Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Tidak Sengaja Ketemu Dia. Season 2


__ADS_3

Pakaian kaos oblong telah kukenakan, dengan diiringi celana pendek sebatas lutut. Sebelum pergi mengantar, tadi izin membersihkan diri dan berganti pakaian dulu. Akhirnya kami bertiga yang berbelanja. Mia sedang duduk tenang bersama pembantu dikursi belakang.



"Jangan lama-lama nanti belanjanya. Kalian mengerti 'kan, dan tahu kalau aku baru saja sampai dari perjalanan jauh!" cakap berusaha membuka suasana yang sepi.


"Iya, Chris. Maafkan aku, jika sudah merepotkan kamu." Suara Mia terdengar tidak enak hati.


Netra mencoba melirik dari kaca spion mobil, nampak wajah Mia ada garis-garis tidak enak karena terepotkan.


"Tidak apa-apa. Seharusnya akulah disini yang meminta maaf, sebab Mama telah merepotkan kamu."


"Iya, sama-sama. Tante orangnya baik, makanya suka saja kalau membantu dia." Wajah yang kecut telah terleburkan oleh sumringah kebahagiaan.



"Hmm."


Sekian lama menyetir, akhirnya sampai juga di mall yang biasa kami jelajahi. Untung saja bibi pembantu ikut, jadi sikap kami berdua tidak begitu kaku saat baru pertama kali bertemu dan jalan bersama.


Hanya mengikuti langkah mereka berdua dari belakang , saat sibuk memilih-milih beberapa sayuran. Semua nampak segar dan fres dalam kemasan maupun tertata rapi di rak. Ada beberapa buah yang jadi pusat perhatianku, sehingga mau tak mau langkah menuju ke tempat tumpukan itu yaitu buah naga.



Suka sekali sama buah itu, selain banyak vitamin rasanya beda dari yang lain. Mama sering kali membuatkan itu dengan di jus campur susu. Tangan mencoba memilih-milih untuk mencari yang bagus. Berapa buah sudah kuambil.


Bhugggh, tidak terduga saat baru berbalik badan telah menabrak seseorang.


"Eeh, maaf ... maaf!" ucapku yang langsung berjongkok, untuk secepatnya memunguti buah naga.


Karena buah naga telah menguling ke sembarangan arah, jadi agak kerepotan ingin mengambil, takut-takut jika tidak segera dipungut akan menghalangi jalan para pengunjung lain.


"Iya, tidak apa-apa. Maafkan aku juga!" Suara yang tidak begitu asing ditelinga.


Tangan kami tak sengaja saling bersentuhan, saat sama-sama saling memungut. Kaget yang terasa, sehingga mau tidak mau segera melihat ke arah wajah orang yang menabrak tiba-tiba.


"Astagfirullah!" Kekagetanku yang langsung beristigfar.


"Chris? Kamu?" ucap Karin kaget.

__ADS_1



"Kamu ... kamu, kenapa disini?" tanyanya kelihatan kebingungan.


"Aku sedang berbelanja."


"Bukan itu maksudku. Bukankah kau ini se-se-karaaa--?" Suara Karin tertahan tak bisa melanjutkan.


Mungkin efek tak percaya, makanya Karin kaku untuk berkata-kata lagi.


"Iya, aku ada disini. Memang ada apa?" ketusku.


Buah naga semua sudah selesai kupungut. Mulai berhadapan tegak tepat didepan Karin.


"Kenapa kamu pulang tidak memberitahuku, kejam sekali kamu ini."


Senyuman itu yang selalu kurindukan selama ini, namun tak bisa serta merta membalas sebab ada perasaan benteng-benteng luka.


"Aku baru saja sampai!" jawaban datar.


"Tapi tidak harus begitu juga. Kita innn--?"


"Ada apa, Chris? Kamu baik-baik saja 'kan!" Suara Mia tiba-tiba memotong ucapan Karin.


"Ini ... ini?" Telunjuk Karin mengisyaratkan penasaran.



"Kamu tidak apa-apa, Karin?" Tiba-tiba dari arah lain, datang seorang pria yang mendekati Karin dan menanyakan keadaan.


"Aku baik, Chan. Hanya ada inseden sedikit. Tapi aku tidak apa-apa."


"Oh, namanya Chan? Berarti dia bukan Adrian yang selama ini aku kenal. Tapi kenapa wajahnya mirip sekali? Bikin tambah lukaku menganga saja, dan kelihatannya mereka cukup dekat sekali" guman hati yang tidak suka.


"Baguslah kalau begitu," cakap Chan terdegar memuakkan.


"Mereka siapa?" tanyanya menunjuk ke arahku dan Mia berdiri.


"Merrreek--?"

__ADS_1


"Kami adalah teman Karin, dan wanita disebelahku adalah tunanganku," Spontan jawaban.


Ucapan Karin langsung kupotong.


"Hah, what?" Wajah Karin benar-benar membulat tak percaya.



"Kamu jangan bercanda, Chris!" Karin tersenyum sinis.


"Serius. Kamu boleh tanya sama anaknya sendiri. Benar 'kan Mia, sayang?" Kata-kata berusaha romantis agar semua percaya.


"Ee ... eeehh, iya, Chris." Kegagapan Mia.


"Aku tidak percaya. Kamu sudah pulang tidak memberitahu, sekarang omong kosong apa ini? Tunangan? Tidak ... tidak, itu tidak mungkin," Karin mengeleng-geleng kepala tidak percaya.


"Maafkan aku, Karin. Kamu boleh tidak percaya, tapi asal kamu tahu saja, bahwa tujuanku sekarang pulang ke Indonesia adalah ingin meresmikan pertunangan kami," Kata-kata yang ingin memperjelas.


"Tapi, Chris. Kamu bukankah masih ... masih mencin---? Ah, tidak mungkin ini." Karin tidak bisa melanjutkan ucapannya, dengan ekspresi kesal.


"Maafkan aku. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kita saat ini. Ya sudah, kami akan pergi sebab banyak kerjaan dan kesibukkan hari ini."


"Tapi, Chris. Aku belum selesai." Karin masih ingin berbicara.


"Maaf ya. Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan kamu kali ini. Aku sedang sibuk sekali."


"Tapi, Chris."


"Kalau begitu, permisi. Ayo, Mia!" ajakku yang langsung mengandeng tangan gadis yang beberapa jam baru kukenal.


"Tapi, Chris. Tunggu ... tunggu!" Karin berteriak mencoba menghentikan.


Tak kuendahkan suaranya yang terus memanggil. Yang terpenting sekarang harus cepat menghilang dari pandangannya.


Rasa muak telah menyelimuti, tak ingin jika emosi ini nanti meledak dan akan berimbas tak baik pada Karin dan semuanya. Jawaban yang ketus lebih baik. Mungkin dengan cara menghindar akan lebih baik.


Menyembuhkan hati yang terluka tak semudah mengobati luka gores di kulit. Bukan dengan obat, hati yang terluka hanya bisa dipulihkan dengan kelapangan dada.


Mia hanya nuurut saja. Keranjang belanja ditangannya langsung kurebut, biar nampak kalau aku tak ingin Mia telalu lelah.

__ADS_1


Sesekali menoleh kebelakang. Rasanya berat sekali melihat Karin, yang menunjukkan wajah kesedihannya. Dada yag ada luka bagaikan sudah tersiram garam. Rasanya sunguh perih dan sakit sekali.


Hati berkali-kali mengeluh dan berbicara pada diri sendiri, atas menyalahkan mulut yang ceroboh. Kenapa bisa-bisanya spontan membuat drama kebohongan. Mungkin inilah jalan terbaik untuk menghindari Karin, yang nampak sudah tenang dan bahagia bersama pria lain.


__ADS_2