
Kejadian sebelum mengejar Yona >>>>
Harus merencanakan sesuatu yang lebih baik lagi, untuk menyelidiki rumah Yona. Pasti disana benar-benar ada Karin, sebab hanya dialah yang gerak-geriknya mencurigakan dan selama ini tidak suka terhadap Karin.
"Kita harus merencanakan semuanya dengan matang, agar tindakan seperti kemarin tidak gagal lagi," ucapku pada Chris.
"Benar itu, Adrian. Lebih baik kita segera bergerak cepat, sebelum Yona melakukan hal-hal diluar batas lagi," saut Chris membenarkan.
"Kita awasi saja terus rumahnya itu. Jangan sampai lengah untuk mendapatkan petunjuk," imbuh Chris.
"Benar itu."
Sudah lama sekali aku dan Chris menunggu dalam mobil, tapi belum ada tanda-tanda pergerakan dari Yona. Malam ini kami harus tetap terjaga untuk mengawasi rumah Yona. Mobil sudah terparkir tepat didepan rumah tetangganya.
Udara dingin terasa telah menusuk tulang, walau kami sedang memakai jaket tebal sekalipun. Rasa bosan sedang mengawasi, membuat telinga tersumpal handset untuk mendengarkan lagu dari gawai. Netra terus saja terjaga untuk memandangi lurus kearah rumah Yona.
"Huaah ... huaah," Berkali-kali mulut Chris terus saja menguap.
"Kelihatannya kamu ngatuk sekali, Chris."
"Iya, Nih. Enggak tahu kenapa dari tadi menguap terus."
"Apa kita perlu menyudahi acara mengintainya?" tanyaku yang tidak tega.
"Ooh, jangan. Kalau kita menyerah pasti akan kehilangan jejak Yona."
"Tapi kelihatannya kamu sudah tidak kuat lagi ngantuknya."
"Kamu belum ngantukkan?" Balik tanyanya.
"Belum. Memang kenapa?."
"Gimana aku tidur duluan, kamu yang jaga. Kalau sudah hilang rasa kantuk, nanti aku akan gantian jaga. Gimana?" Ide Chris yang cemerlang.
"Emm, baiklah."
"Sipp 'lah kalau begitu."
Rencana Chris yang dia sebutkan sekarang kami nikmati dengan rasa tegang, akibat ingin tahu tentang kebenaran penculikan ini.
Rasa kantuk ternyata mulai menyerangku juga, saat tangan berkali-kali menutup mulut yang terus saja menguap.
"Jangan ... jangan terpejam matamu, Adrian. Kamu jangan sampai lengah, sebab ada Karin yang sekarang benar-benar membutuhkan pertolonganmu."
"Iya, benar. Aku harus tetap terjaga."
"Bagaimana keadaan kamu sekarang, Karin? Apakah keadaan kamu baik-baik saja, jika memang benar sekarang berada ditangan Yona. Semoga saja kamu tetap dalam keadaan baik dan tidak terluka sama sekali," guman hati yang pilu saat rindu ini begitu mengebu, ingin menemui wanita yang selama ini menjadi pujaan hati.
Mata benar-benar tidak bisa diajak kompromi sekarang, saat kepala terus saja jatuh terkulai lemas, sebab rasa ngantuk begitu menyerang.
__ADS_1
"Adrian ... Adrian, lihat ... lihat? Bukankah itu Karin?" ucap Chris yang sudah memukul-mukul lenganku, saat mata benar-benar telah terpejam.
"Hemm, apa ... apa?."
"Lihat ... lihat, kesana!."
"Hah, mana ... mana?" jawabku kaget dengan mata langsung terbelalak dan seketika mencoba menghilangkan rasa ngantuk itu.
"Itu ... itu?" ucap Chris antusias.
"Ayo masuk ... ayo masuk," Suara teriak-teriak Yona menyuruh seseorang.
"Aaah benar, itu Karin. Ayo ... ayo, kita cepetan turun?" ajakku.
"Tunggu, sebentar. Sepertinya mereka akan pergi?."
"Lebih baik ikuti saja mobilnya sekarang. Ayo ... ayo kita ikuti mereka, sebelum kehilangan jejak!" suruhku sudah kebingungan, saat mobil Yona sudah kelihatan keluar dari gerbang rumahnya.
"Baiklah, ayo!" ucapku yang sudah panik tergesa-gesa, ingin segera menghidupkan mobil.
Langsung saja kutancap gas, untuk mengikuti Yona dari kejauhan. Diriku begitu tak menyangka, bahwa Yona akan berbuat nekat dan seberani ini.
<<<<
Gagal 'lah yang kami lakukan sekarang, ketika mau mencegah mobil Yona malah dia berani kabur menghindari kami.
******
Mobil terus saja mengejar, walau Yona begitu ngebut mengendarai untuk menghindari kami. Tidak pantang menyerah yang kami lakukan, agar segera mendapatkan Karin yang kini pasti sedang ketakutan.
"Wah ... waah, ternyata Yona benar-benar nekat dan gila saja," gerutu Chris kesal.
"Untung saja kamu tidak jadi pacaran dengannya, bisa-bisa hidupmu akan ngenes dan hancur jika bersama Yona," ucap Chris yang masih saja ingin mengajakku berbicara.
"Emm."
"Ooh ya, Adrian. Apa tidak sebaiknya kita laporkan ke pihak kepolisian saja. Sepertinya Yona tidak akan menyerah begitu saja untuk melepaskan Karin!" ide Chris.
"Apakah itu harus, Chris!" tanyaku yang gagal fokus, akibat sudah terlalu khawatir pada Karin.
"Iya, Adrian. Kita harus minta bantuan pada polisi. Kelihatannya Yona akan berbuat nekat dan lebih gila lagi, sebab sudah tahu bahwa kita akan menyelamatkan Karin, tapi dia malah semakin berani menghindari kita," desak Chris menyuruh.
"Baiklah, kalau menurut kamu itu bagus dan bisa menyelamatkan Karin. Aku akan segera melaporkan dan meminta bantuan polisi. Tapi kita ikuti dia dulu, kemana dia akan membawa Karin pergi!" Setujunya ucapanku.
"Baguslah kalau kamu setuju."
Terasa lama sekali mengikuti mobil Yona. Kami memberi jarak agak jauh, sebab biar dia tidak mengetahui bahwa aku telah mengikutinya terus. Bisa gawat jika dia mengetahuinya, pasti dia akan berbuat nekat melawan lagi dan kami bakalan kehilangan jejaknya, sehingga bisa-bisa membahayakan keadaan Karin.
"Dimanakah ini, Adrian?" tanya Chris penasaran, saat mobil kami terparkir tepat didekat gerbang rumah persinggahan penculikan milik Yona.
__ADS_1
"Sepertinya kalau ngak salah ingat, ini adalah rumah keluarganya yang sedang menetap diluar negeri," jawabku yang sudah melihat seksama keadaan sekitaran rumah.
"Ooh, berarti sepi dong!" imbuh kata Chris.
"Mungkin. Sebab keluarganya sudah enam tahun yang lalu diluar negeri, bisa jadi keadaan rumahnya memang sepi," responku masih selidik menatap rumah.
"Berarti kita bisa segera melancarkan penyelamatan dengan mudah. Tapi sebelumnya kita harus meminta bantuan dari pihak kepolisian dulu, takutnya nanti akan ada hal-hal yang tidak diinginkan," suruhnya.
"Baiklah, Chris. Aku akan segera menelpon."
Tut ... tut, nomor kantor kepolisian telah kutekan, untuk segera menghubungi pihak mereka.
[Hallo pak, selamat siang]
[Siang, pak. Ada yang bisa kami bantu?]
[Ini pak, saya ingin melaporkan tentang adanya kasus penculikan. Dan kami sekarang minta bantuan dari pihak kepolisian, untuk membantu kami mengatasi masalah ini. Disebabkan korban sedang dalam tahap penyanderaan, sedangkan pelaku sepertinya tidak mau menyerah begitu saja]
[Baiklah pak. Kami telah menerima laporan anda, dan secepatnya akan ke sana dengan membawa bala bantuan. Berikan alamatnya kepada kami, agar kami segera membantu dan secepatnya datang ke sana!]
[Alamatnya adalah Desa Kenanga, Jalan Jambu, no.11 blok D]
[Baiklah, kami akan segera ke sana dan membantu anda]
[Terima kasih, pak]
[Iya]
Akhirnya kami terpaksa meminta bantuan kepada pihak kepolisian, biar nantinya bisa menyelamatkan Karin dengan mudah dan tanpa ada kendala lagi.
"Gimana, Adrian?" tanya Chris.
"Alhamdulillah, mereka sangat siap untuk membantu kita dan katanya akan segera meluncur ke sini," jawabku yang sudah sedikit merasa lega, karena ada bala bantuan dari pihak kepolisian.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi rasa-rasanya aku sungguh tidak sabar ingin segera menyelamatkan Karin," keluh Chris.
"Tapi Chris, apa tidak sebaiknya kita menunggu pihak kepolisian saja," sahutku tak setuju.
"Takutnya nanti lama sekali menunggu mereka."
"Bukankah lebih baik kita langsung saja masuk ke rumah itu, sebab aku takut Karin akan diapa-apakan Yona secara sadis lagi. Apa kamu tidak lihat! Betapa kacaunya penampilan Karin tadi, walau samar-samar terlihat?" urai Chris mengingatkan.
"Aku tahu Chris aku juga melihatnya tadi. Tapi---?."
"Aah, sudahlah. Jangan kebanyakan mikir, ayo berangkat." Chris sudah menarik tanganku kuat agar mengikuti keinginannya.
"Iya ... ya, baiklah ayo kita masuk! Lagian Yona hanya sendirian dan seorang perempuan juga," balasku menyanggupi.
"Siip, pintar itu."
Akhirnya aku dan Chris turun dari mobil, yang berusaha maju dan nekat untuk segera menyelamatkan Karin.
__ADS_1
Pintu gerbang telah dikunci dari dalam, dengan terpaksa aku naik melompati pagar, setelah itu membuka pintu gerbang agar Chris bisa masuk dengan mudah.