Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang= Kugagalkan Pesta


__ADS_3

Sampai pada akhirnya mata sudah terperangah kaget, atas tamu yang sudah kutunggu-tunggu. Betapa terbakar dan sesaknya dada ini ketika melihat adegan kemesraan mereka, yang mana tangan Nola sudah terlingkar ditangan mas Adit, dan suami terlihat happy dan nyaman-nyaman saja dengan kelakuan kakak kelasnya itu.



"Awas kalian berdua! Akan kubuat perhitungan sama kalian," guman hati yang begitu sebal.


Baju Nola terlihat begitu sexy, dengan gaun panjang sampai menutupi mata kaki, yang sudah ketat memperlihat lengkuk tubuhnya, dengan belahan kain samping kiri kanan sampai paha putihnya kelihatan. Mereka begitu tersenyum ramah manis-manis menyapa para tamu, akupun yang melihatnya dibuat jijik dan semakin gondok saja. Api amarah mulai muncul asap diotak.



"Jadi ini kelakuan kamu, Mas! Jika tidak ada aku, kamu begitu nyamannya bergandengan tangan bersama wanita lain. Awas saja kamu!" Ketidaksukaanku melihat suami.


Kaki sudah berjalan menghampiri mereka, untuk menawarkan minuman.


"Silahkan," ucapku ramah memberi minuman, dengan nada suara seperti laki-laki.


"Terima kasih." Senyuman ramah suami.



Tanpa menjawab ucapanku, mereka berdua langsung saja mengambil minuman rasa jeruk, dan setelah itu akupun melenggang pergi meninggalkan mereka.


Ingin tahu respon mereka. Dugaan benar kalau tidak dikenali. Bolehlah menjalankan aksi brutal.


Pikiran sudah dapat ide, untuk segera menjalankan aksi mengerjai mereka, tapi yang lebih utama memisahkan mas Adit dulu dari Nola, biar suami tak curiga dan membelanya nanti.

__ADS_1


Saat melintasi mereka lagi, dengan tangan masih sibuk membawa nampan minuman, aku ada rencana ingin menyenggol tubuh seorang wanita lain, yang sedang bersimpangan denganku yang tangannya membawa minuman.


Bhuggh, bahuku telah berhasil menyenggol wanita itu, dan tak terelakkan minuman yang dipegang wanita itu tumpah dibaju Nola. Keberuntungan berpihak sebab posisi kami berdekatan.


"Astaga," ucap Nola kaget.


"Oh ... maaf ... maaf, Mbak! Aku tidak sengaja," ucap perempuan yang kusenggol.


"Aaah, kamu ini. Berjalan tidak hati-hati. Jadi basah begini, dah!" Nola kelihatan kesal.


"Maafkan saya."


"Maaf ... Maaf. Enak saja kamu bicara. Dasar."


Aku adalah pelaku utama, tapi langsung melenggang pergi, tak mau ikut campur urusan air tumpah. Hati sudah tertawa cekikikkan, karena berhasil menjalankan misi pertama untuk memberi pelajaran. Nampak Nola begitu marah atas kejadian barusan, dan dia sudah melenggang pergi ke kamar mandi.


Rencana mengerjai mas Adit, tak bisa kulakukan sendiri, jadi sekarang meminta bantuan kepada pelayan pria. Mulut sudah berbisik-bisik memberikan tugas, dengan imbalan memberi upah uang kepadanya.


Saat mas Adit mau mencicipi makanan, langsung kuacungkan jempol pada pria yang kusuruh, untuk segera menjalankan aksinya.


Bruuuk .... braak ... klontang ... klontang, pria itu berhasil menabrak tubuh mas Adit, yang membuat dia tersungkur kedepan jatuh, yang akibatnya menyenggol hidangan yang tersedia, sehingga membuat bajunya terkena kuah lauk, dan beberapa wadah berisi lauk sudah jatuh pulak, sehingga semua netra tamu tertuju padanya.


"Gimana? Apa kamu puas jika kupermalukan begitu? Rasakan, ini akibat kau membuat masalah mesra sama wanita lain."


Terlihat Mas Adit secepatnya bangkit, dengan baju sudah kotor seperti terkena kuah rendang. Wajah mas Adit begitu kesal, sebab baju atasnya begitu kotor sekali, dan mungkin malu pada mata para tamu yang terpusat padanya, sehingga dia secepatnya pergi.

__ADS_1


Nola telah kembali, sedangkan mas Adit sudah ke kamar mandi, dan aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat perhitungan dengannya lagi.


"Kau harus merasakan malu lagi. Makanya jangan macam-macam dan berusaha mendekati suami orang. Kau bisa bermain cantik, akupun juga tidak mau kalah," Hati terus saja merancau benci.


Pesta begitu indah dihiasi pernak-pernik, dan lilinpun ikut andil menghiasi juga, sebab ini adalah pesta malam, jadi sedikit menambah penerangan dengan menyalakan lilin. akupun tak menyialan kesempatan ini.


Saat Nola sibuk berbicara pada tamu, akupun pura-pura mendekatinya. Tak kusia-siakan lilin yang tertancap di meja minuman yang terhidang. Lilin sudah pura-pura kusenggol agar jatuh, dan rencanapun akhirnya berhasil, saat lilin mengenai tepat dikain baju Nola yang memanjang. Akupun langsung pegi meninggalkan aksiku. Tidak sabar ingin melihat kelucuan apalagi yang akan terjadi.


"Aku kok mencium bau gosong? Seperti bau kain terbakar," ucap tamu yang diajak bicara Nola, yang masih terdengar oleh telingaku.


"Aaah ... api ... ahhh ... api," teriak tamu wanita, menunjuk ke arah belakang baju Nola, yang telah terbakar sudah menjalar sampai ke atas.


"Ahhh ... panas ... api ... tolong ... tolong," ucap Nola panik.


Semua orang sudah berkerumunan mau menolong, dengan cara menyiramkan air minum digelas mereka. Tapi nampak sekali mereka gagal, malah menyiram ke wajah dan tubuhnya, yang malahan membuat api kian besar membakar.


Nola yang panik berjalan mundur-mundur, dan terlihat sekertaris Rudi mendekati Nola yang panik, sehingga diapun berusaha membantu untuk menyenggol tubuh Nola. Dan pada akhirnya dia tercebur ke dalam kolam, dan kelihatan dia begitu gelagapan menelan air kolam renang.


"Syukurin kamu Nola, hhahaha. Mampus lho, gimana? Hahaha," tertawaku puas akibat merasa menang.


Acungan dua jempol kuberikan pada Sekertaris Rudi, sebab telah membantuku.


"Hahahaha," tertawaku puas, dengan tangan memegang perut.


"Hei, Ana?" panggil seseorang yang sudah mencekal tanganku.

__ADS_1


Akibat tertawa lepas, sampai tidak sadar jika ada pria memegang tanganku.


__ADS_2