Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Sibuk Sama Kerjaan. SEASON 2


__ADS_3

Setahun sudah orang yang selama ini kukagumi telah tiada. Setiap hari kamis malam jumat, tempat peristirahatannya selalu kutandangi dengan mendoakan dan menaburkan bunga baru, sebagai tanda aku masih hadir disisinya terus.


Kehidupan kembali normal seperti biasa, walau kadang pikiran dan hati tidak bisa lepas dari semua kenangan.


Keluarga kak Adrian sudah mengangkat sah Naya sebagai keluarga mereka, dengan memasukkan namanya dalam kartu keluarga. Tes DNA telah sesuai dengan kepuyaan kak Adrian. Semua harta benda milik kak Adrian kini diatas namakan Naya. Semua dapat dimiliki Naya setelah dia dewasa nanti. Tentunya bisa mengelola dan memahami akan harta itu dulu.



Walau kami sudah mendapatkan hak warisan dari kak Adrian, tapi aku tidak mau terus-menerus mengantungkan harta itu. Bagiku itu bukan hak milikku sepenuhnya, tapi milik anak kandung. Hidup masih bertahan bersama orangtua angkat dikampung. Sedangkan Naya kini telah ikut mama dan papa kak Adrian. Walau berat berpisah, namun tetap tak tega sama mereka karena sudah menganggap Naya adalah kak Adrian itu sendiri.


Semua berjalan dengan baik dan damai. Walau terpisah tapi sering bertandang pada anak. Untung saja Naya tidak rewel dan mau ikut sama mereka, mungkin dulu sudah sering diajak kerumah itu dan akrab sama orangtua jadi Naya bisa tenang.


Hubungan tetap berjalan lancar diantara kami, tak ada sedikitpun rasa kecewa terhadap diriku, sebab karena kejadian penyelamatan penculikan itu kak Adrian kini telah tiada.


Amanat pekerjaan yang diberikan Chris tetap kujalankan, yaitu menjalankan bisnis toko kuenya yang sekarang semakin maju pesat. Status tetap sebagai pemegang kedua setelah Chris. Semua telah diserahkan padaku dengan sukarela. Dia memberikan kepercayaan penuh bisa menjalankan dan memegang tokonya itu.


Hari ini sibuk sekali menghadapi pekerjaan ditoko. Tangan dari tadi tak lepas, untuk terus mengaduk-aduk tepung sebagai bahan dasar pembuatan kue.



"Mbak, gimana apa sudah selesai?" tanya pegawai.


"Apanya yang selesai?" jawab tak menatap orangnya langsung, sebab fokus sama apa yang kulakukan sekarang.


"Yang orderan kue ultah itu?" Pegawai sudah mengingatkan.


"Yang mau dikirimkan didekat mall itu 'kah?" ucap mencoba mengingat-ingat.


"Benar, Mbak. Tapi sekarang pegawai pada sibuk dan banyak sedang keluar mengantar pesanan. Terus gimana, nih? Sedangkan saya sibuk melayani tamu yang terus saja membludak datang," keluh pegawai.


"Oh, gitu."


"Ya, sudah. Biar aku saja yang mengantarkannya."


"Tapi Mbak, tidak marah 'kan mengantarkannya sendirian?" Keraguan pegawai.


"Santai saja, ngak pa-pa kok. Yang penting jangan mengecewakan pelanggan saja. Oh ya, kamu nanti suruh pegawai lain untuk melanjutkan kerjaanku ini," Tangan sudah menyudahi menguleni adonan.


Langkah sudah mendekati kran air yang tersedia, untuk segera membersihkan tangan.


"Sipp, mbak. Lagian kue yang dibuat ini tidak buru-buru 'kan?" imbuh pegawai.


"Iya. Jadi bisa sedikit santai membuatnya nanti. Soalnya baru jam empat sore akan diambil," jawaban memberitahu.


"Sipp 'lah kalau begitu, Mbak."

__ADS_1


"Ya, sudah. Aku akan berangkat mengantar pesanan sekarang. Takutnya jika terlambat pelanggan akan kecewa juga nanti," pamit ingin pergi.


"Iya, Mbak. Hati-hati "


"Iya, terima kasih."


Tangan sibuk mengambil kue, yang sudah jadi dalam estalase sesuai pesanan. Kardus berhiaskan bunga dibagian tepi dan ada tulisan toko serta alamat telah menjadi wadah kue tersebut. Atasnya ada plastik bening yang bisa menampakkan keindahan hiasan kue itu.



Kantong kresek berwarna merah telah menjadi wadah, agar bisa memudahkan untuk membawa memakai motor. Helm tak luput jua dipakai dikepala, saat tempat janjian sedikit jauh dari toko.


Perjalanan yang mulai dipadati kendaraan, tak menyurutkan niatku untuk melayani pelanggan. Hampir setengah jam lebih berkutat dalam jalanan aspal, yang pada akhirnya sampai juga ditempat janjian.


Kaki jenjang telah berhasil menginjakkan halaman depan mall. Sesuai janji aku akan menunggu pelanggan. Posisi ingin duduk dipembatas tembok bunga yang masih berupa semen. Tempat yang sebatas lutut memudahkanku untuk segera mendudukkinya.


Derzzzt .... drrrrt, gawai telah bergetar.


[Hallo]


[Hallo juga, mbak. Apa mbaknya sudah sampai 'kah?]


[Iya, nih. Aku sudah sampai dan sedang menunggu kamu dihalaman depan mall]


[Oh, ya sudah kalau begitu. Saya akan menyusul ke sana untuk mengambilnya]


[Iya, mbak]


Tak berselang lama, akhirnya orang yang ditunggu datang juga. Transaksi pembayaran telah selesai.


"Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar," ucapan syukurku.


Melihat mall yang ada didepan mata, entah mengapa rasanya ingin masuk saja. Tiba-tiba pikiran ingin membelikan baju dan mainan untuk Naya. Sudah lama habis menerima gaji tidak lagi memberikan sesuatu yang baru, sebab tahu sekali jika anak sekarang telah berkecukupan dimanja orangtua kak Adrian.


Motor sudah terparkir ditempat khusus. Aksi mulai berjalan masuk dari toko satu ke toko yang lainnya. Tangan mulai sibuk memilih-milih pakaian yang disukai Naya dan pas diukuran badannya.


"Alhamdulillah, sekarang keinginanku tercapai juga," ucap syukur setelah beberapa stel pakaian tergenggam ditangan.


Tangan kanan kiri sudah sibuk membawa paper bag berisi pakaian dan mainan. Wajah tak lepas mengembang untuk tersenyum terus. Netra terus saja fokus memperhatikan paper bag yang terayun pelan ditangan.


Bhuuugh, tanpa sengaja telah menabrak orang.


"Maaf ... maaf!" ucap orang yang tak sengaja kutabrak.


Akibat benturan kuat. Paper bag berisi baju dan mainan sudah jatuh. Mainan tak sengaja berhamburan keluar. Tangan dengan tergesa-gesa ingin memungut, agar tidak menganggu orang yang sedang lewat.

__ADS_1


"Iya, ngak pa-pa!" jawabku yang sibuk dan fokus masih memungut.


"Ayo, Pa! Cepetan," Suara anak kecil terdengar tak sabar.


"Iya, sebentar." Pria yang ketabrak telah menanggapi.


"Maaf, Mbak. Aku tidak bisa membantu sepenuhnya untuk memunguti ini."


"Iya, ngak pa-pa!" jawaban tertunduk.


"Maaf, ya. Ini! Sekali lagi maaf," Sebuah paper bag yang jatuh telah dia berikan.


"Iya ngak pa-pa!" jawaban tenang, namun sudah gugup ingin segera mengumpulkan mainan yang berantakan dilantai mall.


Takut jika kena komplain pejalan yang akan lewat, maka harus secepatnya mengambil.


"Saya permisi dulu, maaf."


"Iya, baiklah!" jawaban yang tak sempat melihat wajah orang yang tertabrak.


Sebuah aroma bau badan yang kukenal, telah berhasil terhirup menyengat dihidung. Kuambil dalam-dalam aroma itu, sampai-sampai mata mulai terpejam dan pikiran melayang-layang.


"Astagfirullah. Bukankah ini bau khas dari kak Adrian," guman hati yang baru menyadari.


Netra seketika terbuka, ingin memastikan apakah yang kurasa sekarang adalah benar.


"Kak Adrian? Hah, apakah aku tidak mimpi kalau ini benar aroma tubuhmu," Sikap yang awalnya duduk berjongkok, sekarang seketika berdiri.


Pandangan mencoba menyapu ke sekeliling dekatku, namun orang yang barusan tertabrak sudah menghilang saja.


"Kak Adrian, oh tidak! Apakah ini kamu sungguhan!" Kepanikan yang mencoba mencari dengan cara berlarian kecil disekeliling kejadian tadi.


Netra terus saja menyapu keseluruh area. Banyak orang yang berlalu lalang melewatiku, namun tak satupun dari mereka sama persis atas dugaanku barusan. Pikiran benar-benar dibuat kalut dan kebingungan.


"Siapa sih yang berantakin mainan dijalan begini!" teriak salah satu pejalan kaki.


Karena sudah ada yang mengeluh, acara mencari seseorang yang kuduga sosok kak Adrian telah kusudahi. Langkah mencoba berlari kencang ke arah kejadian tubrukkan tadi.


"Maaf ... maaf, saya tidak sengaja menjatuhkan tadi," Kedua tangan sudah bertangkup didada.


Semua mata kini tertuju kearahku dengan tatapan heran, namun aku terus saja mencoba meminta maaf atas kejadian ini. Mainan lego satu-persatu mulai kupunguti lagi, agar tidak kena marah orang yang lewat.



"Aah, mungkin aku tadi terlalu berkhayal kalau itu kak Adrian."

__ADS_1


"Mungkin ini efek kau rindu pada dia, Karin! Makanya orang yang sudah meninggal kau sangka masih ada dan tadi ketemu sama kamu," guman hati yang kesal pada diri sendiri sebab salah menduga.


__ADS_2