Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang >>> Kebahagiaan kami


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, rumah tangga kami kian hari kian bertambah romantis dan bahagia. Ana sekarang benar-benar kumanja, termasuk tidak boleh bekerja, dan harus duduk manis sebagai ibu rumah tangga. Awalnya dia bersikukuh tetap ingin bekerja, sebab katanya bosan dirumah sendirian, tapi akupun menolak atas permintaannya itu, sebab aku tidak ingin dia kecapean terus yang bisa menyebabkan dia sakit. Tapi bukan namanya Ana kalau tidak bisa diam, dia begitu punya seribu akal agar tetap ingin beraktifitas dalam bekerja, dan akhirnya dengan berat hati akupun mengizinkannya dia bekerja di restoran mertua yang telah kudirikan.


"Kamu nanti jangan sampai capek-capek kerjanya, nanti bisa sakit 'kan bahaya," nasehatku.



"Iya, Mas. Aku tiadak akan capek sebab direstoran bapak cuma sekedar bantu-bantu mengiris beberapa sayuran dan melayani tamu yang datang," jelasnya.


"Benean lho, ya! Awas kalau kamu sakit tak hisab darahmu nanti biar menambah kekuatanku," candaanku mengoda.


"Iiih, drakula kali mau nambah kekuatan," ketusnya ia berkata.


"Hahahaha, memang aku beneran mau menghisap darah kamu lho! Biar selamanya menjadi pengantin drakulaku."


"Ciiieh, kebanyakan nonton film, ngehalunya jadi kemana-mana."


"Memang mas Adit kenapa? Kok rasanya takut sekali jika aku sakit?" balik tanyanya.



"Ya iyalah aku takut, sebab kalau kamu sakit tidak ada yang bisa melayani," jawabku.


"Melayani yang mana nih?" ujarnya yang mulai ikut nimbrung bercanda.


"Yah, masak ngak tahu! Yang pastinya melayani di kasur 'lah," rayu mengoda lagi.

__ADS_1


"Iiiiih, dasar manusia berotak mesum," kegeriannya barkata sambil memasang wajah geli.


"Hahhaha, gak kok sayang. Maksudku tadi melayani semua keperluan dirumah, contohnya seperti makan dan membantuku menyiapkan baju kerja," peneranganku.


"Ooooh."


Tangannya sibuk membantu memakaikan dasi. Sikap bermanja makin menempel terus kayak parangko. Tidak pernah ketinggalan sikap memeluk dan memberikan ciuman, entah itu dikening maupun pipi.



Sebelum berangkat kerja, sebisa mungkin meluangkan waktu untuk mengantarnya.


Sheeeet, kini mobil sudah terhenti di depan restoran bapak mertua.


"Mas Adit beneran tidak mau mampir dulu?" tawarnya.


"Ya sudah, Mas hati-hati dijalan. Bye ... bye," pamitnya sambil mencium tangan punggungku.


"Iya, kamu juga harus hati-hati, bye ... bye." Ucap berpamitan, saat mobil sudah kuhidupkan ingin segera melenggang pergi.


Wajah kini sudah tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ternyata orangtua tidak salah memilihkan jodoh untukku. Walau Ana adalah wanita dari golongan orang tidak berpunya, tapi hati dan kebaikannya selalu kaya akan kelembutan, sehingga akupun begitu terkagum dan terpesona atas semua yang melekat padanya.


Sudah beberapa jam gawai tidak tersentuh sama sekali, sebab sedang sibuk dengan urusan rapat disana-sini dengan klien, sehingga diri inipun tak sabar ingin mengetahui keadaan istriku tersayang.


[Assalamualaikum, sayang]

__ADS_1


[Walaikumsalam, mas!]


Jawabnya lirih seperti tidak berdaya.


[Kamu kanapa, Ana? Suaranya kok lemes banget?]


[Gak tahu, mas. Tadi ketika masuk ke restoran bapak, bawaannya mual dan pusing saja. Mungkin lagi kena masuk angin saja, sebab akhir-akhir ini tengah malam aku suka bangun sendirian]


[Aku kok gak tahu, kalau kamu malam sering bangun]


[Aku memang segaja tidak ngebangunin, sebab melihat wajah mas Adit yang kelelahan, aku begitu tak tega untuk memberitahu]


[Ooh, ya sudah kalau begitu. Nanti akan kusuruh dokter pribadi ke restoran bapak]


[Gak usah mas, tadi aku sudah minum obat, dan sekarang lagi ingin istirahat]


[Gak ada tapi-tapian, Ana. Aku sekarang benar-benar khawatir sama kamu, jadi kali ini turuti saja perkataanku. Lagian belum tentu juga diagnosa sakitnya tentang masuk angin, siapa tahu ada penyakit lain]


[Ya udah, kalau itu kemauan mas Adit]


Kepasrahannya saat diriku menyuruh diperiksa ke dokter.


[Baiklah aku akan telepon mereka, sebentar. Kalau sudah selesai diperiksa, langsung hubungi aku, oke!]


[Baiklah, mas]

__ADS_1


Terlalu akut kekhawatiran, sampai dokter yang sedang sibukpun kubentak untuk segera ke tempat Ana. Mungkin dokter itu sudah lama berkerja pada pihak keluargaku, jadi tidak masalah dan mengerti sekali apa yang kuinginkan. Sekali ngomong ya harus dituruti tidak bisa dibantah apalagi sampai ditunda-tunda.


__ADS_2