Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Dijadikan Ayah


__ADS_3

Manusia hanyalah bisa menjalani takdir saling bertemu dan berpisah, jika sudah sedemikian rupa Allah yang mengaturnya.


Semua yang terjadi hari ini adalah ketentuan dari yang maha pembuat takdir. Diri ini hanya bisa pasrah atas segala kehidupan yang digariskan padaku.


Hari-hari terasa indah saat diwaktu pagi yang belum berangkat kerja, diri ini masih menyempat diri untuk ke sekolahan Aya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, yang jelas anak kecil itu begitu membuat hatiku terasa begitu damai dan tentram, hingga waktu sibuk kerjapun terabaikan saat menyempatkan diri untuk menemuinya sebentar.



"Hei Aya!" sapaku ramah padanya, saat waktu menunjukkan jam istrirahat disekolahnya.


"Hai juga, om. Kok om ganteng ada disini?" tanyanya polos si bocah imut, duduk santai dibangku depan halaman sekolah.


"Biasalah, om ingin ketemu sama kamu, sebab pernah janji akan membawakan es krim. Memangnya kamu tidak mau memakan yang om bawa ini?" godaku menanyainya.


"Wah, es krim. Mau ... mau, dong om!" jawabnya antusias gembira sekali dengan kaki sudah berjingkrak-jingkrak.


Dengan segera kuberikan es krim yang berwadah dalam tupper war. Wajahnya kelihatan begitu gembira sekali, yang semakin menambah diri ini kian semangat untuk menemuinya terus.


"Om lihat-lihat, kamu dari kemarin hanya sendirian saja, tidak seperti anak-anak yang lain ditunggu orangtua? Memang kemana mama kamu?" tanyaku kepo saat si Aya sibuk menyendok es krim, untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.


"Aya 'kan anak pintar dan baik. Jadi kata bunda, Aya ngak boleh manja dan cengeng ditunggu orang tua," celeotehnya santai.


"Baguslah itu. Terus kenapa bunda kamu tidak ingin menemani, apakah dia sibuk sekarang?" imbuh tanyaku penasaran.


"Iya, om. Bunda sibuk kerja. Sedangkan yang biasa mengantar dan jemput Aya ke sekolah adalah nenek, tapi beliau beberapa hari ini sibuk mengurusi sawahnya, jadi Aya sendirian dengan penuh keberanian," jelas Aya berwajah polos.


"O'oh, ternyata kamu memang anak pintar, yang jelas-jelas tidak mau merepotkan bunda dan nenek. Bagus itu Aya," pujiku.


"Tentu dong, om. Aya kasihan sama bunda sebenarnya, dia sedang banting tulang mencari nafkah. Ketika Aya melihat bunda capek habis pulang kerja, jadi tak tega untuk Aya bermanja dan rewel pada bunda," terang si Aya lagi.


"Banting tulang? Memang kemana ayah kamu?" ujarku bertanya semakin kepo.


"Aya tidak tahu kemana ayah. Mungkin Aya tidak punya ayah, sebab selama ini tidak pernah melihatnya. Aya pengen banget ketemu ayah, walau hanya sebentar saja, tapi bunda selalu melarang Aya bertanya-tanya tentang Ayah, jadinya Aya sangat sedih sekali sekarang," tuturnya pilu.


"Sudah ... sudah. Maafkan om, ya. Yang sudah lancang menanyakan tentang ayah kamu, jadinya Aya sekarang sedih teringat dia," ujarku mengelus pipi lembutnya agar dia tenang tak sedih lagi.


"Iya, om. Ayah tidak ada, jadi Aya tetap sabar dan terus yakin, bahwa suatu saat nanti pasti bisa ketemu beliau. Oh ya, om. Bolehkah Aya berteman baik dengan om, sebab Aya kalau lihat om suka kangen dan selalu saja berandai-andai pengen sekali om itu jadi ayah Aya?" ujarnya sedih lagi.

__ADS_1


"Tentu saja om akan selalu jadi teman kamu, tuan putri Aya. Boleh-boleh saja kok, kamu menganggap om sebagai ayah Aya, dan semoga saja dengan kehadiran om, Aya bisa menghilangkan rasa rindu dan penasaran sama ayah," ucapku memberitahu.


"Benarkah? Benarkah om mau?" tanyanya tak percaya.


"Iya, tuan putri Aya."


"Wah, asyiiik. Akhirnya Aya punya ayah. Kalau om jadi ayah Aya, tiap hari harus jenguk Aya ya! Sebab kalau tidak bertemu pasti akan rindu," celeotehnya masih dalam suasana sedih bercampur gembira


"Om, janji sayang. Walau sesibuk apapun pasti om akan selalu menjenguk Aya," jelasku.


"Benarkah? Janji ya, om!" ujarnya sudah menyodorkan jari kelingking.


"Janji," jawabku menerima kelingking Aya sambil menautkannya.


Betapa polos dan kasihan sekali anak sekecil ini bisa tak mempunyai ayah, yang seharusnya wajib mendampingi dihari masa-masa kecilnya.


"Apakah jika anakku lahir, dia akan bernasib sama sepeti Aya, yang selalu merindukan ayahnya? Semoga saja Karin bisa memberi pengertian yang baik jika anakku benar-benar ada. Maafkan ayah nak, jika tak bisa menemani kamu, sebab takdir yang memisahkan kita belum berpihak, agar kita bisa ketemu dalam sendau gurau bahagia bersama," guman hati pilu saat mengenang nama Karin lagi.


********


Hari-hariku kini hanya dupenuhi oleh semua celotehan dan kegembiraan senyuman Aya. Walau kadang terburu-buru ke perusahaan dipagi hari, demi menunggu si comel Aya datang kesekolah, diri ini rela telat ke kantor yang sudah ditunggu oleh kerjaan yang menumpuk.



Aya terlihat membalas tersenyum manis pulak, saat dia baru saja masuk ke sekolah melewati gerbang. Dia yang awalnya sedang digandeng oleh seseorang, dengan tergesa-gesa dan penuh antusias kini menghampiriku, yang sedang duduk dibangku depan lingkungan sekolah.


"Hai juga, om. Wah, Aya senang banget sebab hari ini om pagi-pagi sudah datang menemui Aya," celotehnya penuh senyuman.


"Ya harus 'lah, sebab pagi ini om sangat- sangat rindu sama Aya, jadi om usahain datang kesini awal-awal," jelasku.


"Makasih ya, om. Aya bahagia sekali dalam keadaan seperti ini, sebab om adalah ayah Aya yang rela bela-belain datang kesini terus," tuturnya lembut melemparkan senyuman khas penuh kebahagiaan.


"Iya sayang. Oh ya, ini ada beberapa snack untuk kamu, sebab om nanti siang tidak bisa datang kesini karena ada kesibukkan ditempat kerja. Kamu ngak pa-pa 'kan?" jelasku sambil bertanya.


"Iya, om. Terima kasih. Om, kalau sibuk kerja ngak pa-pa kok, tidak datang kesini. Aya jadi tidak enak, sebab sering kali om susah-susah menemui Aya. Om ganteng bisa hadir selalu menemui Aya saja, itu sudah membuat hati Aya bahagia, jadi kapan-kapan ada waktu luang saja om kesini," terangnya.


,

__ADS_1


"Ngak pa-pa, Aya. Om senang kok ketemu Aya dan tak pernah merasa direpotkan, jadi jangan sungkan-sungkan dan tak enak hati begitu, ok!" jelasku sambil menepuk pelan rambut hitam panjangnya.


"Iya 'kah? Terima kasih. Om ganteng memang selalu yang terbaik," jawab Aya ramah yang diiringi mengecup pelan pipiku.


Celoteh demi celoteh imut yang Aya lalukan, selalu saja melupakan segala kepenatan dan kusutnya hati serta pikiran.


"Aya, ayo masuk ke dalam kelas, nanti kalau telat bisa kena marah bu guru," suruh orang yang sempat mengandeng tangan Aya tadi.


"Baik. Da ... da ... da, om. Terima kasih atas jajannya," pamit Aya yang diiringi menujukkan paper bag yang berisikan snack.


"Iya, sayang. Belajar yang pintar," balik jawabku.


Hati sudah lega, saat netra telah selesai menyaksikan Aya masuk kedalam ruangan kelasnya.


"Maaf, permisi. Apakah anda ini adalah ayah Aya yang setiap hari selalu menemuinya? Kemarin dia pernah bercerita kalau anda adalah orang yang sudah menolong ketika sedang keserempret montor, dan akhirnya kenal dekat dan kini menjadi ayahnya didunia halunya," tanya seorang Ibu-ibu saat beliau tadi mengantar Aya kesekolah.


"Oh, iya bu. Itu saya. Memang ada apa, ya?" tanyaku heran.


"Ngak ada apa-apa. Cuma kalau dirumah si Aya tak henti-hentinya bercerita tentang anda dan membuat kamu sekelurga merasa senang, sebab sikapnya yang selama ini banyak diam akhirnya kembali ceria, yang sepertinya senang sekali akibat anda sering mengunjungi dan mengangap dia anak. Saya mewakili keluarga, mengucapkan berterima kasih sebanyak-banyaknya," jelas beliau.


"Benarkah itu? Alhamdulillah kalau begitu. Saya tidak melakukan apa-apa, hanya sekedar memenuhi permintaannya yang sering dia celotehkan selama ini. Oh ya, kalau boleh tahu ibu ini siapa?" tanyaku.


"Eeh, keasyikan ngbrol sampai lupa saya memperkenalkan diri. Saya adalah nenek Aya, yang selama ini mengantar dan menjemputnya," jelas beliau sambil menyodorkan tangan.


"Salam kenal juga, nek. Saya adalah Adrian, ayah angkat Aya yang baru," jelasku.


"Adrian?" tanya beliau seperti mengekspresikan wajah sedang terkejut.


"Iya, saya Adrian. Kenapa, nek? Apakah nenek kenal sama saya?" tanyaku heran.


"Ee'eeh, enggak kok. Cuma kebetulan kayak pernah dengar saja nama yang sama seperti kamu," jelas beliau.


"Ooh."


"Saya benar-benar mengucapkan terima kasih, sebab anda selama ini sudah dekat dan mau jadi ayah pura-pura Aya. Terima kasih juga, kemarin sudah menyelamatkan dan kini bertambah menjaga Aya juga," ucap beliau tak enak hati.


"Iya, nek. Sama-sama."

__ADS_1


Setelah lama atas obrolan kami, diri ini sempat diherankan atas sikap nenek Aya, yang terus saja dari sembari tadi mencuri menatap diriku dengan seksama. Sampai beliau akan berpamitan pulangpun berkali-kali menoleh ke belakang balik, demi ingin melihat diriku yang masih berdiri dihalaman depan sekolah Aya.


"Kok aneh sekali sama nenek, Aya? Apa mungkin beliau mengenalku, tapi lupa siapa aku? Tapi kayaknya kami belum pernah kenal dan bertemu sama sekali, tapi kenapa tatapannya tadi seperti mengenalku dengan baik? Aah, biarkan saja kalau dia sudah mengenalku, yang jelas aku sama sekali tak mengenal beliau," rancau hati merasa heran, saat mobil sudah kulajukan agar secepatnya sampai ke tempat kerja.


__ADS_2