Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Ingin Kencan Berdua Saja


__ADS_3

Langkah segera masuk ketempat bekerja, sebab hari ini harus selasai juga, yaitu akan disibukkan dengan pekerjaan penukaran barang yang kainnya rusak.


"Gimana Rudi?" tanyaku pada sekertaris yang masuk pagi juga.


"Semua sudah siap! Total ada sembilan puluh tiga toko yang hari ini akan disetor dengan barang baru. Pakaian jadi dengan kain yang jelek kemarin, sudah ditarik semua. Untung saja Edo bekerja dengan cekatan, sehingga dia dengan mudah dan cepat menyelesaikan ini semua, tak salah kamu menugaskan dia," Rudi menerangkan.



"Benarkah itu? Memang Edo ini, walau skillnya agak kurang, tapi dia adalah pria pekerja keras, sehingga dia bisa diandalkan," pujiku.


"Benar itu, Bos!" simbatannya setuju atas perkataanku.


Tangan sibuk memegang kain, untuk memastikan kalau ganti rugi tidak salah lagi.


"Oh ya, Bos! Gimana dengan si Nola itu? Apakah kamu ada rencana untuk menjatuhkannya balik, ataupun membongkar semua kelicikannya?" tanya Rudi.


"Aku masih belum dapat ide. Pikiran masih buntu, sebab masih banyak sekali masalah diperusahaan, yang harus kita selesaikan dengan cepat agar tidak banyak merugikan perusahaan. Jadi aku belum sempat berpikir apa yang harus kulakukan pada kak Nola selanjutnya," jawabku masih binggung.



"Kita selesaikan dulu urusan perusahaan, baru kita buat siasat untuk membongkar semuanya!" simbatan ucapan Rudi.


"Bener apa katamu."


"Karena kalian terlalu dekat, pasti akan susah membongkarnya."


"Maka dari itu, aku tidak bisa gampangan mengungkap semua masalah ini. Dia adalah teman baik, takut kalau tersingung akut saat sementara niat dia hanya untuk memajukan perusahaan saja."


"Apa dia dipaksa seseorang, ya? Sebab tidak mungkin dia seorang wanita bisa membuat masalah besar, dan membuat ulah sama perusahaan kita yang terkenal ini."


"Kalau itu aku tidak tahu. Bisa jadi iya, tapi kita tidak boleh su'udzon dulu, sebelum dengan mata kepala kita ada bukti bahwa ada orang utama dibalik dalang ini."


"Benar kamu, Bos. Semoga perusahaan akan kembali stabil dan masalah ini akan segera selesai."


"Amin."


"Oh, ya. Para karyawan yang sudah bekerja keras dan akhir-akhir ini suka lembur, langsung bagiin hadiah atas usaha mereka, yang termasuk dengan Edo sebab dia banyak membantu."


"Beres itu, Bos. Semua itu nanti akan kuatasi."

__ADS_1


"Thanks atas bantuannya."


"Santai saja, kayak kita tidak kenal baik saja."


Aku dan Rudi kini telah disibukkan dengan pekerjaan menukar barang. Harus wira-wiri dari toko satu ke toko yang lainnya. Semua harus beres hari ini. Tidak ingin ada tambahan komplain dari pelanggan ataupun pembeli.


Tanpa terasa haripun mulai gelap, dan aku secepatnya harus pulang ke rumah, untuk menepati janji mengajak makan malam Ana.


"Assalamualaikum," salamku masuk rumah orangtua.


"Walaikumsalam," jawab Mma dan Ana kompak.


"Tumben jam segini sudah pulang?" tanya Mama sambil melihat jam di dinding.


"Hehehee, Adit ada perlu sama Ana hari ini, sebab kami mau kencan," jawabku secara gamblang.


Ana melihatku dengan tatapan melotot, mungkin tak suka atas jawabanku barusan.


"Kencan?" Keterkejutan Mama.


Beliau menoleh sebentar ke arah Ana. Istri hanya menanggapi dengan cengegesan.


"Bukannya apa-apa sih! Cuma tumben-tumbennya kamu hari ini cukup romantis mau mengajak istri kencan. Gak pa-pa Adit, lakukanlah! Yang penting kalian bahagia, dan tetap harmonis dalam menjalani biduk rumah tangga."


"Mama sama papa waktu muda dulu juga sering romantis-romantisan dengan cara berkecan, jadi kamu ngak usah sungkan ataupun malu pada kami, Ana," nasehat beliau saat melihat Ana sudah beringsut malu tak sedap hati.


"Heem, iya Ma!" Hanya senyuman manis yang dapat diberikan Ana untuk menjawab.


Wajahnya malu sekali pasti. Walau sudah mempunyai anak, melakukan hal romantis bagiku tidak masalah, asalkan istri bisa bahagia atas sikapku yang ingin selalu membuatnya tersenyum.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Ma! Mau siap-siap sebentar. Mama gak apa-apa 'kan? Aliya dititipkan sama Mama," tanyaku.


"Gak pa-pa, Adit. Mama tambah senang jika Aliya mama yang mengasuh," jawab beliau gembira.


Menepi dan menganjak Ana. Wanitaku itu hanya nurut saja. Sepertinya malu tapi mau.


Akupun sudah siap dengan setelan jas dan celana, yang senada berwarna hitam. Diriku hanya menunggu Ana dalam mobil, dan rasanya hati sudah gondok bercampur kesal sekali sama Ana, yang tak kunjung jua keluar dari rumah.


__ADS_1


"Heeeh ... huuff, lama sekali Ana ini! Memang perempuan ini, kalau berdandan sukanya sampai bertahun-tahun. Garing dah aku sekarang!" Kekesalanku yang sedang menunggu.


Jari-jari terus kuketuk distang kemudi, rasa bosan mulai hadir, hingga radio kuputar agar menghilangkan kejenuhan.


Ceklik, pintu mobil telah terbuka.


"Hadeh, mana sih Ana ini? Mana sudah lewat jamnya. Bisa kemalaman juga nanti, hufff!" Masih saja ngedumel.


"Kok lama banget sih?" gerutuku mau marah padanya.


"Maaf, Mas. Biasalah, ada yang diurus sebentar."


"Eghkem, waaah .... waah! Kamu sangat cantik sekali sayang hari ini!" pujiku saat terpesona melihatnya.


Wajahnya yang dipoles tipis-tipis, dengan rambut yang tergerai lurus memanjang, yang terhias oleh tali bando diatas kepala, membuat dia sungguh cantik bagai bidadari yang baru turun dari khayangan. Mata terus saja menatap takjub, saat baju yang berwarna hitam diatas lutut sangat cocok dengan kulitnya yang kontras putih dan mulus.


"Kenapa? Takjub?" tanyanya saat aku melamun.


"Egheem ... hemm. Enggak juga!" jawabku memungkiri.


"Halah, cakap aja kalau Mas Adit terpesona padaku! Ekspresi Mas Adit itu tak bisa disembunyikan. Mas saja mungkin tak sadar kalau selama ini punya istri cantik," tebaknya sambil mengejek.


"Iya kah? Waah ... berarti aku beruntung sekali ya mendapatkan kamu," ujarku pura-pura takjub.


"Ya ... iyalah, beruntung. Yang lebih tepatnya dapat hadiah terindah dari tuhan, dan itu adalah suatu rezeki nomplok," jawabnya melucu.


"Hihihihi, rezeki nomplok? Kayak menang lotere saja," jawabku cegigisan.


"Ya seperti itulah maksudnya. Lagian bukankah keberuntungan berpihak terus padamu."


"Iya juga sih. Keberuntungan terindah itu hanya pada dirimu, dan anugerah terindah adalah hadirnya Aliya anak kita."


"Betul itu, makanya sayangilah kami berdua agar kamu tidak menyesal lagi."


"Pasti itu, sayang. Akan kujaga kalian sampai maut memisahkan, ok!"


"Boleh diandalkan berarti."


Mobil sudah melaju dengan kilat, untuk menuju tempat restoran yang sudah kuboking. Wajah Ana terlihat tak henti-hentinya tersenyum, dan akupun yang melihat itu ikut sangat bahagia. Ini semua memang bagian dari rencanaku, untuk membuat hatinya tetap selalu gembira, sebab aku tak ingin Ana terlalu berlarut-larut dalam kesedihan pasca keguguran kemarin.

__ADS_1


__ADS_2