
Setelah beberapa menit dalam keadaan sama-sama terdiam, langsung kuusap airmataku secepatnya agar Mas Adit tidak mengetahuinya, bahwa ternyata aku juga ikut menangis.
Aku masih kekuh ingin melepaskan diri dari pelukan suami. Sekarang dapat terlihat jelas dipipinya masih basah akibat dibanjiri airmata.
Kuusap airmata suamiku perlahan-lahan, dan menatap wajahnya yang tampan secara lekat-lekat, yang ternyata dia begitu sedihnya akibat merindukanku.
"Mas Adit jangan begini!" Perkataanku yang berusaha menghentikan lelehan airmatanya.
"Justru akulah yang harus meminta maaf."
"Walau aku masih sah menjadi istri Mas Adit, tapi apakah kau tahu jika hati ini masih ada luka yang mendalam," ujarku menjelaskan sambil tangan menepuk-nepuk dada yang terasa begitu sakit.
"Tapi, Ana! Itu adalah kesalahan masa lalu, jadi maafkanlah aku, ya!" Wajahnya tertunduk.
"Aku benar-benar minta maaf. Masa dulu dan sekarang bagiku tetap sama, sebab luka itu sudah terlalu merasuk begitu dalam," imbuhnya lagi.
Muka mas Adit sendu seperti memohon, mungkin agar diri ini melupakan kejadian masa lalu dan berharap segera kembali padanya.
"Bisa 'kan kita memperbaiki hubungan ini?" Harapan penuh.
"Maafkan aku Mas, mungkin inilah yang terbaik untuk kita saat ini," ujarku sendu.
"Tapi, Ana."
__ADS_1
"Gak ada tapi-tapian, Mas! Untuk saat ini belum bisa berpikir, apakah aku bisa memaafkan kesalahan terbesar kamu itu."
Sekuat tenaga aku menahan agar tidak mengeluarkan amarah yang sudah dari tadi tertahan sesak dalam dada. Diiringi juga oleh airmata yang sedikit lagi menyeruak akan jatuh namun hanya bisa berkaca-kaca saja.
Tok ... tok, ceklek. Pintu diketuk seseorang dan langsung dibuka.
"Boleh aku masuk, Pak!" Pintu sudah terbuka, yang ternyata adalah bu Nur.
"Ehh, iya, Bu!" Kegagapan suami saat ada tamu tiba-tiba nyelonong masuk
"Mila, kamu belum selesai membersihkan ruangan ini?" tanya Bu Nur dengan muka penuh selidik terhadapku dari atas sampai bawah.
"Sudah selesai kok, Bu."
"Ooh. Kenapa kamu tidak memakai baju seragam? Dan pakaian ini!" Telunjuk Bu Nur mengarah pada kemeja yang terpakai olehku dengan mimik muka penuh keheranan.
"Oooh," Anggukan Bu Nur tanda setuju pakaian bosnya kupakai.
"Sudah cepat sana! Lakukan pekerjaanmu selanjutnya. Aku lagi ada perlu penting sama Pak Adit," perintah Bu Nur.
"Baik bu, aku permisi dulu," pamitnya diriku yang langsung mendorong troli.
"Ana, hei tunggu. Aku belum selesai bicara," teriak suami saat akhirnya aku bisa lolos dari nya.
"Lain kali saja, Pak. Aku harus bekerja," Balik teriakku.
Setelah beberapa jam moment yang mendebarkan bersama suami, sekarang rasanya kepala sedikit agak pusing. Pikiran sudah kacau, karena memikirkan ucapan demi ucapan Mas Adit tadi yang terasa membuat hati sedikit mulai goyah.
__ADS_1
Sambil berjalan mendorong troli, pikiran terus saja dipenuhi omongan suami, dan tatapan sekarang sudah terasa begitu kosong saat langkah terus saja berjalan maju tanpa tujuan arah akan kemana.
"Mila, tunggu!" suara Edo teman satu kerjaan memanggil.
"Ada apa Edo?" ucapku yang masih dalam keadaan kacau.
"Kamu sudah makan?" tanyanya dengan tatapan heran kearahku.
"Eeh, kamu kenapa, Mila? Apa ada masalah? Kok wajah kamu kelihatan kusut begitu?" perasaan khawatir Edo padaku, mungkin yang sudah melihat kacaunya diri ini.
"Gak ada apa-apa. Aku belum makan, tapi rasanya malas saja mau makan sekarang. Kamu duluan saja! Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dulu!" alasan yang langsung berlalu pergi.
"Tap---?" Suara tertahan Edo.
"Duluan saja, ngak pa-pa," teriakku.
Di dalam toilet langsung saja kukunci pintu, yang tak lupa juga sudah memberi papan tulisan, bahwa toilet sedang dibersihkan. Padahal kenyataannya toilet masih bersih, hanya saja diri ini cuma mau mengusai toilet sendiriran. Entah mengapa kepikiran kesini untuk sendirian.
"Aaakhh ... ahhhhhh," teriakku sekencang-kencangnya.
Dalam toilet aku menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua rasa sesak dalam hati ketika dari tadi telah tertahan. Tangan tak lupa memukul-mukul dada yang sudah terasa begitu nyeri sakit sekali, sampai menghirup nafaspun terasa sesak dan susah sekali. Tangisanku sudah pecah, kian menjadi-jadi.
Rasanya sungguh sesak dan menyakitkan, saat orang yang selama ini kucintai setelah senam tahun diriku membawa luka yang dia torehkan, kenapa baru sekarang Mas Adit meminta maaf.
__ADS_1
"Kau begitu kejam, Mas. Tidak pernah tahu akan perasaanku yang begitu dalam mencintai. Apakah kau tahu bahwa rasa itu sudah jadi debu berterbangan dibawa angin, akibat kamu terus mengabaikan pengorbananku kemarin. Dimanakah letak hatimu saat itu? Lelehan airmata tidak pernah putus bagai anak sungai, namun kau hanya memandang sebelah mata diriku. Heeh, begitu mudahnya sakarang kau meminya maaf, tanpa sadar jika kau kembali membuka lukaku itu," Pilunya hati membuat aimata terus meleleh.