Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Hatiku Yang Gembira


__ADS_3

Rasa hati kini begitu berbunga-bunga, saat hadiah yang diberikan mas Adit ternyata begitu istimewa.


"Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri?" ucap mas Adit heran, saat kami menuju ke hotel dalam menaiki mobil.


"Ya iyalah aku tersenyum, sebab dapat hadiah yang indah dari suami," jawabku yang menunjukkan kalung, yang sudah terlingkar dileher.


"Kamu suka?" tanyanya.



"Ya iyalah suka, lebih tepatnya bahagia banget. Selama menikah mas Adit 'kan gak pernah memberikan hadiah, baru kali ini lho!" ujarku menyindir.


"Hehehe, itu 'kan gara-gara kamu juga dulu! Sebab kabur, jadi kamu gak bisa bermesraan sama mas," jawabnya.


"Jadi mas Adit sekarang nyalahin aku nih!" tanyaku.


"Gak gitu sayang, cuma coba aja kalau kamu dulu gak kabur, 6 tahun itu lama lho! Mungkin kalau kamu gak hilang, anak kitapun sudah enam juga sekarang," tuturnya.


"What? Anak 6? Gila apa kamu mas, setahun sekali menyuruhku melahirkan?" kekagetanku berucap.


"Hahahha, kalau iya kenapa?" ujarnya.


"Aah ... otak mesum kamu itu semakin gila, dan perlu dibawa ke bengkel," ketusku menjawab.


"Hahahahha, kejam amat kata-katamu itu, nyuruh otak suami sendiri dibawa ke bengkel," jawabnya tak senang.


"Habisnya kamu ngeselin sih, mas! masak setahun sekali disuruh melahirkan anak, kalau suami berotak mesum sama tak waras lagi, lalu apa? Kamu yang enak-enak, aku yang susah tahu," penjelasanku kesal.


"Hihihihi, tahu aja kalau mas maunya enak-enak melulu," ucapnya yang semakin tak tentu arah.


"Ciih, dasar."

__ADS_1


"Sudah ... sudah, enam tahun sudah berlalu, dan kita lupakan masa-masa pahit itu, dan yang terpenting sekarang adalah pikirkan masa depan saja," imbuhku berkata.


"Masa depan? Masa lalu yang menjadi keinginan mas, dimasa depan bisa kamu penuhi 'kan?" ujarnya yang mengoda, dengan menaikkan kedua alisnya keatas.


"Maksudnya, aku kok gagal faham," jawabku yang tak mengerti.


"Maksudnya dimasa sekarang, mas mau kamu melahirkan sampai enam anak, begono!" jelasnya.


"Apa?" kekagetanku membulatkan wajah.



"Kamu jangan gila ... gila ... gila!" kupukul secara kuat-kuat lengan mas Adit.


"Hahahahha, ayo kita buat anak banyak-banyak," teriaknya dalam mobil sekencang-kencangnya.


"Huuust, nanti didengarkan orang tahu, dikiranya sudah terjadi sesuatu dalam mobil," ucapku menyuruhnya diam.


"Gak bakalan orang dengar. Ayo istriku sayang, kita buat anak banyak-banyak sampai pinggang kamu bakalan ambien," teriaknya secara kuat lagi.


Rasanya aneh dan lucu aja atas keinginan suami, sampai segitunya 'kah dia berpikir. Namanya juga laki-laki maunya enak saja, yang tak tahu penderitaan seorang istri saat mempejuangkan untuk melahirkan, apalagi merawat anak saat mulai tumbuh kembangnya.


"Oh ya mas, liontin kalungya kok AA? Artinya memang apaan?" tanyaku penasaran.


"AA artinya (Adit Ana), mengerti!" jelasnya.


"Oooh."


Mata kini mulai sayu-sayu mengantuk, sebab memang perjalan ke restoran tadi, jauh sekali dari hotel. Dan tanpa terasa mata tak tahan lagi, sehingga matapun sekarang sudah terpejam.


"Sayang ... sayang, bangunlah! Kita sudah sampai," ucap mas Adit membangunkanku, dengan cara mengoyang-goyangkan tangan.

__ADS_1


"Eeh ... heh, iya mas." Jawabku malas, sambil membuka mata perlahan-lahan.


Sebab ngantuk yang kuat sekali sedang mendera, rasanya kok malas banget ingin berjalan.


"Mas Adit, sini!" rengekku memanggil secara lemah.


"Ada apaan sih? Ayo turun, kita sudah sampai nih!" jawabnya yang sudah membuka pintu mobil milikku.


"Gak ada apa-apa, cuma bantuin." Pintaku dengan mata sayu-sayu ingin terpejam lagi.


"Iya, bantuin apa sih sayang?."


"Mas hadap ke balakang dulu," pintaku.


"Ya ampun, mau turun aja ribet banget, heeeeh." Desahnya yang mungkin sudah kesal.


"Ayo cepetan," rengekku.


"Iya ... iya. Mau apa sih sebenarnya!" keluh mas Adit.


"Lebih nunduk dan jongkok lagi, kalau berdiri tegak begitu mana bisa," perintahku.


"Astagfirullah, sebenarnya ini bidadari mau apa sih!" ucapnya yang merasa heran.


"Aku mau ini!" ujarku yang sudah naik dipunggungnya untuk minta digendong.


"Ya ampun, sudah tua juga minta gedong, gak malu apa dilihat orang lain," protesnya.


"Enggak."


"Ngapain juga harus malu, toh mas adalah suamiku sendiri. Ini adalah bulan madu kita, jadi harus dimanfaatkan seromantis dan sebaik-baiknya," imbuh jawabku santai.

__ADS_1


"Heeeh, dasar. Kini gantian kamu ya yang manja," ucapnya yang sudah membenahi tubuhku, untuk dihentakkan keatas supaya tak melorot turun.


Kupeluk kuat leher mas Adit, dan entah mengapa rasanya aku ingin terus bermanja-manjaan sama dia. Sungguh aku sangat ingin terus memilikinya, dan tak mau dia meninggalkanku begitu saja.


__ADS_2