
Baguslah kalau Edo dan Rudi tahu maksudku. Semoga saja mereka tidak marah, saat ada yang ingin dibicarakan penting malah disuruh pergi.
"Mas, kenapa mengusir mereka!" tanya Ana menatapku aneh.
"Gak ada! Siapa juga yang mengusir mereka," Nyolotnya jawaban berusaha memungkiri.
"Bener nih!" tanya Ana lagi, dengan wajah didekatkan ke mukaku.
Sebab tak ingin Ana mengetahui akal bulusku, kini wajah kutata sedatar mungkin, agar dia tak bisa membaca ekspresiku.
"Iya bener."
"Oke deh! Jangan gara-gara ingin berduaan denganku, Mas Adit telah mengusir mereka," Santai Ana menebak.
"Hhhh. Memang kenapa kalau mereka pergi, bukankah itu bagus untuk kita?" tanyaku sudah berdiri dari sofa, yang langsung mengacak-acak rambutnya.
"Ya ampun Mas, jadi berantakan gini!" keluh Ana tak suka.
"Habisnya ngemesin sih kamu."
Rambutnya yang lurus kubantu memperbaiki yang terlihat acak-acakkan.
"Tetap saja gak enak mengusir mereka, sebab mereka itu adalah teman kita juga, siapa tahu ada hal-hal yang ingin dibicarakan lebih penting lagi," protes Ana.
Istri membela mereka. Mulai akrab sama kubu yang selama ini menjadi teman terfavorit dan diandalkan.
"Jadi kamu ceritanya ngak senang nih?"
"Bela aja mereka, sebab suami kamu ini memang tak penting," gerutuku kesal.
__ADS_1
Pura-pura ngambek. Tapi dalam hati sebenarnya tertawa.
"Ya ampun, terbawa Perasaan betul sih! Lagi datang bulankah?" ucapnya yang melucu.
"Hahahha, memang aku perempuan?" gelak tawaku.
"Kamu itu laki-laki tapi sifatnya selalu seperti perempuan," jelas Ana.
Ana tanpa ragu dan malu telah bermanja ria duduk dipangkuanku, saat diriku tengah duduk dikursi kebesaran bekerja, dengan tangan sudah terlikar dileher supaya tak jatuh.
"Maksudnya?" tanyaku binggung.
"Iyalah, sifat mas Adit itu melebihi perempuan selalu bermanja ria," jelasnya.
"Hihihi, tahu aja kamu itu," ucapku sambil mengelus-elus pelan pipinya.
"Oh ya Mas, ayo kita makan! Aku sudah membawakan bekal makan siangmu," tuturnya mengajak.
"Lihat saja sendiri. Dijamin pasti enak sebab aku sendiri yang masak," suruhnya.
"Okelah! Ayo kita kesana untuk makan, tapi kamu berdiri dulu, mana bisa keadaan begini jika kamu tak berdiri," keluhku saat Ana masih duduk mesra dipangkuanku.
"Uuups, kelupaan," jawabnya yang kini sudah bangkit.
"Dasar, istri yang paling imut." Hidungnya kutarik kecil.
Kami berdua sudah berjalan dengan bergandengan tangan, menuju sofa dalam ruanganku.
Dengan hati-hati Ana sudah menurunkan satu-persatu lauk dalam rantang makanan. Terlihat ada ayam sambal balado, nasi, sayur sawi dan wortel ditumis, dan satu tempat lagi berisi oseng tempe dengan kecambah berbumbukan kecap. Netra hanya melihat memperhatikan saja, dan kini pikiran mulai mendapatkan ide untuk mengerjai Ana.
__ADS_1
"Aku tak suka dengan kecambah itu, dan aku hanya makan tempenya saja, karena itu adalah makanan favoritku, jadi apakah kamu bisa membuangnya?" suruhku pura-pura sebab ingin mengerjai Ana.
"Ya ampun, Mas. Kecambah ini banyak banget, sudah tercampur dalam tempe, takkan kamu menyuruhku untuk mengambilnya satu-persatu," keluhnya berusaha berontak.
"Ayolah sayang. Mas pengen banget cuma makan tempe itu saja, tapi tak mau makan kecambahnya," pintaku manja.
"Heeeh ... ya sudah, aku akan membuangnya," Kepasrahan Ana.
Ternyata Ana begitu polosnya yang tidak tahu dikerjai.
Dengan telaten Ana mengambil satu persatu beneran kecambah itu, dan aku hanya memperhatikan seksama, yang sudah tertawa cekikikan dalam hati. Sungguh, entah mengapa ingin sekali mengerjai Ana, dan kemungkinan ini efek kesal saat Ana sempat mencuekkanku ngobrol, disaat baru saja dia datang tadi.
Matanya terus saja fokus melihat Ana memunguti kecambah, dan dengan ketelatenannya kini kecambah itu sudah selesai diambil.
"Waah ... kamu orangnya teliti juga, bisa sampai tak ada satu kecambahpun dalam tempe ini," pujiku saat memeriksa oseng tempe.
"Ya iyalah, aku harus teliti menyingkirkannya, kalau tersisa sedikit saja, pasti mulut Mas akan cap cuat cerewet sekali, dan aku tak suka itu," jawabnya mengerutu kesal.
"Hihihi, tahu aja kamu itu. Benar-benar istri the best, selalu mengerti keinginan suami," balasku menjawab.
"Sudah ... sudah, makanlah sekarang! Jangan sampai tak habis semua. Awas! Kalau sampai tidak habis, aku tak akan mau membawa bekal makan siang ke sini lagi," ancamnya.
"Hehehe, siip dah!" jawabku menyetujui.
Mulut sedang mengunyah lezat masakan Ana, dan dia hanya memperhatikan caraku makan, sebab dia tak ingin melewatkan satu laukpun tak kumakan. Dan kini giliran kecambah yang tersisa, dan langsung saja kuambil untuk memakannya juga.
"Eeeiit, mau diapain kecambah ini?" cegahnya binggung.
"Ya makanlah, masak mau dibuang? 'Kan mubazir, lagian bukankah kamu sudah capek memasaknya, jadi ya harus Mas makan," jawabku santai.
"Jadi Mas tadi-?" Keterkejutan Ana, dengan melototkan mata marah.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, aku tadi cuma mengerjai kamu saja," terangku yang sudah lahap memakan kecambah itu.
Ana kelihatan dongkol sekali, namun beda denganku sumringah tersenyum, akibat telah berhasil mengerjainya.