
Hanya bisa menatap heran ke arah mereka. Dengan terperangah memperhatikan sikap Mas Adit yang agak gesit. Dari ujung rambut sampai mata kaki kuperhatikan lamat-lamat tubuhnya.
"Kak Nola? Ini beneran kamu Kak Nola 'kan?" ucap mas Adit pada perempuan itu.
"Iya ini aku. Wah, ingatan kamu masih baik saja, masih ingat kepada Kakak kelasmu ini," puji perempuan itu.
"Gimana kabar kamu, Kak!" tanya mas Adit yang kian kepo.
"Alhamdulillah aku baik, Adit." Jawabnya dengan senyuman lebar, memamerkan giginya yang menyilaukan.
"Kalau kamu?" tanyanya berbasa-basi.
"Alhamdulillah aku juga baik, kak."
Pertemuan yang memuakkan. Entah mengapa aku rasanya eneg sekali, melihat wanita yang bernama Nola didepan kami sekarang ini. Wajahnya lumayan cantik, tapi yang tak kusuka cara dia berpakaian yang terlalu sexy dan kurang bahan. Umurnya terlihat agak lebih tua dari kami, tapi cara beriasnya seperti anak muda, dengan polesan terlalu menor sekali, apalagi bibirnya terlalu mencolok kemerahan seperti habis menghisap darah.
"Ooh, ya Kak. Kenalin ini istriku namanya Ana," tunjuk mas Adit.
Masih mencoba bersikap ramah. Tidak baik jika mengabaikan orang yang ingin berkenalan.
"Salam kenal Kak, namaku Ana." ucapku yang sedang mengulurkan tangan, berusaha mengajaknya berkenalan.
__ADS_1
"Iya, salam kenal juga. Aku Nola kakak kelas Adit," jawabnya menyambut jabatan tanganku.
Terasa sekali dia terlalu menekan kuat ketika menyambut tanganku, dan itu terasa sangat sakit, sehingga secepat kilat segera kulepaskan tanganku darinya.
Wajahku hanya tersenyum-senyum tipis saat matanya terus saja memperhatikanku. Terlihat sekali dia kelihatan tak suka padaku, tapi nak berkata apa lagi, yang bisa kulakukan hanya mengacuhkan dia saja. Diri ini hanya bisa diam seribu bahasa, tanpa ada percakapan diantara kami, dan hanya mas Aditlah yang sembari tadi terus mengoceh pada perempuan itu.
Duduk diam sambil memandangi awan seputih kapas. Tidak ada pemandangan lain selain awan yang bergelombang. Hawa dingin dari Ac pesawat semakin membuat tangan memeluk tubuh sendiri.
Rasa bosanpun mulai datang, sebab mas Adit sudah acuh tak acuh terhadapku, dan dia kelihatan asyik sekali menikmati obrolan dengan kakak kelasnya itu. Matapun berusaha kupejamkan, agar bisa tidur dengan nyenyak, serta supaya tak mendengar lagi obrolan mereka yang menurutku sangat memuakkan, akibat bercerita masa-masa SMA mereka yang ketika masih culun-culunnya.
"Iih dasar perempuan aneh, kenapa juga sih dia duduk tepat didekat kami," Kekesalanku dalam hati berpura-pura tidur.
Mata masih saja enggan terpejam, akibat suara mereka yang kian berisik, yang sama-sama tertawa terkikik.
"Aku adalah seorang janda, dan baru satu tahun yang lalu telah bercerai," Penjelasan perempuan itu.
"Maafkan aku, Kak. Atas pertanyaanku yang membuatmu kini sedikit terasa bersedih,"
Mas Adit yang menurutku semakin lebay. Ingin rasanya kujawab saja ocehannya, namun tidak enak sama penumpang lain takut menganggu.
"Gak pa-pa, Adit! Kamu bertanya sebab tidak tahu," respon perempuan itu.
"Wah, walaupun kakak janda masih cantik kok! Kalaupun mau dapat pengganti, kemungkinan besar akan mudah mendapatkannya. Pasti banyak tuh cowok yang antri, iya 'kan? ujar mas Adit memuji.
__ADS_1
Makin dibiarkan makin gatel saja ucapan suami ini. Mau tebar pesona atau mencari perhatian. Kalau tidak banyak orang pasti banyak keluhan yang kuungkapkan.
"Uhuk ... uhukk ... ueeek. Uhukk ... uuuek," Kepura-puraanku tersedak.
"Duh, kamu kenapa sayang?" tanyanya langsung merespon mau membantuku.
"Aku gak kenapa-napa, Mas. Cuma keselek saja mendengar sesuatu yang panas dalam telingaku tadi," singgungku berkata.
"Maksudnya apaan, sih!" kebinggugan Mas Adit bertanya.
"Udah ... udah, aku gak pa-pa. Lupakan perkataanku barusan," Jawabku sambil meneguk air putih dalam botol.
"Tapi-?"
"Lanjutkan obrolan kamu saja, aku mau melanjutkan tidur. Pusing rasanya kepalaku," imbuhku berbohong, dan mengalihkan kata akibat sudah sedikit kesal.
"Kamu ngak pa-pa, mana yang sakit? Sini, biar Mas bantu memiijit," Kekhawatirannya.
Tangan lebar itu sudah menyetuh kepalaku. Nyaman jika dia beralih memperhatikan istrinya ini. Rasa cemburu mungkin hadir, maka dari itu sebisa mungkin mencari akal agar suami tidak ngoceh lagi mulutnya bersama orang lain.
Terlihat sekali perempuan si Nola itu antusias menatap tajam secara sinis, saat Mas Adit begitu mesranya mengkhawatirkan keadaanku.
"Aduh ... duh, sakit. Itu tuh bener ... bener mas, yang itu! Pijit terus mas, kepalaku rasanya mau pecah. Pijit ... pijit terus, Mas!" ucapku berpura-pura sakit kepala.
__ADS_1
Minyak kayu putih terus saja dioleskan Mas Adit, dipinggiran kepalaku dikiri dan kanan. Si Nola hanya memperhatikan saja, dan terlihat dia sedang menyungingkan bibir keatas, seperti risih sekali akibat kesetiaan mas Adit merawat diriku. Aku melakukan akting ini semua, sebab biar mas Adit berhenti berbincang-bincang pada kakak kelasnya itu.
Setelah dirasa cukup membantuku memijit kening, akhirnya aku tertidur dengan memeluk lengan mas Adit, dan tanpa sadar pula suami tercinta ternyata ikut-ikutan juga tertidur bersandar dikepalaku.