
Hari-hariku kini sudah bahagia tanpa mas Adit mendampingi, biarkanlah hati tetap tergores oleh semua rasa luka, yang terpenting dalam pikiranku sekarang adalah merawat anak yang kukandung dengan sebaik-baiknya.
Di tepian jendela kutatap sejuknya hari. Daun-daun yang hijau kian memanjakan mata. Bunga berbagai rupa, elok sekali bila dipandangi terus. Semua rasa bagaikan hilang terbawa angin, saat pikiran kosong tidak memikirkan lagi masalah yang menerpa.
"Hai dedek bayi, apakah kamu sehat dan baik-baik saja disana?" sapaan Edo mencoba mengajak berbicara.
"Alhamdulillah sehat om," balik sapaanku sambil mengelus perut.
"Kamu ngak kerja, Edo?" tanyaku.
"Lagi cuti saja, capek rasanya. Dan sekarang mau mengajak dedek bayi jalan-jalan. Mau 'kan?" Kegembiraan Edo berucap.
Kami sedang duduk saling berhadapan.
"Gak usah repot-repot, Edo! Aku gak mau ngerepotin kamu," ucapku tak enak hati.
"Gak pa-pa Ana, aku ngak merasa direpotin kok! Memang kamu gak mau jalan-jalan? Gak suntuk apa berdiam diri dirumah?"
Mungkin Edo mengajak agar aku bisa ceria dan melupakan semuanya.
"Suntuk juga sih, tapi aku tidak mau dihari cuti kamu ini, kamu malah kecapean gara-gara aku," Tambahan kata merasa tak mau merepotkan.
"Enggak kok. Santai saja kalau aku kecapek'an. Malah senang dan rasa lelah bisa hilang jika bisa membuat kamu bahagia."
"Memang kamu mau mengajak jalan-jalan kemana sih?" tanyaku.
"Emmm, terserah kamu saja mau kemana! Asal tidak bikin kamu lelah saja," respon Edo yang juga binggung.
"Gimana kalau kita ke mall saja! Bantuin aku membeli pakaian dan peralatan bayi untuk anakku nantinya, gimana?" ucapku memberi ide.
__ADS_1
"Oke! Ayo kita berangkat sekarang," ajak Edo dengan wajah tersenyum sumringah.
"Sipp, sebentar aku mau ambil tas dan pamit sama bapak dulu."
"Oke."
Aku begitu tak enak hati pada Edo, selalu saja bila ada masalah dia selalu kurepotkan. Diriku sangat tahu jika Edo mendekatiku sebab telah jatuh cinta padaku, tapi sayangnya cintaku tak bisa terbuka khusus untuknya, dan aku sudah menjelaskan itu semua padanya, dan alhamdulillah dia menerimanya dengan lapang dada, tapi diri ini tahu betul bahwa disebalik kebaikannya dia masih berharap aku dapat menerimanya. Bukan tak mau membuka hati untuknya, tapi hatiku sekarang benar-benar sudah tertutup oleh torehan rasa sakit, sehingga rasanya akupun malas agar hati ini terbuka kembali.
"Pak, kami mau berangkat dulu!" pamit sudah menyalami tangan beliau.
"Hati-hati. Jangan kecapek'an nanti."
"Iya, Pak."
"Jaga baik-baik anak Bapak, Edo. Titip dia."
"Ya sudah, kami pergi dulu. Keburu sore nanti."
"Iya, Nak."
Kendaraan memakai kepunyaan Edo yang dipakai untuk bekerja sehari-hari. Walau sedang cuti, dia sempat bilang mau menyewa sama bosnya untuk mengantar keluarga.
Banyak sekali bahan obrolan agar kami tidak saling berdiaman. Cukup ramah, santai, baik, ciri khas sifat Edo. Banyak hal yang belum aku ketahui tentangnya. Setelah mengenal cukup nyaman juga dijadikan teman baik. Setelah beberapa jam sibuk dengan jalanan, akhirnya kami sampai juga di mall yang kami tuju.
"Ana ini cantik topinya!" tunjuk Edo.
"Iya bagus, tapi kayaknya gak dech. Mahal sekali harganya," tolakku halus.
"Gak pa-pa, ambil saja. Biar aku nanti yang membayarnya," desak Edo.
__ADS_1
"Tapi Edo, aku tidak mau kamu menghambur-hanburkan uang demi diriku. Kamu sudah terlalu lelah mencari uang dengan bekerja sebagai sopir taxi, dan rasanya tak mudah kamu mengumpulkan itu, jadi kamu tidak usah repot-repot mau membelikan. Kita cari yang lain aja yang harganya lebih murah, gimana?" tolakku dengan menerangkan.
"Gak pa-pa Ana, anggap saja ini hadiah untuk si dedek bayi. Ini ambilah, ayo!" desak Edo dengan memaksa.
"Tapi, 'kan-!"
"Ayo, ambillah. Sebelum aku berubah pikiran kuborong semua untuk kamu."
"Baiklah kalau kamu memaksa, terima kasih ya!" ujarku.
"Iya, sama-sama."
"Jadi ngerepotin kamu. Padahal yang ngajak berbelanja tadi aku, tapi malah kamu
yang harus bayar semua."
"Jangan dipikirkan lagi. Aku ikhlas memberikan ini semua. Anggap saja ini hadiah dan rezeki kamu."
"Emm, baiklah. Terima kasih."
Tas paper bag kini sudah dipenuhi dengan beberapa pakaian dan perlengkapan anakku nantinya, hati begitu gembira dan sumringah tertawa, sebab hari-hari menunggu buah hati lahir tinggal hitungan minggu lagi.
Bhuuugh, tiba-tiba tubuhku menyenggol seseorang, saat mataku sedang tidak melihat, sebab tengah keasyikan mengobrol dengan Edo.
"Ehh, maaf ... maaf," ucapku yang sudah memunguti paper bag yang jatuh akibat terkejut.
"Gak pa-pa, ini!" tangan sudah terulur memberikan paper bag.
"Kamu?" ucap kami bersamaan.
__ADS_1