
Kami berdua masih sibuk mengikuti suami kak Nola, dan pada akhirnya dia berhenti sampai kesalah satu ruangan, yang mana suami kak Nola sedang berbincang-bincang sepertinya penting dengan pegawai RSJ.
"Duh, apa yang dilakukan teman mas Adit itu? Kenapa harus kerumah sakit jiwa segala? Apa yang sebenarnya dia sembunyikan, ya?"
"Aku penasaran banget, siapa yang ditemui sama suami kamu, Kak?" ujarku teta fokus mengamati dari jauh.
"Sama, Ana."
Kelihatan suami kak Nola masuk bersama pegawai RSJ, sehingga kamipun hanya bisa mengawasi dan menunggunya dari kejauhan. Menit demi menitpun telah berlalu, kelihatan suami Kak Nola begitu lama sekali menemui orang yang ada dalam kamar itu. Kami berdua bersembunyi dibalik tembok, jadi tidak akan dipergokki oleh dia.
"Siapa ya Ana, kira-kira yang ditemui suamiku? Kok lama banget ya, orangnya seperti penting sangat?" tanya kak Nola.
"Mungkin keluarganya atau teman spesial, sehingga dia begitu lama. Tak mungkin tak berarti dan lama sekali, kalau dia memang kerabat orang jauh," jawabku menduga-duga.
"Iya .. yah Ana. Tapi suamiku tak punya kerabat dekat, benar-benar aneh sekali," tutur kak Nola binggung.
Akhirnya orang yang membuat kami menunggu telah keluar, dan dia kelihatan berubah ekspresi seperti cemas, beda sekali waktu dia datang hanya menunjukkan kedataran dalam kebahagiaan. Setelah sekian menit bercakap-cakap dengan pegawai rumah sakit, akhirnya suami kak Nola sudah melenggang pergi menjauhi kami, yang masih sibuk mencoba mengintai.
"Ayo kak, kita samperin pegawai rumah sakit itu!" suruhku dengan tergesa-gesa sebelum pegawai rumah sakit pergi.
"Heem, ayo. Kita harus cepat sebelum pegawai itu pergi," Anggukan kak Nola setuju.
Kami berduapun sudah berjalan melangkah lebar-lebar, supaya bisa menanyai pegawai rumah sakit dengan segera.
"Tunggu?" panggil Kak Nola.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" jawab pegawai pria.
"Ada hal yang ingin kutanyakan padamu?" balik jawab kak Nola.
"Maaf, tentang apa ya!" ucap si pria pegawai binggung.
"Tentang orang yang sekarang berada didalam. Siapakah dia?" tanya Kak Nola tergesa-gesa.
Kami sudah berdiri tepat didekat ruangan yang habis dikunjungi suaminya.
"Maafkan saya, Nona-nona. Kami tidak diizinkan memberitahu siapa orang yang ada didalam, sebab orang yang didalam telah dilindungi, agar tidak boleh menyebarkan siapa sebenarnya orang didalam," jawab pegawai pria itu
"Tapi kami beneran ingin tahu siapa orang yang ada didalamnya, sebab ini menyangkut keselamatan teman saya," Alasanku menjelaskan.
"Maaf ... maaf sekali lagi, saya benar-benar tidak bisa membantu, sebab sudah prosedur dari atasan, bahwa pasien ini spesial sekali yang tidak boleh ada orang yang mengetahui identitasnya," cakap pegawai pria masih enggan memberitahu.
Merengek bagaikan anak kecil, hanya demi sebuah informasi.
"Maaf mbak ... maaf ... maaf, saya harus pergi sekarang," pamitnya yang berusaha melarikan diri.
"Tunggu," cegah kak Nola.
"Ada apa lagi sih, Mbak?" ucap pegawai itu kelihatan kesal.
"Ambilah ini! Tapi tolong ... tolong, kasih tahu siapa perempuan didalam, please!" pemohonan kak Nola.
__ADS_1
Satu gepok alat tukar penting itu disentuhkan tangan pegawai.
"Tapi Mbak," Keraguan pria pegawai.
"Ayolah, please. Bantu kami," Permohonan kak Nola lagi
Kak Nola sudah memberikan sejumlah uang pecahan berwarna merah dan biru, dan terlihat pegawai pria itu seperti binggung, antara mau atau tidaknya memberitahu.
"Eem ... baiklah."
"Tapi ayo cepat ... cepat masuk, sebelum ada orang yang mengetahuinya, cepat ... cepat," suruh pegawai itu tergesa-gesa.
Ceklik ... ceklik, sebuah kunci sudah diputar, untuk membuka pintu yang ada orangnya.
Akhirnya kami bertigapun dengan tergesa-gesa sudah masuk, dan secepat kilat pulak pria pegawai menutup pintu, dengan mata sempat clingak-clinguk melihat keadaan diluar, seperti melihat jangan sampai ada
orang yang mengetahui kelicikannya.
Terlihat diruangan yang kami injak ini, ada seorang perempuan yang sedang duduk, dengan netra penuh tatapan kosong. Dia cantik tapi sedikit agak membingungkan, sebab dia hanya diam dengan wajah menatap lurus ke arah tembok.
"Siapa dia?" tanyaku penasaran.
"Dia adalah adik kandung dari pria yang barusan menjeguk tadi," Keterangan pria petugas.
"Apa?" ucapku dan kak Nola kompak.
"Beneran yang kamu katakan?" tanya Kak Nola tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Mana mungkin aku petugas yang telah kerja disini bertahun-tahun, bisa membohongi orang. Lagian aku kenal dengan perempuan ini namanya Putri, dia sudah bertahun-tahun ditempatkan disini, tapi kelihatannya tak ada kemajuan dan belum sembuh-sembuh," penjelasan sang pegawai.
Terlihat kak Nola syok atas kejadian ini, mukanya yang penasaran kelihatan pucat pasi, mungkin sangking tak percayanya dia.