Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Perdebatan mengenai anak kecil itu. SEASON 2


__ADS_3

Pekerjaan yang sibuk atas pesanan, semua jadi tersendat kuserahkan pada karyawan. Rara yang masih sedih dan syok terpisah dengan sopir yang mengantar sekolah, terpaksa akulah yang menemani agar dia tidak merengek dan menangis lagi. Beberapa karyawan kusuruh menyebarkan selembaran, disekitaran supermarket yang dekat dengan toko kue kami, sesuai awal tempat Rara hilang.


Beberapa selembaran foto dan tulisan alamat yang bisa dituju sudah ditempel dibeberapa supermarket, tapi hasilnya sampai sekarang belum ada sama sekali.


Senja yang mulai menguning, sudah merangkak dengan cepatnya. Walau sikap Rara manis dan diam, tidak ingat lagi sama kejadian ceroboh yang dia lakukan, namun aku sebagai orang dewasa sangat khawatir, jika orang yang akan mencari tetap tidak bertemu dengan dia.


"Bagaimana ini, Mbak? Belum ada tanda-tanda orangtua maupun kerabat bocah ini mencari?" ucap salah satu pegawai.


"Wah, aku kurang tahu juga. Kita sudah berusaha tapi hasilnya tetap belum ada."


Beberapa karyawan sedang berkumpul mengelilingi Rara yang sudah tertidur pulas, akibat kekeyangan makan kue dan beberapa camilan.



"Benar itu, Mbak. Kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari keluarga bocah ini, tapi kok belum ada tanda-tanda yang mengakui dari pihak keluarganya. Apa jangan-jangan bocah ini sengaja dibuang," tebak karyawan perempuan.


Pelanggan sudah mulai sepi dan kerjaan tak banyak, membuat kami semua santai bisa berkumpul dan bercakap-cakap.


"Huuus, mana ada kayak gitu. Kalaupun dibuang, kenapa juga bocah ini memakai seragam sekolah. Dari pakaian dan cerita Rara sepertinya dari kalangan orang kaya, jadi tidak mungkin kalau dibuang sama keluarganya," bantahku pada karyawan.


"Benar juga sih, Mbak. Tapi ... tapi, 'kan?" Suara karyawan tidak bisa meneruskan kata-kata.


"Tapi apa?."


"Tapi aneh gitu?" simbat yang lain.


"Yap, benar itu."


"Aneh saja kenapa sampai sekarang belum ada yang mengakui bocah ini, padahal dari tadi pagi hilang, jadi sudah sekian jam belalu tapi tidak ada tanda-tanda anggota keluarga yang merasa kehilangan," ucap karyawan lain juga.


"Mungkin saja tadi sudah sempat mencari, tapi kita saja lambat mencari ide dan menyebarkan selembaran.


"Benar itu, Mbak."


"Emm, apa ya alasannya! Kok aneh begini?"


Salah satu karyawan sedang berpikir keras, sambil wajah menerawang kosong ke kangit-langit atap.


"Apa mungkin dia ini korban penculikan, tapi untungnya si Rara ini bisa kabur," lontaran kata pegawai lain.


"Aah, kalian ini mengada-ngada kalau bicara. Mana mungkin korban penculikan kok bisa lepas dengan mudahnya?" jawab tak percaya.


"Kan bisa saja itu, Mbak. Aneh dan bikin misterius bisa jadi alasan bocah ini benar-benar diculik."

__ADS_1


"Kalian jangan pada ngelantur berbicara dan berpikiran aneh-aneh," tegur tak suka.


"Bukan gitu, Mbak. Tapi kami semua memang merasa aneh saja atas kejadian yang dilalui si Rara. Kalau tebakkan kami memang salah, pasti salah satu dari anggota keluarganya akan segera muncul disini. Lagian kita sedikit tidak percaya sama ucapan bocah itu, masak begitu mudahnya bisa keluar mobil hanya kepengen es krim saja. Kalau dia orang kaya, pasti sudah sering dong makan."


"Emm, 'kan itu aneh banget!" Panjang lebar karyawan membatah ucapan bos sendiri.


"Iya juga, sih. Tapi anak kecil kadang jarang sekali berbohong, malah kebanyakan suka jujur. Walau kadang ucapan terlalu polos dan suka ngak jelas alias ngelantur," Balik bantahan.


"Ya, sudah kita semua tenang dulu."


"Kalau beberapa jam lagi tidak ada tanda-tanda keluarga datang kesini, baru kita akan berpikir lagi bagaimana memecahkan masalah mengenai bocah ini," usulan salah satu karyawan.


"Kita bisa laporkan pada pihak kepolisian saja."


"Emm, benar ... benar itu!" jawab kompak para karyawan.


"Ya sudah, kalau itu keputusan kalian semua. Kita akan lapor polisi."


"Sambil menunggu, kalau benar-benar tidak ada yang menjemput, dengan terpaksa Rara akan aku urus dengan mengajaknya pulang kerumah dulu."


"Nah, itu lebih baik, Mbak. Lagian kasihan dia masih kecil bisa tersesat dan kehilangan keluarganya."


"Emm, ok 'lah."



Tidurnya begitu nyenyak. Mungkin kelelahan akibat menangis terlalu lama dan sekarang kekenyangan juga. Kalau diperhatikan dengan seksama wajahnya kok hampir mirip, dengan orang yang kurindukan namun tak bisa tergenggam lagi.


"Mbak ... mbak!" Suara teriak pegawai perempuan, berlarian kecil tak sabar menghampiri posisiku.


"Huust, ada apa sih?" jawaban, agar pegawai mau memelankan suara.


"Uups, maaf."


"Habisnya aku lagi gembira banget, nih!" Pegawai sudah memelankan suara berbisik, sesuai arahan agar tak menganggu tidur Rara.


"Gembira apaan? Sampai teriak-tetiak segala!" Mulut sudah sibuk meladeni ucapan pegawai, namun netra tetap fokus mengerjakan membuat kardus.


"Ya, tentunya gembira banget ini. Pasti mbak akan gembira juga, sebab usaha kita tak sia-sia."


"Maksudnya apaan, ihh?."


"Itu lho, Mbak. Mengenai Rara."

__ADS_1


"Ohh. Lalu?."


"Akhirnya ada juga keluarga yang sudah datang menjemput kesini," Antusias pegawai gembira, yang nampak sudah tersenyum lebar.


"Wah, benarkah itu?."


"Kalau begitu, Alhamdulillah. Ternyata perjuangan kita tidak sia-sia."


"Iya, Mbak."


"Sekarang Mbak temuin orangnya yang lagi menunggu didepan, gih! Biar Rara aku yang tunggu."


"Oke 'lah." Sikap yang duduk seketika langsung berdiri.


"Eiits, tapi tunggu, Mbak!" pegawai sudah menghentikan langkahku saat ingin melenggang pergi.


"Ada apa lagi?" Keheranan melihatnya yang nampak gusar.


"Itu ... itu, Mbak."


"Itu apaan? Kalau ngomong yang jelas." Dongkol hati.


"Itu, Mbak. Tamu yang ada didepan itu 'kan keluarga Rara, nanti jangan kaget saja saat bertemu dengan dia, hehehe!" Cecegesannya yang tidak bisa ditebak.


"Maksudnya? Kaget apaan?" Kebingungan.


"Mbak, lihat saja sendiri. Tapi harus siap-siapkan jantung agar tidak syok berat apalagi sampai terjadi pingsan," Pegawai sudah memperingatkan namun bikin penasaran.


"Hadeh, apa'an sih sebenarnya yang ingin kamu bicarakan itu?."


"Hehehe. Maaf Mbak, saya tidak bisa menjelaskan."


"Hmm, ya sudah aku kedepan saja. Kamu jaga Rara baik-baik."


"Sipp, Mbak."


Yang dibilang pegawai begitu aneh, sampai-sampai otak berpikiran keras kemana-mana, apa yang sebenarnya yang dia maksud. Terkejut yang bagaimana kok bisa sampai jantungan? Sungguh-sunghuh bikin penasaran apa yang barusan pegawai katakan.


Sesampainya didepan tempat tamu mencicipi cita rasa kue buatan tangan kami, telah nampak beberapa karyawan sedang ramai mengerubungi sesuatu.


"Ada apa sih, ini? Kok para karyawan berkumpul seperti melihat hantu saja?" guman hati yang merasa aneh saat ingin mendekati posisi mereka.


Langkah berusaha menerobos dan melewati pegawai, yang sibuk menatap keheranan kearah tamu yang hanya bisa kutatap belakang punggungnya saja. Dari poster tubuh, tinggi dan aromanya, seperti orang yang kukenal saja, namun dia kelihatan berbeda sama cara berpakaian saja yaitu kelihatan kuno.

__ADS_1


__ADS_2