
Hati siapa yang tak senang, jika sang pujaan hati yang lama sudah terlupakan, kini tiba-tiba telah kembali hadir. Aku pikir Adrian selamanya akan marah padaku, namun dugaanku salah. Selain sikapnya yang sudah semakin dewasa, kini dia lebih baik hati dan selalu ramah.
"Apa aku harus mendapatkanmu lagi, Adrian? Setelah sekian tahun kita tak bertemu, akhirnya takdir yang tak disangka telah berpihak pada kita. Aku sangat merindukanmu, Adrian. Semoga saja hubungan kita akan semakin baik, tak seperti kemarin yang ada hanya ketegangan saja," rancau hati yang merasa senang.
Wajah sudah kupoles dengan make up setipis-tipisnya, agar bisa mengeluarkan aura cantik namun elegan jika dipandang. Walau kutahu Adrian tak akan bakalan mencintaiku, namun aku ingin menjadi teman sejati yang selalu ada untuknya. Entah mengapa jika didekatnya diriku selalu dilanda kebahagiaan, walau hati perih menyaksikan Adrian selalu saja mengutamakan Karin.
"Tak apa 'lah, kamu tak bisa aku miliki Adrian, yang penting kamu masih mau berbaikan denganku saja, itu sangat-sangat membuatku bahagia," rancau hati yang kini siap meluncur ke tempat Adrian janjian.
Tas selempang kini telah menjadi temanku untuk berjumpa dengan Adrian segera. Mobil taxi sudah melesat dengan kecepatan sedang, saat santainya aku duduk dengan hati begitu terasa cemas namun senang.
Bhug, pintu mobil taxi telah kubanting pelan untuk menutup, saat sudah sampai depan kafe yang sudah diberitahukan dulu alamatnya oleh Adrian.
"Hei, Adrian?" panggilku melambaikan tangan, ketika sudah memasuki kafe.
"Aai, siapa anak kecil itu? Kenapa kelihatannya akrab banget sama Adrian?" tanyaku dalam hati, sambil berjalan menuju mereka yang sudah duduk.
"Apakah aku terlambat dan menganggu waktumu, sebab lama menungguku datang?" tanyaku tak enak hati.
"Enggak, kok. Kami baru saja datang juga. Benar 'kan, sayang!" jawab Adrian mengajak bicara pada anak kecil itu.
"Sayang? Apa maksudnya ini? Apa jangan-jangan dia ... dia itu adalah--?" guman hati yang bertanya-tanya.
"Dia ini siapa, Adrian?" tanyaku penasaran.
"Oh, dia ini namanya Naya, dia adalah anak Karin," jelas Adrian.
"Waduh, apakah aku salah berharap jika Adrian tak bisa lagi bersama Karin. Heeh, sungguh mengecewakan sekali Yona, saat anaknya saja telah dekat dengan Adrian apalagi Karin, pasti mereka sudah berbaikkan, saat buktinya saja anak Karin bersama Adrian. Tentunya kamu tak akan ada harapan lagi untuk mendekatinya, Yona!" rancau hati yang kecewa berbicara pada diri sendiri.
"Naya, apa tidak mau kenalan sama tante yang ada didepan Ayah sekarang?" tanya Adrian pada anaknya.
__ADS_1
"Oh, iya Ayah. Maaf. Naya lapar, jadi lupa mau kenalan," jawab kepolosan anaknya.
"Maaf ya, Tante. Nama saya Naya, anak angkat Ayah," ucapnya mengemaskan.
"Anak angkat? Wah, apalagi ini? Aku ketinggalan berita apa lagi ini? Kenapa Naya memanggil ayah angkat, kenapa tidak kandung? Benar-benar situasi yang membingungkan," guman hati yang terus saja bertanya-tanya pada diri sendiri.
"Iya, sayang. Panggil saja aku tante Yona."
"Iya, tante Yona."
Perasaan terus saja berkutat dengan segudang pertanyaan yang aneh, atas hubungan antara Karin dan Adrian. Namun semua itu dapat kusembunyikan dalam hati saja, sebab aku tak ingin Adrian tahu kalau aku masih berharap banyak padanya.
Kami bertiga terus saja menikmati hidangan yang telah disediakan kafe. Cantik dan pintar, yang kini kutangkap dari sikap anak Karin. Wajah polosnya tanpa sadar sering membuatku tertawa, diiringi canda tawa Adrian yang bisa melucu juga.
"Alhamdulillah, akhirnya kita semua kenyang juga, setelah menikmati hidangan yang enak-enak ini," ucap syukur Adrian.
"Benar itu, Adrian. Perutku rasannya begas, akibat terlalu kekenyangan," jawabku membenarkan.
"Ya sudah. Naya habis ini akan Ayah antar kepada bunda, gimana?" tanya Adrian.
"Aku ikut ya, Adrian. Sebab tadi aku berangkat kesini memakai taxi, jadi nanti aku minta tolong antarkan pulang sekalian, gimana? Boleh 'kan?" tanyaku berbasa-basi.
"Tentu saja, Yona. Aku yang mengajak kamu ketemuan, jadi aku pulak yang harus tanggung jawab mengantarkan kamu," jawab Adrian setuju.
"Yes ... yes, akhirnya rencana kamu untuk bersama Adrian akhirnya kesampaian juga, Yona. Akalmu ternyata pandai berpikir juga, untuk tak menyetir bawa mobil sendiri, agar bisa berlama-lamaan dengan Adrian," guman hati yang gembira.
Ternyata sedikit menyebalkan, saat Adrian menyuruhku duduk bersama si Naya dibelakang. Niat hati bisa duduk lebih dekat dengan Adrian didepan, ternyata hanya angan dan mimpi belaka.
"Nah, kita sudah sampai ini," jelas Adrian.
"Waduh, aku bakalan ketemu sama musuh bebuyutan, yang sudah sekian tahun tak pernah bertemu nih. Aku kok jadi deg-degkan begini, ya! Apa yang akan terjadi pada kami nanti, saat dulu pernah jadi musuh yang tak saling akur," guman hati yang sudah gemetar.
Tangan mulai berkeringat dingin, dan entah apa yang terjadi padaku sekarang. Mungkin akibat Karin telah menaruh tak suka dan dendam pada diriku, makanya kini aku jadi parno ketakutan sendiri.
__ADS_1
Dulu mottoku adalah tak boleh kalah oleh siapapun, siapa yang berani menentang dan mengahadang pasti akan kutebas duluan, namun ketika sudah sedikit dewasa, kini mulai mengerti atas arti kesalahan itu. Tapi entah mengapa aku begitu benci dan muak banget pada Karin. Apa mungkin Adrian selalu memikirkan Karin dan tak membalas cintaku, hingga aku sering kali kasar dan menyakiti Karin.
"Bunda?" teriak Naya memanggil, saat kami bertiga mulai masuk toko roti.
"Kamu?" Keterkejutan Karin, saat sudah menoleh melihat kami.
"Hei, Karin. Sudah lama ya kita tak pernah bertemu. Gimana kabarmu?" Basa-basiku mencoba ramah.
"Aku baik. Kenapa kamu kesini? Bukan mau buat ulah 'kan?" tuduh Karin.
"Apaan sih kamu ini. Aku datang kesini baik-baik ya, jadi jangan asal nuduh saja," ketusku menjawab.
"Iya, Karin. Yona bukan bermaksud apa-apa kesini, lagian aku yang mengajaknya tadi," pembelaan Adrian.
"Oowh, baguslah kalau ada pengawal yang bisa mengawasi, sebab aku tak mau ada kegaduhan ditoko ini," ketus ucap Karin.
"Ada apa, sayang? Kenapa kudengar tadi ada sedikit ribut-ribut," tanya datang seorang pria yang tampan juga.
Netra telah melihat kearah jari pria yang berdiri didekat Karin sekarang, dan ternyata cincin yang dipakai mereka berdua hampir sama, bagaikan sepasang kekasih yang sudah resmi.
"Apa dia adalah kekasih, Karin? Wah, berarti ini kesempatan emas, agar aku bisa mendekati Adrian lagi," Kegembiraanku berkata dalam hari.
"Tidak ada apa-apa, Chris. Hanya masalah kecil masa lalu saja," jawab cemberut Karin.
"Maksudnya apa? Apa Adrian berbuat masalah lagi sama kamu?" cakap pria yang bernama Chris.
"Tidak ada apa-apa, Chris. Sudah, kita bawa Naya kebelakang saja," cakap Karin tak ramah.
"Baiklah kalau begitu. Sini sayang, om akan gedong kamu," ucap pria itu yang nampak sayang sama Naya.
"Kalau kalian tak ada urusan ditoko ini lagi, kalian boleh pergi sekarang, sebab kami sedang sibuk dengan pekerjaan," usir Karin secara halus.
__ADS_1
"Emm, baiklah. Kami akan pergi, maaf jika sudah menganggu kenyamanan kamu," ucap kesabaran Adrian.
Aku yang melihat situasi ini, hanya bisa dibuat bingung atas semuanya. Rasanya banyak sekali pertanyaan yang tertahan dikepala, atas kekepoanku diantara hubungan mereka.