Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Perpisahan yang menyedihkan


__ADS_3

Saat hati mulai kembali sembuh, kenapa kini harus sakit lagi saat orang yang sungguh tulus mencintai, kini akan pergi dari hadapanku. Separah apapun rasa memendam menerima semua itu dengan ikhlas, tapi hati masih saja dibohongi bahwa aku tidak baik-baik saja atas perpisahan yang akan tetjadi.


"Ya Tuhan, kenapa diri ini terus saja kehilangan orang yang kusayangi satu persatu? Aku sangat mencintai mereka, tapi perpisahan yang menyakitkan terus saja menghampiri. Apakah aku memang tak pantas mendapatkan kasih sayang mereka? Apakah aku juga tak layak untuk dicintai? Kebaikanku selalu berlimpah atas kesabaran, tapi kenapa seolah-oleh kini telah terbalas oleh perpisahan yang selalu saja menyakitkan di hati yang paling terdalam?" rancau hati yang tak rela.


Alhamdulillah, operasi baby Naya tahap pertama telah berhasil tanpa ada kendala. Hati ibu mana yang tak akan sedih, melihat si kecil kini terbaring lemah tak berdaya, dengan tubuh terhujam beberapa selang dan jarum untuk membantu proses penyembuhan.


Bu Fatimah dan pak Samsul terus tanpa pamrih menemaniku yang dalam ketepurukan kesedihan. Mereka orang tua angkat yang patut diacungi jempol atas ketulusan. Disebalik kesusahan ternyata masih saja ada orang-orang yang selalu menguatkan diri ini, agar selalu tegar dalam menghadapi cobaan.



"Bagaimana keadaan baby Naya?" tanya Chris yang kelihatan lelah sekali.


"Alhamdulillah, dia semakin hari semakin membaik atas kondisinya. Kamu kenapa Chris, kok kelihatan lelah sekali?" tanyaku santai sambil mengelus pelan pipinya.


"Aku baik-baik saja. Ini mungkin efek tadi malam ada kejaan pemotretan sebentar," jawabnya tersenyum ramah, diiringi meletakkan tangan diatas tanganku yang masih bertenger dipipinya.


"Maafkan aku, Karin."


"Apa yang perlu dimaafkan darimu, sementara tak ada salah padaku," jawab lembut diri ini.


"Maafkan jika selama ini diriku ada salah padamu. Maafkan jika aku tak bisa membahagiakan maupun menemani kamu dalam kesusahan dihari-hari kedepan. Kau sangat tahu sekali bahwa kita akan berpisah, jadi seharusnya aku lebih lama lagi menghabiskan waktu bersamamu, tapi sayangnya kesibukkan mengenai masalah dengan orangtua tak dapat sepenuhnya menghibur kamu, jadi maafkan aku!" jelasnya pilu.


"Kamu tak payah meminta maaf begitu. Selama ini sudah ada didekat dan mengetahui kabar kamu saja itu sungguh melegakan hati ini. Kamu yang sabar mengenai orangtua, mungkin mereka melakukan itu sebab sayang dan tak mau kehilangan kamu, jadi tetaplah menjadi Chris yang kuat seperti yang kukenal pada hari-hari kemarin," ujarku mencoba memberi semangat padanya.


"Iya, karin. Benar apa katamu. Orangtua memang selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, walau kadang yang mereka lakukan itu salah. Maafkan aku sekali lagi, sebab minggu depan kita akan berpisah, karena orangtua telah mempercepat jadwal diriku untuk pergi," ujar Chris yang mulai serak pilu.


"Ngak pa-pa, Chris. Aku ikhlaskan kamu pergi. Hanyalah doa yang terbaik, semoga kau baik-baik saja dan sehat selalu disana, supaya nanti bisa cepat menemui kami lagi. Berjanjilah pada kami dalam keadaan sehat dan tetap mencintaiku ketika kembali kesini, karena hatiku akan tetap setia menunggumu dengan penuh kerinduan," ungkapan hati yang sedih.


"Terima kasih, Karin. Walau kita dalam tahap kesedihan, kamu masih bisa membahagiakan diri ini dengan ucapan manismu, yang penuh semangat untukku secepatnya melaksanakan perjanjian itu dan segera kembali ke sini. Aku akan tepati janji itu, dan semoga saja setelah itu kita akan bahagia diatas pelaminan yang sempat aku janjikan kemarin," jawab Chris sudah menitikkan airmata.


"Iya, amin ya robbal alamin!" jawabku menghapus tetesan airmatanya yang tadi sempat jatuh.


Kesedihan yang terekam jelas dihati, sangat menusuk dada bagaikan tak tahan dan rela atas kepergiannya. Saat ketulusan telah dibalas perpisahan terasa akan sangat menyakitkan sekali, namun ketegaran hati dalam penantian akan mengalahkan semua ego yang tak rela maupun ikhlas.

__ADS_1


*********


Hari yang menegangkan dalam kesedihan akhirnya datang, saat kini aku dan ibu tengah mengantar Chris untuk pergi menuruti keinginan orantuanya. Nampak kedua orangtua Chris menatapku dengan sinis tak suka, namun tak kuhiraukan itu sebab tujuan utama hanya mengantar Chris agar perpisahan ini tak terlalu menjadi luka.


"Kamu hati-hati dan jaga kesehatan Chris," ucapku saat mendekatinya.


"Iya, Karin. Kamu juga harus jaga kesehatan, terutama jaga baik-baik baby Naya," balas jawabnya sambil mengelus pelan pipi anakku.


"Kamu jangan nakal sama mama, Naya. Om, akan pergi jauh tak bisa menemani maupun melihat tingkah polah kamu yang mengemaskan nanti, jadi jangan nakal dan jadilah anak yang baik," ujar Chris berusaha mengajak berbicara baby Naya sambil mencium pipinya.


"Kamu ingat semua pesanku 'kan? Ingat janji kita, sabar dan tunggu sampai diriku kembali membawa keindahan cinta pada kamu lagi," ucap Chris yang sudah menghapus airmataku yang kini jatuh menitik deras.


"Iya, Chris. Aku akan selalu menunggu kamu, sampai kamu kembali dengan membawa kesuksesan. Jaga baik-baik dirimu disana," ucapku yang kini sudah minta dipeluk Chris, sambil mengedong baby Naya.



Airmata begitu tak tahan untuk terus menyeruak keluar, hingga lama sekali aku dalam dekapan pelukan Chris. Terdengar pulak serak tangisan Chris, yang kini juga ikut sedih atas perpisahan ini.


"Sudah ... sudah, jangan menangis lagi, kita cuma terpisah oleh ruang waktu dan jarak. Kamu harus kuat dan selalu bahagia menjaga baby Naya, sampai benar-benar keadaannya membaik," perintah Chris yang kini tangan mengusap arimatanya dan airmataku.


"Iya, ma. Sebentar lagi," teriak jawab Chris.


"Kau tetap selalu dihatiku, jadi jangan ragukan itu semua. Selamat tinggal Karin, bye ... bye!" ucap Chris yang akhirnya mulai melambaikan tangan, untuk masuk keruang kebarangkatan.



Rasannya tak kuasa lagi mulut dan tangan ini untuk mengucapkan selamat tinggal. Hanya airmata yang sesegukkanlah menjadi saksi perpisahan ini, yang menampakkan Chris bersama kedua orangtuanya kini sudah mulai menghilang menjauh. Ibu yang melihat keadaanku hanya mengelus perlahan bahuku, agar diri ini merasa tenang dan sabar. Terus saja airmata mengalir deras, bagai anak sungai tak berhenti membawa arusnya alirannya.


Menatap kepergian dirimu


Menatap menangis sedih tak tertahan.


Terbayang saat bersama lewati masa terindah.

__ADS_1


Saat kau memelukku, tuturkan cinta.


Kau seluruh cinta bagiku.


Yang selalu menetramkan perasaanku.


Dirimu 'kan selalu ada disisiku selamanya.


Kau bagaikan nafas ditubuhku.


Menghidupkan segala kehadiranku.


Ku 'kan selalu memujamu hingga nanti kita 'kan bersama.


Tak sanggup kumemikirkan lagi.


Habis separuh nyawaku tangisimu.


Tiada lagi bait yang indah.


Terdengar merdu terucap, merayuku dan menyanjungku, tenangkan jiwa.


Tiada cinta yang setulus cintamu.


Tiada yang sanggup hentikan dirimu.


Tiada lagi rasa seindah kasihmu.


Tiada yang mampu temani diriku.


Kan selalu memujamu hingga kita nanti terus bersama.


Lirik lagu : By Siti Nurhaliza dan Cakra Khan

__ADS_1


Sedih ... sedih, itulah yang terjadi sekarang ini, saat orang yang selama ini bisa membangkitkan semangat untuk mengarungi kehidupan, kini tiada lagi yang bisa memberikan itu semua. Chris adalah lelaki yang tanpa pamrih dan balasan selalu ada untukku, yang pastinya diri ini akan membalas kebaikan itu melebihi cintaku pada diri sendiri.


__ADS_2