Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Akibat sebuah laporan, apes mengikut ide gila Bos


__ADS_3

Hari yang telah dinantikan akhirnya tiba, dan sudah kusuruh dua orang untuk mengikuti jejak Ana. Dari awal rumahnya sampai mau ketemuan dengan teman prianya. Selain untuk jaga-jaga atas keselamatan Ana, diriku ingin sekali mengetahui gerak-gerik pria itu, apakah memperlakukan Ana dengan baik atau tidak.


[Bos, kami sudah membuntuti istri anda dari rumah, dan sekarang dalam perjalanan menuju tempat yang sepertinya taman hiburan]


[Ikuti terus dia, jika ada apa-apa cepat laporkan padaku. Aku akan segera menyusul ke sana! Tapi untuk sekarang, ada urusan yang ingin kekerjakan dulu, Awasi dia terus dan jaga dia, mengerti!]


[Baik bos]


Sekarang aku sedang sibuk menunggu Rudi, untuk membawanya ke sebuah tempat yang bisa merubah ketampanan yang selama ini dia bangga-banggakan.


Tin ... tin ... tin, mobilku berbunyi berkali-kali, tidak sabar menunggu Rudi saat sedang menjemputnya.



"Maaf bos, lama menungguku!" ucap Rudi yang sudah melangkah masuk ke dalam mobil.


"Ngapain sih didalam, lama betul?" Kekesalanku berucap.


"Maklum dandan dulu! Pasti disana ketemu sama cewek-cewek cantik, dan siapa tahu semua wanita akan terpikat dengan ketampananku," ujarnya dengan sombong.


"Ciiih, cewek saja dalam otak kamu," decihku tak suka.


"Hehehe, ya harus dong, Bos! kegantengan tidak boleh disia-siakan dan harus dimanfaatkan."


"Ya elah. Sok ganteng sejagad raya."


"Harus dong itu."


Tidak sampai setengah jam kami berputar-putar dalam jalanan, akhirnya sampai juga ditempat keinginanku.


"Kita mau ngapain Bos disini?" Kebingungan Rudi kuajak ke salon.


"Ayo masuk saja, aku mau merubah kamu dulu, biar tidak berantakan begini!" elakku yang melihat Rudi sudah tampan.


"Maksud Bos, apaan sih?" Kebigungannya.


"Masuk aja. Nanti kamu akan tahu, jika sudah masuk ke dalam," perintah tidak menjelaskan.



"Ok 'lah."


Rudi hanya mengikuti dari belakang, tanpa tahu tujuan kami kesini sebenarnya itu apa.


Pok ... pok, tepuk tanganku sudah berbunyi pada pegawai salon.


"Permak dia! Seperti keinginanku kemarin," perintahku pada pegawai salon.


Terasa sekali Rudi sudah dilanda kebingungan, dimana mukanya hanya terlihat diam terbengong, atas apa yang menjadi keinginanku barusan.

__ADS_1



Krataaaak, suara lem pecabut bulu baru berbunyi.


"Aaaaah, Adit. Kamu ... kamu, sialan," pekik Rudi dengan lantangnya dalam kesakitan sedang marah padaku.


"Hihihii, rasain kamu, Rudi! Itu setara dengan gaji 20x lipat kamu," ucap tertawa geli, yang tengah duduk membaca majalah.


Sudah 15 menit lamanya para pegawai salon mendadani Rudi, tapi lama sekali belum ada tanda-tanda dia bakalan akan keluar. Rasa gelisah mulai mendera, akibat pikiran hanya terfokus pada Ana dan teman prianya, takut-takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kaki terus saja melangkah mondar mandir ke kiri kanan, tidak sabar untuk menunggu Rudi keluar.


Krataaak, suara besi tirai berbunyi, tanda Rudi sudah selesai di dandani


"Gimana, Pak?" tanya pegawai salon.


"Wah ... wah, ckckck. Kamu cantik banget, Rudi!" sanjungku berucap.


Rudi kini sudah tersulap menjadi wanita cantik, dengan pakaian atas bertank top merah, yang sudah bertutupkan jaket hitam, dan senada dengan rok mini diatas lutut berwarnakan hitam pulak.


"Hahahaha. Cantik, super duper cantik," tawaku geli melihat perubahan Rudi sekarang.


"Wah, Bos! Kamu memang kurang ajar betul mengerjaiku. Kalau tahu begini, aku tidak akan mau ikut-ikut dalam sandiwara kamu," keluh kesah Rudi.


"Hahahha, bibirmu sungguh-sungguh sexy abiiiz sekarang, hahahhhaha!" ejekku dengan tertawa lepas, akibat melihat bibir tebal Rudi memakai gincu merah.


"Bos Adit!" pekiknya marah.


"Hahhahha, iya...iya. Habisnya lucu sekali melihat bibirmu yang selama ini tebal dan monyong, ternyata bisa sexy juga, hahahaha," gelak tawaku riang.



"Hahhah, oke ... oke! Maafkan aku. Kamu harus ikut, biar misi mengintai berjalan dengan sukses dan lancar," ucapanku penuh penekanan.


"Ngak mau, Bos!" merajuk suaranya.


"Memang kamu gak mau gaji yang 20x lipat itu?" tanyaku mengiming-iminginya.


"Aaah, lupakan gaji itu! Nyesel aku minta aneh-aneh sama Bos. Kalau tahu aku akan jadi begini, pasti tidak akan mau mengikuti ide gila kamu, Bos! Hikkksss" cakapnya masih kesal.


"Sudah ... sudah, maafkan aku! Ini diluar rencana."


"Hemm, baiklah," Hatinya mulai luluh.


"Cepat, kamu siap-siaplah. Kita akan berangkat sekarang, tapi-?."


Wajah menatap seksama ke arah Rudi.


"Tapi apaan lagi, Boskyuh!."


"Tapi, terasa ada yang kurang, dech!" Otak kini sedang berpikir.

__ADS_1


"Mbak, kira-kira beneran ada yang kurang ngak, sih!" tanyaku pada pegawai salon.


"Apaan ya, Pak?" Pegawai salon malah binggung.


"Itu ... itu tuh," Tunjukku mengarah ke arah dada bidang Rudi.


"Oooh," jawab si mbaknya barun paham.


"Gimana caranya biar tambah sexy dan biar benar-benar kelihatan seperti perempuan betulan," tanyaku ikut binggung.


"Pakai ini saja, Pak!" pegawai salon memberikan dua buah balon.


"Wah, jangan Bos."


"Diam dulu. Bagus ... bagus betul ini, Mbak!" jawabku.


"Wah ... wah ... wah, apalagi ini, Bos! Aneh-aneh betul ide kamu," risihnya Rudi tak senang.


"Diam saja kamu, nanti tak tambahkan bonus lagi," bujuk rayuku.


"Beneran itu, Bos!" Kegirangannya berucap.


"Iya."


Dalam mobil wajahku tak henti-hentinya menahan senyum, melihat sekertaris yang selama ini banyak mempermainkan hati cewek, sekarang dia sendiri kena batunya, yaitu akibat tersulapnya dia menjadi perempuan sekarang. Mungkin biarkan Rudi merasakan betapa susahnya menjadi wanita.


"Bos, bisa diam gak, sih! Tidak tersenyum- senyum terus. Risih banget rasanya ditertawain terus-menerus. Dan kalau tidak berhenti tersenyum aku akan melarikan diri dari kamu," ancamnya.


"Ya ... yah, cantikku jangan begitu, dong!"ucapku sambil mencolek dagu Rudi.


"Iiiih, bos! Jangan begitu dech. Nanti akunya jadi tambah sayang sama kamu, egkheeeem ... hemmm." suaranya yang mulai centil dan manja, dan kini sudah persis seperti perempuan yang mencoba untuk mengodaku.


"Eiiit ... eeet, mau ngapain! Aku masih doyan perempuan," cegahku berucap, saat Rudi ingin memeluk.



"Hahahaha, ternyata bos takut juga. Lagian siapa juga yang mau sama kamu, seperti tidak ada perempuan didunia ini saja. Tapi kalau di dunia ini tidak ada perempuan lagi, dan hanya ada Bos seorang, egkheeem ... boleh ... bolehlah." Suara Rudi mengoda lagi.


"Ciiihh, pletak." Terjitaknya kepala Rudi.


"Aww, sakit bos."


"Huek ... huek, mimpi kali. Dasar pria berotak mesum dan mulai kumat gilanya. Kalau kurang obat beli sana, atau mau aku yang membelikan," Kengerianku atas perkataan Rudi.


"Hahahhha, serius amat. Baik-baik sayank, aku itu tadi cuma bercanda," Suara centilnya seperti perempuan lagi.


"Udah ... ah, kita hampir sampai. Capek ngomong sama kamu."


"Wokeh 'lah."

__ADS_1


Akhirnya kami sampai juga ditempat tujuan, dan tanpa basa-basi langsung menemui orang suruhanku, yang sudah mengintai Ana dari kejauhan.


__ADS_2