Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Nasehat Teman Yang Setia


__ADS_3

Pagi-pagi sudah rapi. Perut kian membucit. Diatas derita masih saja datang kebahagiaan saat si kecil dalam kandungan terus bergerak-gerak. Sungguh aktif sekali, sampai kadang membuat terharu tanda dia merespon baik saat diajak ngobrol.


"Pak hari ini Ana akan pergi yaitu untuk periksa kandungan," pamitku meminta izin.


"Iya Ana, kamu hati-hati. Tapi beneran kamu tidak mau Bapak antar?" Ada guratan kekhawatiran.



"Gak usah pak, lagian restoran sekarang lagi rame-ramenya.-ramenya. as bisa berangkat sendiri," tolakku dengan halus.


"Baiklah, beneran hati-hati, ya! Jangan kemana-mana habis periksa. Suruh taxi langsung mengantar kamu pulang," imbuh pesan bapak.


"Iya, pak."


Langkah kaki kini menuju kamar untuk mengambil tas, tentunya untuk segera bersiap-siap meluncur pergi ke rumah sakit untuk memeriksa perkembangan si dedek bayi.



"Assalammualaikum," Salam seseorang diluar sedang menyapa bapak.


"Waalaikumsalam," jawab bapak, yang terdengar dalam kamarku.


"Siapa, Pak?" teriakku.


"Hai Ana!" sapa Edo


Teman sudah melambai tangan ketika aku baru saja keluar kamar.


"Hai juga Edo," Balik sapaku pada Edo, saat dia masih sibuk mencium tangan punggung bapak.


"Bagaimana kabar kamu sekarang?."


"Alhamdulillah sehat," sahut ramah.


"Tumben santai. Emang kamu lagi ngak kerja?" tanyaku.


"Hari ini aku sedang libur. Capek badan."


"Wah, kebetulan sekali, Edo. Ana mau periksa ke dokter kandungan. Bapak minta tolong antarkan Ana ke rumah sakit, kasihan jika dia sendirian pergi. Boleh 'kan Bapak minta tolong antarkan Ana sebentar."


"Ehh ... eeh, ngak usah Edo," jawabku kilat atas omongan Bapak.


Rasanya tidak enak jika merepotkan orang lain.

__ADS_1


"Bapak apaan sih! Ana bisa pergi sendirian. Lagian nanti merepotkan Edo saja, 'kan dia juga ada kesibukkan sendiri," imbuhku berkata sudah tak enak hati.


"Gak apa-apa, Ana. Lagian aku ada waktu kosong. Kalau dipikir-pikir, nanti kasihan juga sama dedek bayi, akibat ngambek sebab kamu bisa saja kecape'an," balas Edo ramah.


"Tapi Edo! Aku tidak mau kamu repot."


"Gak pa-pa, Ana. Biar aku saja yang mengantarmu, oke!" tekan Edo memaksa.


Hhh, hembusan nafas kasar. Diterima takut merepotkan dan kalau tidak diterima takutnya dia malah tersinggung.


"Kayak siapa saja, aku adalah temanmu yang siap siaga membantu kamu, jadi tidak usah sungkan-sungkan begitu 'lah," respon Edo.


"Kalau begitu baiklah, tapi aku ucapkan terima kasih."


"Sama-sama."


Kami berdua akhirnya berangkat ke rumah sakit yang kuinginkan, Edo sungguh baik hati sekali masih saja menolongku.


Dan selama enam bulan ini aku tidak pernah bertemu maupun bertatap muka dengan mas Adit lagi. Bagiku sungguh tak sudi rasanya untuk melihat wajahnya lagi. Semakin bertemu dengannya rasanya luka hati kembali menganga terbuka, atas semua ucapan dan hina-hinaannya.


Masalah perceraian tetap akan kulanjutkan setelah bayi ini lahir, secepatnya pasti aku akan menandatanganinya dan melepaskan semuanya.


Sesampainya dirumah sakit langsung masuk ruang pemeriksaan sebab masih sepi.


Lega rasanya hasil pemeriksaan ada kemajuan baik.


"Untuk anda kalau bisa jangan terlalu stres, sebab sepertinya kondisi anda sangatlah lemah dan dalam kondisi darah rendah," tegur dokter.


"Iya, Dok."


"Nanti akan saya beri resep dan vitamin biar bundanya sehat," imbuh dokter.


"Iya, Dok. Terima kasih."


"Sama-sama."


Hanya aku seorang yang memeriksa ke dalam dokter kandungan, sementara Edo hanya bisa menunggu di luar.


"Aku ucapkan, terima kasih Edo. Kamu masih saja berbaik hati kepadaku, padahal aku sudah pernah menyakiti hatimu," ungkapku merasa bersalah.


"Aku sudah melupakan semuanya, dan tentang masa lalu lupakanlah itu semua. Yang terpenting sekarang adalah masa depan, yang mana kita harus tetap menjalin pertemanan dengan baik," respon Edo dengan kesabarannya.


__ADS_1


"Terima kasih Edo, kamu adalah teman yang selalu saja pengertian terhadap diriku," ucap sambil memberi senyuman kepadanya.


""Heemm. Sama-sama."


Disaat kami sedang berbincang-bincang sambil berjalan, tanpa sengaja aku melihat dua sosok orang yang kini sedang kubenci, dan terlihat sekali dia sedang sibuk memapah kekasihnya.


"Edo kita lewat jalan lain saja," ajakku.


"Kenapa Ana!" jawab Edo penasaran.


"Kamu lihatlah ke depan!" suruhku.


"Ooh, aku paham. Ayo kita lewat jalan keluar di belakang saja," tawar Edo.


Sebab tak ingin melihat wajah mereka berdua, akhirnya kami memilih untuk menghindar. Bukannya aku takut atau tidak berani, tapi sungguh jika aku bertemu mereka takutnya emosi akan meledak-ledak kembali, dan aku tak menginginkan itu semua sebab bisa mempengaruhi bayiku.


"Kamu ngak kenapa-napa 'kan, Ana?" tanya Edo sudah merasa khawatir.


"Aku baik," jawabku saat kami sudah duduk di bangku luar rumah sakit.


"Maafkan aku Ana, jika kata-kataku ini memasuki urusan rumah tangga kalian. Dan aku ingin mengatakan satu hal padamu, jika kamu sudah merasa lelah dan tidak sanggup lagi bertahan, janganlah memaksakan diri. Dan kalau bisa berhentilah untuk menyakiti dirimu sendiri," Edo berbicara dengan penuh kelembutan, sambil menatap wajahku.


"Aku paham Edo, tapi sebenarnya aku masih banyak berharap agar rumah tangga kami bisa terselamatkan, yaitu demi anak yang kukandung," keluhku dengan penuh harapan.


Tahu sekali kalau Edo merasa khawatir makanya sekarang banyak bicara untuk menasehati.


"Seandainya saja aku bisa berpaling untuk pindah ke lain hati, mungkin hidupku tentang kisah cinta kami takkan serumit ini. Dan rasanya aku begitu tersiksa dengan hati yang terus saja menancap pada laki-laki yang sudah menorehkan luka dan penderitaan padaku," uraiku menjelaskan yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Aku juga paham Ana, tapi jika kamu selalu saja berharap lebih padanya, kamu sendiri yang akan terus merasakan luka, sebab harapan itu hanya sebuah harapan kosong dan sia-sia," tutur Edo penuh kebenaran.



"Aku tahu Edo, tapi bukankah cinta itu harus penuh pengorbanan," ucapku yang tak mau mengalah.


"Memang Ana. Cinta itu butuh sekali suatu pengorbanan, tapi berkorban untuk merelakan dan mengikhlaskan atas semua kenyataan yang ada, bahwa orang yang kita cintai belum tentu kita miliki seutuhnya. Jadi ikhlaskanlah semua rasa cintamu jika suatu saat akan hilang, sebab dengan hati ikhlas kamu bisa menjalani kebahagiaan dan rintangan dalam hidup ini, yaitu dengan mudah serta bebas," ucapan Edo yang penuh kedewasaan.


"Kalau bisa lepaskan semua beban yang membuatmu semakin terpuruk, carilah kebahagiaan yang hakiki, sebab kamu berhak mendapatkannya," imbuh kata Dio.


"Apakah manusia segois diriku berhak mendapatkan kebahagiaan," sela-selaku berbicara.


"Setiap manusia berhak bahagia dan hidup tenang, dan tak selamanya manusia harus terpuruk dalam kesedihan. Bangkitlah dari semua itu, sambutlah hari-hari baru penuh kebahagiaan bersama dengan anakmu nantinya," Edo menimpali penuh dengan pesan, yang kini membuatku sedikit terbuka pikiran.


"Baiklah Edo. Benar apa katamu itu, aku akan berusaha bangkit lagi demi anak yang kukandung," ucapku mengerti atas perkataan Edo.

__ADS_1


Hanya ada keheningan diantara kami, yaitu yang sama-sama sudah terdiam, sebab sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, yang mana mata kami sambil memandang orang-orang yang keluar masuk dari rumah sakit.


__ADS_2