
Kedekatan kami sudah tidak diragukan lagi, apalagi anak-anak sekarang minta ketemuan untuk bermain bersama. Kalau sudah menyangkut anak apapun pasti akan kulakukan, walau sebenarnya merasa sungkan juga sama Chandra mengajak bertemu. Untung saja dia tidak keberatan juga atas permintaan kami.
Lagi-lagi harus ketemu sama Chandra, saat Naya merengek minta jalan-jalan bersama lagi. Kerjaan sementara kuserahkan sama para pegawai. Banyak kerjaan sebenarnya, tapi malas jika tidak dituruti pasti Naya akan merengek terus.
"Kita mau jalan-jalan kemana?" tanya Chandra sudah melihat wajah dua bocah itu dari kaca spion.
"Terserah Ayah saja!" jawab Naya.
"Iya, terserah Papa saja. Kami pokoknya mau bermain," saut Rara ikutan.
Chandra seketika menatap kearahku, seperti orang sedang kebingungan juga. Tangan hanya bisa menengadahkan keatas, sambil bergerak-gerak keatas tanda tidak tahu.
Naya sudah mengerti akan penjelasanku mengenai kak Adrian, namun dia tidak bisa menghilangkan panggilan Ayah untuk Chandra, karena katanya Ayah Adrian pasti sudah hadir dalam diri Chandra. Mungkin akibat sudah terbiasa jadi susah untuk segera menghilangkannya. Chandra tidak mempermasalahkan itu, dan semoga ke depannya hubungan diantara mereka akan semakin akrab walau itu orang lain.
Berharap kasih sayang yang sudah hilang dari kak Adrian, bisa digantikan oleh sosok Chandra sehingga Naya bisa merasakan sebuah kahangatan kebersamaan dan kebahagiaan bersama ayahnya.
Laju mobil sudah berhenti diparkiran. Banyak orang yang sedang berlalu lalang menikmati keindahan. Sepertinya tujuan kedatangan kami adalah sebuah taman bunga, sebab disekitaran hanya dipenuhi oleh tumbuhan, bunga nan indah dan berwarna-warni.
Para bidadari kecil sudah turun dengan berlarian ke arah lapangan, yang telah ditumbuhi reremputan nan hijau. Tangan sudah menjinjing tas yang berisikan bekal makanan, camilan, dan minuman. Ini adalah hari libur sekolah, jadi kami semua bisa main sepuasnya ditaman ini.
Chandra hanya bisa melangkah menyepadankan tapak kaki, yang pelan-pekan berjalan kearah anak-anak kami. Ramai sekali para keluarga sedang menikmati taman ini juga. Bahkan muda-mudi juga ada yang terus berseliweran menampakkan kemesraan mereka. Bikin iri tapi sadar diri.
"Ingin sekali aku merasakan seperti mereka, namun apalah daya kebersamaan dengan kak Adrian kini hanyalah tinggal kenangan? Andaikan kami masih ada disini, pasti kita akan bahagia bagaikan pasangan muda-nudi yang terus menampakkan senyuman kebahagiaan mereka," guman hati yang iri ke arah mereka.
"Ada apa, Karin?" Tiba-tiba dikejutkan oleh suara Chandra.
"Ehhh, tidak ada apa-apa, kok."
"Tidak usah berbohong. Aku lihat kamu sedang menatap seksama para pemuda, yang tengah mengandeng pasangan mereka. Apakah kamu merindukan sosok yang selama ini kamu sayangi?" Pertanyaan Chandra yang konyol.
"Sedikit saja," jawabku malu-malu.
"Berarti kamu masih belum ikhlas dan bisa melupakan sosok ayah Naya."
"Mungkin. Dia begitu membekas dihati, sampai aku ingin berdiri melangkah maju kedepanpun rasanya sulit dan berat sekali," ucapku mengeluarkan uneg-uneg.
"Tapi itu tidak baik, jika memikirkan orang yang sudah tiada dan tidak bisa kami sentuh lagi. Coba mulai sekarang bangkitlah demi Naya, dan jangan pikirkan hal lain. Memang berat pada awalnya, tapi apa kamu tidak kasihan sama Naya jika terus menerus akan terpuruk dalam kesedihan itu," Nasehat Chandra.
"Aku akui benar katamu, tapi itu memang sangat sulit sekali rasanya. Banyak kenangan yang menurutku setiap kejadian itu tidak bisa dihempaskan begitu saja."
"Aku tahu itu, sebab aku juga pernah mengalaminya. Sempat jatuh dan terpuruk beberapa bulan, tapi ketika mendengar tangisan Rara aku seketika sadar bahwa ada anak yang harus dibahagiakan sekarang. Kalau bisa hempaskan dan usahakan buang semuanya. Cukup beberapa kenangan manis saja yang harus disimpan."
__ADS_1
"Emm, benar apa yang kamu katakan. Semoga beberapa hari ke depan aku bisa melakukan apa yang kamu katakan itu. Memang sungguh menyiksa sekali, tapi mau berkata apa saat kenangan itu terus saja tertancap dalam memory."
"Ya sudah, pelan-pelan saja. Kalaupun dipaksa nanti akan berpengaruh sama kesehatan kamu juga."
"Iya, Chandra. Terima kasih atas emua nasehatmu. Semoga aku bisa menjalani kebenaran yang kamu katakan tadi."
"Amin."
Kami hanya bisa menanggapi tersenyum kembali, saat melihat keceriaan anak-anak yang tanpa henti tertawa riang. Tangan memegang minuman kaleng untuk diteguk. Chandra sudah berada ditengah anak-anak mengajak bermain. Orangtua harus pandai mengambil hati anak, walau harus ikutan dan bertingkah berpura-pura jadi anak kecil juga.
"Huufff, capeknya!" keluh Chandra sudah mendekati posisiku yang duduk lesehan direremputan.
"Ambillah ini!" Memberikan minuman soda kaleng.
"Terima kasih."
"Emm."
Tenggorokan kami sama-sama sudah dialiri minuman manis dengan butir-butir sodanya. Anak-anak kini ikutan juga menghampiriku, wajah mereka penuh dengan peluh dan aku segera menghapusnya dengan tisu, sedangkan Chandra membrikan minuman botol berupa teh.
"Chandra!" Sapa seorang wanita paruh baya.
"Mama!" Balik sapa Chandra kaget.
"Lagi mengajak jalan-jalan cucumu saja."
"Oma!" teriak Rara yang sekarang minta dipeluk.
Tangannya yang mulai keriput menyambut hangat kedatangan Rara dan sekarang mengelus pelan rambut hitam serta memanjang itu.
"Lalu, Mama sedang apa disini?" Balik tanya Chandra.
"Tadi sempat ketemuan sama teman-teman Mama. Biasalah arisan," terang beliau.
"Ohh."
Beliau sudah menatap kearahku dengan sorot mata keanehan. Dari atas sampai bawah beliau perhatikan semua, dan aku hanya menanggapi dengan senyuman kecut.
"Ini ... ini, siapa?" tanyanya.
"Kenalkan, nama saya Karin?" tangan sudah terulur.
Tangan telah mengambang diudara , tanpa ada sambutan baik dari mama Chandra.
__ADS_1
"Emm, salam kenal juga." Datarnya beliau menjawab.
"Iya, Tante."
"Ma, kenapa tidak menerima perkenalan Karin, dia 'kan berusaha baik-baik mau memperkenalkan diri," keluh Chandra.
"Diam kamu."
"Tidak apa-apa, Chan."
"Tapi, Karin."
"Sudah, tidak usah banyak bicara kamu, Chandra."
"Oh ya, kamu masih single atau sudah bersuami? Kamu wanita karir atau ibu rumah tangga? Kelihatanya dari penampilan kamu seperti kalangan bawah," ucap beliau sudah menatap aneh.
"Saya sekarang sendiri. Ayah anak saya sudah meninggal. Saya pekerja ditoko roti."
"Ooh, berarti kamu beneran dari kalangan orang miskin," hina beliau.
"Ma? Apa-apan sih, kok bilang begitu."
"Diam kamu, Chandra. Kamu kok mau sih berteman sama wanita kayak gini, mau ditaruh mana muka keluarga kita."
"Aah, Mama ini. Jangan 'lah bilang begitu. Aku tidak peduli mau berteman dengan orang kaya maupun miskin, yang terpenting Rara sekarang bahagia, paham!" bantah Chandra.
"Kamu!" Mamanya nampak sudah emosi.
"Ayo kalian beberes. Kita akan pergi dari sini!" suruh Chandra pada anak-anak.
Anak-anak beneran mengikuti ucapan Chandra. Akupun juga harus membereskan bekal yang belum sempat kami buka maupun makan.
"Eeeh, kalian mau kemana?."
"Kami akan pindah tempat mencari ketenangan. Daripada disini mendengar ocehan Mama bikin telingaku panas saja."
"Tapi, Chandra. Mama baru datang dan ingin bergabung sebentar dengan kalian."
"Lebih baik Mama pulang ke rumah saja, lagian urusan 'kan sudah selesai. Aku mau melanjutkan membahagiakan anak-anak, jadi jangan ikut campur apalagi sampai mengikuti kami, paham!" tegas Chandra.
Mamanya tidak bisa berkutik lagi, saat ada bantahan dari anak sendiri.
"Ayo Karin, kita pergi dari sini! Tidak enak kalau ada orang yang ganggu.
"Iya, Chan."
__ADS_1
Akhirnya tangan masing-masing anak kami sudah tergandeng. Benar saja, Chandra mengajak berpindah tempat lain. Rasanya tidak enak jika dia sudah membantah Mamanya sendiri, tapi demi anak-anak yang sudah melihat kami tadi, tidak ingin berpengaruh buruk karena ucapan beliau tadi begitu pedas dan tidak patut ditiru.