Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang >> Ide gila menarik perhatiannya


__ADS_3

Braaak, kedua tangan kugebrak memukul meja kerja, akibat rasa kesal dan amarah mulai menghampiri, ketika mendengar percakapan Ana dengan temannya tadi dikantin.


"Lihat Rudi, kelakuan Ana! Baru kemarin dia bisa terlepas dan bebas dariku, sekarang dia sudah berani dan mau-maunya diajak lelaki lain," ujarku pada sekertaris.



"Kenapa marah-marah sih, Bos! Apa jangan-jangan hari ini, ceritanya Bos itu lagi cemburu ya ... ya?" goda Rudi.


"Enggak, siapa bilang lagi cemburu? Mana mungkin aku cemburu sama temannya, yang hanya menjadi pegawai kebersihan itu! Mendingan aku juga, udah kaya tampan pulak!" nyolotnya suara menjawab.


Wajah kini sudah berpaling ke arah kanan, menyembunyikan ekspresi yang memang ada sedikit rasa kecemburuan.


"Kalau tidak cemburu ngak usah ngegas juga kali, Bos!" keluh Rudi.



"Iiich, dibilang ngak cemburu ya ngak cemburu. Aku tuh cuma tidak suka saja sama sikap Ana, yang beraninya dekat-dekat dengan pria lain," celotehku memungkiri dari dugaan Rudi.


"Itu sama saja, Bos! Ngaku cemburu saja susah betul. Mereka itu 'kan cuma sekedar jalan-jalan bukan berkencan. Lagian Ana itu mungkin mau menenangkan diri, akibat ulah Bos sendiri juga kali," Rudi berusaha membela Ana.


"Emm, bener juga yang kamu katakan barusan, mereka hanya jalan-jalan. Lagian Ana memang butuh refresing sekarang, untuk menenangkan diri akibat ulahku juga," jawabku setuju atas perkataan Rudi.


"Nah, betul 'kan."


Ahhh, entahlah. Rasanya hati begitu sakit sekali mendengar mereka akan pergi, yaitu saat diri ini sungguh kecewa, sebab Ana tidak memberitahuku dulu maupun meminta izin. Rasanya diri ini sudah tak dianggapnya, tapi aku takkan berontak akan hal itu, sebab memang diri inilah yang selalu menyakiti dan membuat masalah kepadanya.


>>>>>>


Tok ... tok, pintu ruanganku diketuk.


"Masuk," perintahku.


"Maaf, Pakk! Aku ingin membersihkan ruangan ini!" ucap Ana meminta izin.


"Ooh, silahkan ... silahkan," Antusiasnya diri ini menjawab.


Kini langkah kaki sedang berjalan mendekati Ana, yang telah fokus mengepel lantai ruanganku. Diri ini hanya bisa diam memperhatikannya saja, dengan tangan kumasukkan dalam kantong saku celana.



"Ana, nanti pulang kerja aku antar saja, ya? Gak usah naik angkot!" tawarku yang berusaha merayu.


Rasanya kesal juga Ana tak memperhatikan omonganku, ketika dia masih saja bergelut dengan perkerjaannya.


"Dih, aku diabaikan."



"Atau kamu mau kita makan malam di luar? Atau mau ke taman hiburan?" Ajakku yang kedua kali, tapi Ana masih saja diam.


Saat diri ini mengoceh, tanpa terasa pekerjaan Ana hampir selesai, tapi dia masih saja tetap diam tidak mau menjawab ajakkanku.


"Nanti kalau aku antar pulang, boleh 'kan mampir ke rumah kamu, ya ... ya!" ujarku yang tak mau menyerah untuk merayunya.


"Maaf Pak, aku sedang sibuk. Dan sekarang pekerjaanku telah selesai," ucapnya sambil membereskan alat-alat yang sempat dia pakai barusan.


"Tapi Ana. Eeh, tunggu ... tunggu dulu!" ujarku menghadangnya supaya berhenti.

__ADS_1


"Ayolah, Ana! Bagaimana dengan tawaranku barusan, apakah ada waktu luang untukku," tanyaku lagi.


"Lihat-lihat saja nanti, Mas. Aku sekarang benar-benar sibuk dengan pekerjaan."


"Aku kasih ijin cuti."


"Nanti 'lah, masih mikir. Minggir dulu, aku mau lewat!" suruhnya dengan ucapan agak sewot.


Sebab tak ingin terjadi perdebatan, maka akupun mengalah, dan membiarkannya untuk melenggang pergi.


"Aah, benar-benar gagal mengajaknya," gerutuku kesal akibat tak berhasil.


Ternyata didiamkan alias dicuekkan orang yang kita cintai, ternyata menyakitkan dan menyesakkan dada juga. Patut sekali Ana dulu tidak tahan, yaitu saat sikapku yang tak pernah menganggapnya ada, sehingga dia keluar dari tempat tinggalku.


Rasanya hati sudah gondok merasa sebal sekali, sebab Ana tidak menerima semua ajakkanku, padahal pria lain saja yang bukan apa-apanya langsung setuju saja.


Didalam ruangan kantor, otak sedang berpikir keras bagaimana supaya mendapatkan perhatian Ana. Jari sudah serius memegang handphone, yaitu untuk membuka goegle, mencari cara jitu menaklukkan hati wanita itu bagaimana? Tapi semuanya terlihat basi, dan tak ada yang cocok dengan keinginanku.


"Bos, ini ada yang harus ditanda tangani? ucap Rudi, yang sudah nyelonong masuk.



Sebuah berkas sudah disodarkan kepadaku, untuk segera ditanda tangani, namun aku tidak langsung saja menanggapinya, yang mana jari-jari sudah sibuk naik turun menyentuh layar, mencari sesuatu yang kini menjadikan pikiranku benar-benar kacau.


"Bos. Hallo ... hallo, Bos?" panggil Rudi.


"Oh iya. Taruh saja disitu, nanti akan kutanda tangani," jawabanku masih fokus.


"Bos, lagi ngapain sih? Sepertinya serius amat melihat layar gawai?" tanya Rudi merasa aneh.


"Iya bener nih! Aku lagi serius mencari sesuatu."


"Itu lhoo, mencari cara jitu menaklukkan hati wanita itu bagaimana?" penjelasanku.



"Oooh."


"Oh ya! Kamu ada ide ngak? Pacar kamu itu 'kan banyak, jadi pasti tau 'lah caranya itu bagaimana?" tanyaku.


"Banyak sih, Bos! Contohnya kasih bunga yang cantik, kasih coklat, ajak makan direstoran romantis, Shooping ke mall, nonton bioskop. Emm, apa lagi ya?" ucap Rudi dengan mimik wajah sedang berpikir apalagi.


"Gak ada yang lain apa? Semuanya terasa basi usulanmu itu," Masih tidak nyaman.


"Gak ada sih, Bos! Dan hanya itulah yang selama ini kupakai untuk menaklukkan semua wanita."


Kini aku dan Rudi sedang berpikir keras sekali, bagaimana cara menaklukkan hati Ana yang notaben orangnya keras dan cuek.


"Aha ... haaaah?" Cara akhirnya sudah kudapatkan.


"Udah dapat?" tanya Rudi.


"Ambilkan perban," suruhku.


"Perban?" Kebingungan Rudi.


Rudi secepatnya pergi, dan tanpa menunggu lama akhirnya dengan cepat pula kembali keruanganku, dengan tangan membawa gulungan perban.

__ADS_1


"Untuk apaan sih, Bos?" tanya Rudi penasaran.


"Nanti kamu juga akan tahu," jawabku dibarengi senyum sudah merasa bahagia.


Cepret ... cepret, suara handphoneku memotret kaki yang sudah diperban.


Klunting ... klunting, sebuah pesan sudah terkirim pada Ana.


(Ana, antar aku pulang, pleasee! ) gawai sudah mengirim foto, dengan pesan memohon.


"Wah ... wah, Bos! Kamu benar-benar cerdik tapi gila, masak demi mendapatkan perhatiannya, kamu rela membohonginya," ketidaksukaan Rudi berucap.


"Hanya inilah yang bisa terpikir dalam otakku."


"Ini nantinya bisa-bisa membahayakan lagi, nih!."


"Maksud kamu?."


"Iya bahaya, sebab bisa-bisa Ana akan marah kepadamu, jika semua ini hanya akal-akalan Bos saja," penjelasan Rudi.


"Ah, nanti aja itu, dipirkirkan belakangan saja! Yang terpenting sekarang, hari ini aku bisa bersamanya," jawab berontak.


"Terserah Bos, sih! Aku ngak mau ikut-ikutan, ya!."


"Siip dech! Aku takkan menyeretmu, tapi nanti bantu memapahku pulang," pintaku.


"Ahh, bos itu sama saja mau menyeretku," ucap Rudi kesal.


"Mau apa ngak sih, membantu! Kalau tidak mau, dengan terpaksa kupotong gaji kamu nanti," ancamku.


"Yah ... yah, gaji juga yang diseret. Iya ... iya, aku akan membantu, tapi jika istri Bos marah besar, jangan melibatkanku," tawarnya.


"Siap."


Diri ini sudah tersenyum puas, dengan tingkah gilaku yang konyol, yaitu membungkus perban ke kaki yang tidak sakit.


Dan tanpa menunggu lama, akhirnya Ana datang juga, yang diiringi lari-larian kecil sudah ngos-ngosan, mungkin ingin secepatnya melihat keadaanku yang tengah berpura-pura sakit.


"Mas Adit, gimana keadaan kamu? Parahkah sakitnya? Kenapa bisa begini kakinya? Perasaan tadi siang baik-baik saja!" pertanyaan Ana bertubi-tubi sudah merasa khawatir.



"Aku gak pa-pa, cuma jatuh terkilir, dan tulang agak bergeser sedikit," jawabku.


"Memang jatuh dimana?."


"Emm ... Mmm ... itu ... itu, jatuh ditangga!" jawabanku yang hampir salah.


"Kok bisa? Memang separah inikah sakitnya sampai diperban segala?" tanyanya seperti tak percaya.


"Aww ... aww," teriakku pura-pura sakit untuk mengalihkan pertanyaan Ana.


"Ada apa, Mas? Mana yang sakit?" kekhawatiran Ana bertanya.


Hanya acungan jempol yang dapat diberikan Rudi, saat diri ini benar-benar telah berhasil menjalankan sandiwara berakting.


"Aku baik-baik saja, tadi cuma terasa agak berdenyut sakitnya," jawabku menenangkannya.

__ADS_1


Dalam penjalanan pulang menuju rumah, Ana dan Rudi telah membantuku memapah tubuh untuk berjalan. Dengan keterpaksaan Rudi ikut kuseret dalam sandiwara sakit ini, sebab dialah satu-satunya yang bisa membantuku sekarang.


__ADS_2