Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Masih Marah Membisu


__ADS_3

"Aah ... apa yang telah kulakukan pada Ana?" Kekesalanku yang penuh penyesalan.


Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ana, yang jelas dia sekarang selalu sensitif marah-marah tak jelas padaku.


Saat dia tak ada dikamar hotel, aku begitu ketakutan terjadi apa-apa dengannya, tapi alhamdulillah ternyata dia baik-baik saja. Tapi naasnya dikarenakan diri ini telah dikuasai oleh emosi, sehingga membuat pertengkaran kecilpun terjadi terhadap kami.


Sekarang kupeluk erat dia dari belakang, ketika wajahnya masih saja tertutup oleh selimut. Rasa sesalpun terus menelusup hatiku, akibat mulut yang sudah tak terkontrol disebabkan oleh amarah.


Api memang bisa membakar siapa saja yang dikehendaki, jika kita tak cepat-cepat memadamkan dan contohnya seperti amarah yang tersulut tak terkontrol, sehingga membuat orang terdekatpun tersakiti dan terluka.


Lama sekali diri ini memeluk Ana, tapi dia masih saja enggan untuk memaafkanku dan membuka selimutnya. Mata sudah ngantuk sekali ingin terpejam, dan lambat laun tak kudengar lagi isak tangisnya, dan itu membuatku seketika merasa lega.


Sebab Ana kini sudah terdiam, mungkin disebabkan lelah menangis, dan pada akhirnya membuatnya kini tertidur pulas. Dirikupun kini ikut-ikutan memejamkan mata, sebab rasa kantuk sudah berat sekali menderaku.


"Semoga saja Ana besok pagi tidak marah lagi, sehingga aku bisa meminta maaf padanya lagi," gumanku dalam hati sebelum diri ini benar-benar tidur.


"Enggak enak banget dah didiamkan begini, hhh!" Masih merancau sedih.


**********,


Sinar yang terang sudah menelusup masuk ke dalam kamar, yang melewati celah-celah dibalik gorden yang tersingkap oleh angin. Akupun yang malas bangun, ingin terus saja melanjutkan tidur pagiku. Dan sekarang tangan berusaha merayap-rayap ingin memeluk tubuh Ana, tapi rasa anehpun mulai datang, tubuh yang sudah kuraba-raba terasa kosong tak ada, dan hanya selimut yang berada dalam genggaman tangan sekarang.


"Ana?" Bangunku terjingkat seketika, saat merasa istri tak berada ditempat tidur.


Sedih, saat dia tidak membangunkan diri ini. Hanya sepi ruangan kamar, tanpa adanya gema suaranya yang kadang cerewet dipagi hari.


"Ana ... Ana?" panggilku yang langsung bangkit dari tempat tidur.


Kaki terus malangkah mencari keberadaan sang istri, dan kaki kini beralih ke kamar mandi, dan setelah kubuka satu persatu ternyata sosoknya tak berada didalam.


"Aaah ... isssh, kemana lagi kamu, Ana!" gerutuku kesal dengan mengusap wajah secara kasar.


"Efek ngambek. Aku juga yang kesusahan sekarang. Dasar wanita, susah betul kalau sudah marah. Dibujukpun ngak mempan. Gimana dah caranya agar marahnya hilang?" Mulai berpusing ria atas sikap istri sekarang.


Sekarang aku berusaha masuk kekamar mandi, untuk membersihkan diri segera yaitu mandi. Karena khawatir atas keberadaan Ana, mandipun manjadi tergesa-gesa seperti mandi bebek.


Celana jeans hitam dengan atasan kaos putih, ini adalah pakaian yang sekarang kukenakan. Dan tak membuang-buang waktu lagi, langkah kaki secepatnya beranjak untuk mencari Ana.


Kling, suara lift sudah turun ke lantai satu, untuk mencoba mencari Ana direstoran hotel.

__ADS_1


Mata terus saja berkeliling, mencari sosok yang sudah sangat membuatku khawatir.


Huufffff, tarikan nafasku panjang, akibat merasa lega melihat Ana sedang santainya duduk menikmati makan.


"Hey, sayang!" sapaku mendekatinya.


Harus bisa membujuk kali ini. Apapun yang terjadi jangan sampai lama ngambeknya, bisa gagal total acara bulan madunya. Seharusnya mesra berduaan malah berasa sendiri.


Ana hanya menatapku sekejap, dan setelah itu sibuk melanjutkan makannya, seperti orang yang tak peduli atas kedatanganku.


"Kamu kok makan sendirian, ngak ngajak-ngajak Mas, sih!"


Masih dalam keadaan sama yaitu diam.



"Main pergi sendirian. Kok ngak bangunin Mas untuk menemani kamu, sih!" ucapku berbasa-basi, sebab kulihat wajah Ana cemberut seperti tidak suka kedatanganku.


Ana hanya diam tak menanggapi, hanya matanya saja melirik sebentar ke arahku.


"Kamu masih marah sebab masalah tadi malam?" tanyaku penasaran yang langsung duduk didepannya.


"Bagi dong makanannya!" bujukku dengan membuka mulut lebar-lebar.


"Ayo cepetan dong! Masukkan nasinya, keburu mulutku kejatuhan cicak nih!" suruhku berpura-pura.


"Ciiiiih," decihnya tak suka, tapi tangannya langsung secepat kilat memasukkan nasinya ke mulutku.


"Emm ... enak ... nyam ... nyam," pujiku menikmati makanan.


Mata sudah terpejam-pejam, berpura-pura menikmati ******* setiap rasa makanan yang diberikan Ana.


"Hah ... hhhhhh, apalagi yang harus kulakukan untuk membujuknya. Kali ini dia benar-benar kelihatan marah sekali," gumanku dalam hati terus saja memperhatikan tingkahnya yang masih saja sibuk makan, dengan wajah ditekuk seperti marah.


"Kamu disini dulu, ya! Mas, mau ambil makanan dulu!" perintahku.


Rasa lapar akibat belum sarapan, kini membuatku meninggalkan Ana untuk duduk sendirian menyantap makanan. Tak butuh waktu lama diri ini mengambilnya, karena makanan sudah tersedia terjejer rapi di meja memanjang.


"Kamu mau coba lauk yang Mas ambil!" tawarku.

__ADS_1



Mulut Ana masih terdiam, tak menanggapi semua ucapanku lagi.


"Ini makanlah! Bukankah kamu menyukai ini!"


Sambil membubuhkan ayam balado kepiring nasinya.


Mulut sudah mengunyah, dari nasi yang sesuap demi sesuap kumasukkan ke dalam mulut. Mata enggan melihat yang lain, sebab netra terus saja fokus memperhatikan Ana, yang masih terdiam seribu bahasa tidak mau berbicara.


"Hai Adit!" Sapa kak Nola.


"Eeh ... kamu, Kak!" balik sapaku.


"Lagi sarapan juga?" tanyaku berbasa-basi.


"Iya nih! Bolehkan aku duduk bersama kalian lagi, aku tidak ada teman disini yang bisa menemani untuk makan dan ngobrol nih!" pinta kak Nola menjelaskan.


"Oh ... silahkan, Kak! Ngak pa-pa kok, Kak. Mari, silahkan duduk bersama kami," Berusaha ramah dan menerimanya, untuk bergabung bersama kami.


"Aku sudah selesai makan, kalian lanjutkanlah!" ucap Ana tiba-tiba, yang sedang mengelap mulutnya dengan tisu.


Criitrt, suara decitan kursi yang digeser Ana. Dan seketika dia langsung berdiri dari tempat duduknya, dan setelah itu dia berusaha melangkah pergi.


"Kamu ngak lanjutkan makan, Ana! Masih banyak sisa makanamu itu!" Kak Nola membritahu.


"Hmm, nggak Kak. Maaf ya, tiba-tiba rasanya perutku kok jadi kenyang, dan sekarang ada hal penting yang ingin kulakukan," Ana memberikan senyuman kecut kepada kakak kelasku itu.


"Tapi 'kan mubazir."


"Maaf aku permisi dulu," pamit Ana.


Dia melenggang pergi begitu saja, tanpa memperdulikan lagi bahwa aku adalah suaminya, yang berusaha menemani makan.


"Maafkan saya ya, Kak. Aku ingin mengejar istriku dulu," pamitku yang langsung meneguk air putih, tanda menyudahi sarapan pagi.


"Oh ... oh. Iya, ga pa-pa."


Secepatnya kakiku berlarian kecil, untuk mengejar Ana yang kelihatan sudah semakin ngambek, terlihat sekali dari wajahnya yang sudah memonyongkan bibir.

__ADS_1


__ADS_2