Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Kekesalanku


__ADS_3

"Aahh ... aaaaa," Kekesalanku dengan menjambak rambut.


Prang ... prang ... bhuuk, semua barang-barang dalam kantorku sudah terbuang ke sembarang arah.


Setelah tertawa akibat ulahnya, dan saat teringat akan surat cerai yang diberikan Ana barusan entah mengapa hatiku begitu emosi.


Hatiku rasanya begitu teremas akibat mendengar kelimatnya, hingga hatipun merasakan sakit yang luar biasa. Ucapan Ana begitu menyengat hati, ketika kekuh mengungkapkan ingin tetap melanjutkan perceraian.


"Aku tidak akan menceraikanmu, Ana. Ini adalah janjiku. Dan masalah Salwa aku akan segera menyingkirkan dan memutuskannya," Teguh hati berbicara.


Hati terasa nyaman sekali jika Ana selalu didekatku, namun sayangnya pikiran merasa menolak untuk bersamanya. Apa yang harus terlakukan? Jadi bingung sendiri.


Baru kali ini diriku menyadari satu hal pada diri Ana, yaitu mengapa mereka selalu mencintai dan menyayanginya, dan ternyata tentang kepribadian Ana yang selalu mementingkan orang lain yang tanpa pamrih dan pilih kasih, begitu sempurna tanpa pilih-pilih dia selalu saja mengedepankan kepentingan orang lain dulu daripada dirinya sendiri.


"Kesalahamu sangat fatal, Adit. Sekarang orang yang berharga akan meninggalkan kamu," Hati berbicara pada diri sendiri.


Praang ... bhuuuk ... prang, tangan tak henti-hentinya mengacak semua benda diruangan untuk kubuang.


"Adit?" pekik Mama kaget.


Beliau tidak mengetuk pintu dulu. Segera masuk dengan suaranya yang kaget. Langsug menghampiriku yang tertunduk lesu melihat meja kerja. Diamnya mulut adalah ungkapan emosi telah menguasai.


"Kamu kenapa, Nak!" tambah Mama, saat mendekatiku yang kini beralih lemah duduk dilantai.


"Adit gak kenapa-napa, Ma."



"Gak mungkin kamu baik-baik saja, kalau semuanya kamu hancurkan begini!" tunjuk Mama ke arah barang-barang yang sudah berserakan.


Beberapa lembar kertas sudah berterbangan disembarang arah. Kerjaan yang bergulat dengan kertas, membuat ruangan bagaikan sudah terbengkalai lama akibat habis bersemburnya barang-barang yang sebenarnya masih digunakan.


"Lihatlah? Semua karyawanmu pada kebingungan, akibat suara yang kamu buat tadi. Mama langsung masuk sebab terdengar kacau."


Beliau sudah menunjuk ke arah pintu, sebab para karyawan sudah berkerumunan penasaran, ingin melihat apa yang kulakukan. Ada rasa malu, tapi semua terkikis oleh emosi.

__ADS_1


"Aku benar-benar baik-baik saja, Ma!" ucapku dengan netra sudah memerah berair.


Masih sempat mengelak. Tidak ingin beliau syok dan ikut campur.


"Kamu bilang baik-baik saja, tapi wajahmu menangis sedih. Gimana sih ini?" respon Mama kesal tapi ingin tertawa.


"Mama!" jawabku tak suka.


"Iya ... iya, ceritakanlah? Habisnya muka kamu lucu tapi ngeselin," suruh beliau.


"Ana, Ma. Ana dia-."


"Ada apa dengan menantu Mama itu?"


"Dia sudah menandatangani surat perceraian. Padahal Adit ingin Ana mengurungkan niatnya itu," jelasku.


"Mama sih gak begitu kaget, sebab ini semua murni berawal dari kesalahanmu sendiri," Entengnya beliau menjawab.



"Ya anak Mama 'lah. Tapi rasa sayang Mama sekarang sudah terbagi, dan kini kasih sayang itu lebih besar kepada Ana," jawab beliau santai.


"Aah, Mama kejam, dan sekarang benar-benar lebih sayang sama menantu dari pada anak sendiri," keluhku tak senang.


"Sudah ... sudah, kata-kata Mama barusan hanya bercanda, kok. Mana mungkin kasih sayang Mama lebih besar untuk orang lain, sedangkan kamu adalah anak satu-satunya yang paling kusayang dan kasihi," ungkap beliau menjelaskan.


"Terima kasih, Ma. Kamu memanglah ibu yang terbaik didunia ini," pujiku merasa senang.


"Sama-sama, Nak."


Beliau memeluk sebentar.


"Terus rencana kamu selanjutnya apa terhadap, Ana?" tanya beliau.


"Aku tidak tahu, Ma. Diri ini benar-benar sudah binggung, apalagi dengan hati yang kurasakan sekarang," jelasku berkata.

__ADS_1


Hhhh, nafas beliau terdengar kasar. Merasa berat atas masalah yang akan dilalui ananknya.


"Aku tak mengingat apa-apa lagi tentang Ana, tapi disebalik itu semua diri ini tak ingin melupakannya, dan ingin terus bahagia bersamanya. Dia adalah istriku. Jika memang dia wanita tidak baik, kenapa bisa menikah dan sudah melahirkan anakku."


"Itulah yang dinamakan ikatan bathin tentang cinta," cakap mama.


"Benarkah itu, Ma?" ucapku yang tak percaya.


"Iya Adit. Walau dia bukan kekasih maupun cinta pertamamu, tapi Mama yakin dia adalah wanita terakhir yang sudah ditakdirkan Allah untuk dijadikan istri kamu. Sehingga ikatan bathin dalam hati masih saja ada sinyal kuat diantara kalian, agar tetap bersatu walaupun masa-masa perpisahan dan pertengkaran menghadang cinta kalian. Dalam keadaan hilang ingatanpun kamu masih saja ada rasa ingin memilikinya," terang Mama penuh penjelasan.


"Benar juga katamu, Ma."


"Dia yang kamu jauhi sekarang, di masa-masa kemarin pernah kamu kejar. Mama ingat betul dengan kata-katamu, bahwa kamu dulu pernah berjanji untuk tidak meninggalkannya apapun yang terjadi, dan apapun keadaan yang menghadang rumah tangga kalian. Dan kamu berjanji akan tetap setia padanya, tetapi sekarang kamu benar-benar sudah lupa akan semua itu, hingga rasa bencipun datang untuknya. Sehingga janji dan komitmen yang dulu kamu pernah bilang dengan lidahmu itu, kini kamu khianati sendiri," imbuh Mama yang membuatku terbuka hati dan sadar.


Aku hanya terdiam seribu bahasa, akibat sudah penuh konsentrasi mencerna semua penjelasan beliau.


"Tapi, Ma. Ingatanku benar-benar hilang, tidak ada satupun kenangan kami yang kuingat. Terus apa yang harus keulakukan sekarang?" Suaraku tertahan menyimpan kekecewaan yang terpendam.


"Kamu harus sabar, Adit. Ini adalah jalan satu-satunya. Allah maha melihat dan mendengar, jadi seberat apapun masalah kalian, pasti akan ada petujuk atau celah agar kalian bisa bersama, " sahut ama dengan lembut.


"Pasti suatu saat kamu akan mengingat semuanya," ujar beliau.


"Hanya satu pinta Mama kepadamu, janganlah kamu menandatangani surat perceraian yang diberikan Ana, sebab kamu sendirilah yang akan menyesal di kemudian hari," pinta mama penuh harapan.


"Baiklah, Ma. Aku akan menuruti perkataanmu."


Perkataan beliau begitu damai dan menentramkan jiwa. Tidak ada salahnya jika aku jadi anak penurut pada orang yang sudah melahirkan dan kasih sayang seenuh jiwa raga.


"Kamu baik-baiklah, jangan bersedih lagi, oke!" ucap beliau agar aku semangat.


"Iya, Ma. Terima kasih atas nasehatnya."


"Mama yakin kamu bisa, dan percayalah bahwa CINTA ITU ADALAH JALAN, dan tak akan membohongi pemilik hati yang suci untuk tetap mencintai pasangannya," ucap Mama mencoba memberi semangat.


"Iya, Ma."

__ADS_1


Cukup sadar jika untuk saat ini aku bukanlah orang yang terbaik bagi Ana. Mungkin masalah ini adalah tujuan utama untuk menguji kesetiaan dan bukti apakah hati ini tulis untuk Ana.


__ADS_2