keheranan ke arah kami, mungkin akibat melihat kengerian kami yang terlalu mesra sebagai kekasih pura-pura. Kini kami berdua sudah berhenti di bangku taman, dan Ana sudah berlalu melewati kami, yang sepertinya ingin menaiki bebek kayuh dalam kolam buatan.
"Bos ... Bos, berhenti dulu. Tunggu!" Suara Rudi terdengar kecapek'an.
"Ayolah Rudi, kita harus mengawasi mereka. Jangan sampai lengah dan kehilangan jejak."
"Bos duluan saja 'lah kalau begitu, aku nanti akan menyusulmu. Capek banget nih! Heh ... hhhhhh, aku tidak kuat lagi," suruh Rudi dengan ngos-ngosan.
"Baiklah kalau begitu. Nanti nyusul ke arah ke sana. Jangan sampai terlambat."
"Beres. Hussss, pergilah sana."
"Hati-hati, bye."
Langkah sudah berancang-ancang lari untuk mengejar mereka yang sudah hilang dari pandangan.
Dengan terpaksa kutinggalkan Rudi yang sedang duduk kelelahan, akibat tidak bisa mengimbangi langkahku yang sudah melebar ingin segera menyusul Ana.
(Oh ya, Ana! Ada yang ingin kubicarakan sama kamu)
(Bicara saja, aku akan dengarkan dengan setia)
Dibalik pohon besar, tubuh telah bersembunyi untuk terus mengawasi mereka.
"Gimana, Bos? Hehhhh," tanya Rudi yang sudah datang menyusul.
"Belum ada apa-apa, masih datar saja percakapan mereka," ucapku sambil memberikan earphone penyadap.
"Jangan lengah awasi mereka."
"Hmmm."
(Bicaralah Edo, memang ada hal penting 'kah? Kelihatan serius amat muka kamu sekarang?)
(Ini adalah kata-kata yang sempat kutunda tadi. Sebenarnya aku-aaa-kku telah jatuh cinta padamu)
(Apa?)
(Beneran Ana! Aku benar-benar jatuh cinta padamu, dan ingin mengarungi rumah tangga bersamamu)
Aku dan Rudi hanya bisa saling menatap terperangah, akibat ungkapan teman Ana.
(Maafkan aku, Edo. Untuk sementara ini, belum bisa menerima kamu sekarang)
Hati yang tadinya sudah mulai memanas, dengan emosi yang tidak bisa ditahan lagi yang ingin terluap kepadanya, kini sudah bisa padam juga atas jawaban Ana.
(Tapi Ana, Aku benar-benar ingin bersama kamu)
(Maafkan aku, Edo. Kita tidak akan bisa bersatu dan itu sangat mustahil)
__ADS_1
(Aku mohon Ana, keinginanku adalah kita bisa menikah secepatnya, dan lupakanlah suami yang sudah menyakiti kamu itu! Bukankah kamu sekarang sangat membencinya?)
(Aku memang membencinya sekarang, tapi disebalik itu semua hatiku hanya ada cinta untuk dia, yang selama-lamanya takkan pernah pudar)
"Uhuk ... uhuk, eghemm" Suara batuk Rudi, akibat tersedak mendengar perkataan Ana.
Wajahku sekarang sudah tersenyum puas dengan gelinya, mendengar ungkapan perasaan Ana yang sesungguhnya.
"Cie ... cie, hati sedang berbunga-bunga nih!" ledek Rudi yang melihatku tak henti-henti tersenyum puas.
"Shuuutst. Jangan banyak omong, kita dengarkan obrolan mereka" suruhku Rudi diam agar bisa mendengarkan ucapan mereka lagi.
"Rembes, Bos."
(Tapi Ana. Aku mohon berilah kesempatan sekali saja untukku, bukankah suami kamu sudah berkhianat?)
(Maafkan aku Edo, yang tak bisa membalas cinta kamu, tapi kuucapkan terima kasih atas rasa cintamu itu. Sebaiknya kita harus kembali sekarang!)
(Gak bisa, Ana. Sebelum kamu menjawab mau kujadikan pengantin, diriku takkan melepaskan kamu begitu saja)
(Maafkan aku Edo, kita harus benar-benar kembali. Perkataanmu semakin mengarah yang tak karuan lagi. Ayo kita kembali saja!)
(Gak bisa)
(Ayolah, Ana. Please!)
(Tidak mau. Lepaskan ... lepaskan, Edo. Kubilang lepaskan)
"A ... Aaa ... ahhhhhh, byuuur."
"Ana?" Kekagetanku saat melihat tubuh Ana sudah tercebur dalam kolam.
"Aaahhh, sial!" umpat kemarahan.
Penyadap suara sudah seketika kulempar begitu saja.
"Bos ... Bos. Tunggu ... tunggu!" panggil Rudi saat diriku sudah berlari secepat kilat untuk segera menghampiri mereka.
"Tolong ... tolong," pekik suara Ana meminta bantuan, dengan tubuh sudah mulai timbul tenggelam.
"Tunggu, Ana."
Byuuuur, suara tubuhku sudah terjun bebas ke kolam buatan, ingin secepatnya harus menolong Ana yang nampak sudah gelagapan kehabisan nafas.
"Ana, sini ... sini. Ana, raih tanganku. Cepat," Ularan tangan kusodorkan kepadanya.
"Tolong, Mas. Tolong, huuup ... huff ... hppp," Nafasnya mulai kesusahan.
Kaki berayun-ayun agar bisa kilat mendekati tubuh Ana.
__ADS_1
"Sini Ana ... sini. Kamu sekarang tenang, oke! Aku sudah meraih tanganmu," Berusaha membuat Ana tidak panik lagi.
Baju sudah basah kuyup semua, disaat menolong Ana yang memang orangnya tidak bisa berenang.
"Kamu gak pa-pa 'kan, Ana?" tanyaku saat tubuh kami berhasil naik ke pemukaan dan kini sudah tegolek lemas di atas rerumputan.
"Alhamdulillah, aku gak pa-pa, Mas! Heh ... hhheh." Jawabnya sambil mengeluarkan nafas dalam-dalam.
Wajah meremang menatap awan, yang kini tengah berjalan santai diatas terik matahari yang mulai menyilaukan cahayanya.
"Ana ... Ana, kamu gak pa-pa?" Suara temannya sudah menghampiri kami.
Muak melihat dia yang kelihatannya tidak ada wajah penyesalan.
"Kamu?" Nada amarahku yang sudah memuncak.
Langsung bangun dari posisi terlentang. Kaki kini sudah berjalan cepat untuk menghampirinya.
Bhugk ... bhugkh, dua buah tinjuan terdarat dipipi kanannya. Tubuhnya tidak seimbang sehingga harus ambruk ke tanah.
"Dasar kurang ajar sekali kamu. Sini ... sini kamu." Ingin memberi pelajaran lagi.
"Sudah ... sudah., Mas! Edo tadi ngak sengaja melakukan itu," Ana masih saja berusaha membelanya.
"Aku tahu segalanya Ana."
"Iya, tahu Mas. Tapi jangan berbuat kasar begini," cegahnya lagi.
"Kamu itu memang dasar laki-laki yang kurang ajar. Sudah tahu dia itu sudah bersuami, masih saja berani mengodanya. Ini adalah ancaman dan peringatan terakhir untukmu, jika kamu menganggu Ana lagi, tidak segan-segan akan kubuat perhitungan denganmu lebih dari ini, ingat itu!" Emosiku yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Mam-mm-afkan saya, Bos!" ucapnya dengan kepala tertunduk.
Tak kuhiraukan lagi ucapan teman Ana, yang mana kini sudah terkapar di tanah, akibat bogem tangan yang terlalu kuat.
Secepatnya langsung kugendong Ana, untuk segera pergi dari hadapannya.
Sebelum benar-benar pergi, berbalik badan untuk memperingatkan sesuatu.
"Ooh ya, satu lagi. Mulai besok kamu tidak usah bekerja lagi di perusahaan, sebab mulai hari ini kamu telah kupecat, karena kamu telah berani-beraninya hampir menghilangkan nyawa wanita yang kucinta," imbuh gertakku.
"Ayo Rudi, kita pergi," ujarku menyuruh.
"Ingat itu! Jangan kerja ke kantor untuk kerja," imbuh kata Rudi memperingatkan.
Rasa hati yang khawatir atas keselamatannya tadi, membuatku benar-benar takut akan kehilangan wanita yang kini telah meluluhkan hatiku, ketika dulu-dulu sempat membeku tak mencintainya. Kian hari rasa cinta itu kian kuat, untuk tetap terus berada disampingnya dan tak ingin meninggalkannya sendirian, sehingga kejadian tadi takkan kubiarkan terulang lagi.
__ADS_1