
Suara deru langkah orang-orang menaiki anak tangga, terdengar mengalun keras sekali dan setelah itu ada suara keras orang yang memukul pintu, seperti sedang dibuka paksa.
Hatipun berdesir takut dan deg-degkan, siapakah gerangan orang-orang yang ingin menyelamatkanku? Sebab Yona sudah kelihatan begitu ketakutan, saat dia sudah membawaku secara panik dan tergesa-gesa ke balkon atap rumah.
Braaak, pintu telah dibuka.
Rasa gembira bukan kepalang kini menghampiriku, saat melihat Kak Adrian dan Chris akhirnya berhasil ingin menyelamatkanku.
Perkelahian sengit telah terjadi. Berkali-kali Kak Adrian dan Chris terkapar kalah tidak bisa menandingi. Rasa ketar-ketir telah terasa didada, takut-takut jika mereka akan terluka parah sebab lawan kelihatan kuat.
Sekian menit perkelahian terus terjadi. Kak Adrian kelihatan tidak mau menyerah begitu saja. Chrispun yang sudah terluka parah tak ingin kalah juga untuk menghadapi mereka.
Walau wajah sudah babak belur tapi kak Adrian masih bisa bediri tegak walau jalan agak sempoyongan. Akhirnya dua preman itu bisa dikalahkan dengan wajah penuh luka dan darah mulai terlihat mengalir dari pelipis, hidung dan mulut.
"Kak Adrian, tolong kak ... tolong!" ucapku pilu dengan lelehan airmata.
"Diam kamu!" cegah Yona yang kini berdiri tepat dibelakangku.
"Iya, Karin . Tenang ... tenang, oke!" ujar Kak Adrian.
"Kalian jangan maju, atau aku akan membunuh Karin," ancam Yona pada Chris dan Kak Adrian saat sudah menaruh pisau dileherku.
"Jangan ... jangan lakukan itu oke, Yona!" ketakutan kak Adrian.
Langkah Kak Adrian terus maju ingin mendekati kami, namun Yona malah mengajakku mundur-mundur berjalan pelan.
"Hahaha, ternyata kamu begitu takut sekali bila aku benar-benar membunuh wanitamu ini!" cakap Yona meremehkan.
"Kamu jangan harap bisa memilikinya Adrian! hhahaha," Kegilaan Yona yang mulai muncul lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Kak Adrian binggung.
"Apa maksudku? Kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu, tapi mengapa kamu tak sedikitpun melirikku kembali, hah? Apakah aku tak terlalu baik untukmu? Sudah lama dulu kita menjalin asmara, tapi kenapa kamu bisa melupakanku, Adrian?" Suara serak Yona pilu dengan sedihnya.
"Maafkan aku, Yona. Ini semua sudah ditakdirkan oleh Allah, bahwa ternyata kamu bukanlah jodohku," jawab Kak Adrian terlihat begitu cemas saat pisau semakin ditekan dileher sehingga ada aliran darah mulai keluar.
"Takdir? Jodoh? Bukankah itu semua bisa dirubah, jika hatimu juga ikut berubah, hah!" ucap Yona marah-marah sambil melayangkan pisau ingin terhujam kepadaku saja.
"Jangan ... jangan, jangan lakukan itu, Yona! Kita bisa bicarakan ini semua baik-baik, oke!" ucap Kak Adrian selembut-lembutnya dengan memberi aba-aba mengayunkan tangan, biar Yona bisa diajak bernegosiasi.
__ADS_1
Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa, dikarenakan ketakutanpun sedang melanda dalam diriku juga, takut-takut jika Yona benar-benar akan menebas leherku.
"Benar Yona! Kamu jangan lakukan ini, pasti nanti semuanya bisa membahayakan kamu juga, jadi letakkanlah pisau itu sekarang, oke!" Chris kini ikut-ikutan membujuk Yona.
"Diam kalian!" Bentak Yona.
Wuueees, pisau sudah terayun mengarah ke kak Adrian dan Chris, disaat mereka berdua ingin sekali mendekati kami. Untung saja mereka dengan sigap dan secara kilat bisa menghindar, dengan cara melompat kebelakang sedikit mencoba menjauhkan diri.
"Kalian diam semua, ngak usah ikut campur urusanku," gertak Yona yang lagi-lagi meletakkan ujung pisau dileherku.
"Jangan ... jangan, Yona."
"Apa yang kamu inginkan akan kupenuhi, tapi tolong lepaskan Karin, oke!" bujuk Kak Adrian dengan langkah pelan-pelan mulai maju lagi.
"Aku tidak menginginkan apa-apa, Adrian! Hanya cintamulah yang kuinginkan sekarang," pinta Yona dengan suaranya yang sudah sendu.
"Apa kamu bisa mewujudkannya, hah!" pekik Yona emosi.
Hanya diamlah yang Kak Adrian berikan, sebab mungkin berat untuk mengatakannya dikarekan ada diriku dihadapannya.
Hanya geleng-geleng kepala kuberikan kepada Kak Adrian, untuk membantu menjawab pertanyaan Yona itu, agar tidak segera menuruti keinginan Yona, yang menurutku kegilaaannya mulai muncul kembali.
Akibat ketakutan akut, lelehan airmata sampai jatuh tak diiginkan.
Ujung pisau yang lancip terus saja ditaruh dileherku, dan kini sudah mulai terasa sakit bagai sudah tertembus dikulit. Leher sekarang terasa ada aliran air yang mengalir lurus kebawah, mungkin itu adalah darah lagi akibat Yona terlalu kuat menekan pisau.
Banyak sekali tertera ekspresi di wajah Kak Adrian, seperti binggung, takut, dan paling kelihatan adalah khawatir, mungkin dia sedang susah untuk memutuskan sesuatu yang mustahil dia akan penuhi.
"Baiklah, Yona. Aku akan menuruti perkataanmu dan berusaha mencintai kamu," suara Kak Adrian berat mengatakan, diiringi kepala sudah tertunduk.
Deg, kekagetanku atas keputusannya.
Tapi aku berusaha memahami itu, sebab mungkin semua yang Kak Adrian lakukan untuk membujuk Yona, sebab rasa kekhawatiran tak hilang dari ekspresi wajahnya itu.
"Benarkah itu?" sambut Yona dengan penuh kegembiraan.
"Iya benar. Tapi tolong lepaskan Karin dulu!" perintah Kak Adrian.
"Apakah benar yang kamu katakan barusan? Atau jangan-jangan kamu hanya mengelabui dengan cara berbohong menyanggupi permintaanku, tapi setelah itu kamu akan mencampakkan dan meninggalkan. Jadi aku tidak akan terhayut dengan bualanmu itu!" keluh Yona tidak percaya dan susah diajak kompromi.
"Aku janji, Yona. Aku akan berusaha mencintaimu lagi, kalau perlu kita bisa menikah. Tapi tolong lepaskan Yona dulu, oke!" Kelanjutan Kak Adrian masih membujuk.
"Aku berjanji akan meninggalkannya. Kamu tahu sendiri bahwa aku tidak pernah berbohong, jadi tolonglah percayai diriku sekarang," tambah Kak Adrian berkata.
"Baiklah aku percaya dan akan melepaskan Karin sekarang, tapi janji setelah ini kamu akan menikah denganku," Akhirnya hati Yona yang beku bisa diluluhkan juga.
__ADS_1
Pisau yang tadi dileher, kini sudah tersisih tak mengores lagi. Tapi tangan Yona masih merengkuh badanku belum dilepaskannya.
Wiu ... wiu ... wiu, suara sirine mobil polisi telah datang.
"Apa yang kamu lakukan Adrian, hah!" Kemarahan Yona dengan melototkan mata.
"Kamu ternyata telah menelpon polisi!" geram Yona terdengar memuncakkan emosi lagi.
"Tidak ... tidak, Yona. Polisi itu hanya ingin menyelamatkan Karin, jika kamu tak melepaskannya tadi."
"Jadi karena kamu sudah melepaskan Karin, sekarang juga aku akan menyuruh polisi itu pergi. Kamu tidak perlu takut, bila pihak kepolisian itu kesini!" Kegugupan Kak Adrian yang takut jika Yona akan melukaiku lagi.
"Bohong kamu!" bentak Yona marah.
"Pergi kalian, pergi ... kubilangg pergi!" ancam Yona yang sudah meletakkan pisau dileherku lagi.
"Aaaakhgh ... aaakh," Kekesalan Kak Adrian menjambak rambut sendiri.
Terlihat Chris menepuk bahu Kak Adrian, mungkin niat hati ingin menenangkannya.
Bhug ....bhug, suara deru langkah begitu ramai akan datang ke balkon atap rumah.
"Dasa brengs*k kau, Adrian. Kau ingin melihat aku sengsara, maka aku akan membuatmu sengsara juga sekarang!."
"Sini kamu, Karin!" Yona sudah memutarkan badanku untuk saling berhadapan dengannya.
Tangan Yona yang memegang pisau, sekarang sedang melayang diudara untuk siap menghujamkan benda tajam itu ke tubuhku.
"Tidaaaaaaaakkkkkk," teriak Kak Adrian dan Chris kompak berteriak.
Tanpa diduga ada seseorang yang sudah menarik tubuhku secara kilat, hingga terjatuh terduduk sambil memejamkan mata kuat.
Jleb, suara benda tajam sudah terhunus ke badan seseorang.
"Aaaaahhhh!" Suara seseorang merintih kesakitan.
*******
👉Kepo kan siapa yang tertusuk pisau😁😁.
👉Terima kasih yang masih setia mendukung karya remahan rempeyek ini🙏🙏🙏
👉Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan melipat gandakan rezeki kalian🙏🙏🙏
👉Terima kasih sudah mendukung like, vote, rate🙏🙏author tidak bisa memberikan apa-apa kecuali doa yang terbaik untuk kalian
👉Terima kasih🙏🙏🙏🙏
__ADS_1