Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Dia Berterima Kasih


__ADS_3

Tok ... tok, pintu telah diketuk yang sudah terbuka, sebab mungkin mas Adit tadi lupa menutupnya


"Maaf Pak, saya mau mengantar minuman yang dipesan," jelas pegawai Mas Adit.


"Ooh iya, bawalah ke sini, dan taruhlah dimeja itu?"


"Iya, Pak."


Kami jadi berhenti berbicara. Tidak mau orang lain mendengar kisah pilu itu. Jangan sampai ada gosip yang tidak enak menyebar diperusahaan.


"Saya permisi Pak, Bu!" pamit pegawai itu.


"Iya."


Setelah pegawai itu melenggang pergi, langsung saja cangkir yang berisi teh, kusodorkan kepada Kak Nola agar dia bisa segera meminumnya. Terlihat dia begitu nyamannya minum, saat teh itu terlihat telah habis tandas diminumnya.


"Huuuuff ... fffff," Tarikan nafasnya yang panjang.


"Oh ya, Mas. Boleh minta tolong belikan obat oles untuk merendam sakit kak Nola, sebab tadi sekujur bahu belakangnya sudah terasa memerah dan itu pasti sangat kesakitan," suruhku.


__ADS_1


"Biar Rudi saja yang beli," jawabnya menyuruh orang.


"Baiklah, Bos. Siap laksanakan."


Sekertaris Rudipun telah pergi, dan akupun berusaha menanyai kak Nola lagi.


"Oh ya kak, berarti apa yang kamu katakan kemarin itu benar? Bahwa yang menguncangkan perusahaan Mas Adit bukan kamu, tapi-?" Suaraku tertahan dan mencoba menebak.


"Iya Ana, aku sebenarnya tidak ada niat hati, untuk menjatuhkan Adit. Cuma suamiku itu sudah mengancam, sebab akan menjual semua aset peninggalan orang tuaku, jadi akupun terpaksa melakukan semua perintahnya. Maafkan aku Ana, dihari-hari kemarin telah sempat mengoda Adit, sehingga kamupun merasa ketakutan kalau diriku merebutnya. Aku bisa memaklumi atas inseden pembakaran baju, sebab kamu tak mau Adit jatuh begitu saja ke tanganku," jelasnya.



"Akupun sama ak, sebab telah hampir mencelakaimu. Maafkan aku juga," Memeluk tubuhnya erat.


"Kok aneh betul ya, Kak! Suami kamu kayak tidak suka betul sama diriku. Kakak tahu sendiri 'kan, kami telah berteman sejak waktu SMA. Kami bagaikan teman sejoli yang tidak pernah terpisahkan, dan aku tak tahu kenapa dia dulu menjauh dan tak mau bicara padaku lagi. Kakak tahu alasannya kenapa? Sampai-sampai dia membenci diriku, dan sekarang mau menghancurkan perusahaan," tanya Mas Adit yang sudah merasa janggal dan aneh.



Akupun kaget atas penerangan suami, bahwa dia ternyata mengenal baik suami Kak Nola. Dan otakpun kini berpikir keras, apa yang sebenarnya terjadi disebalik semua masalah?.


"Aku juga tidak tahu Adit. Apa alasannya! Yang jelas dia berubah drastis saat anak kami meninggal, jadi kejam dan suka marah-marah tidak jelas," Ada raut kesedihan mendalam.

__ADS_1


"Eem ... mmm, kira-kira apa ya, Kak!" sahutku merasa binggung.


"Nanti aja kita akan cari tahu. Yang terpenting sekarang obati luka Kak Nola dulu, tapi menunggu Rudi datang membelinya," ujar Mas Adit.


"Eeem, benar juga." Setuju dengan kepala mengangguk.


Mas Aditpun sudah keluar dari ruangan ganti pakaian, dan kini hanya meninggalkanku dan kak Nola saja, sebab luka belakangnya telah parah dan harus buka baju, jadi hanya diriku yang bisa membantunya mengoleskan salep pereda sakit.


Ritual mengobati telah selesai. Sempat berdesis kuat sebab lukanya mulai berair dan memerah. Tangan sempat mengepal kuat ditiap garisan diolesi obat.


"Terima kasih, Ana, Adit! Kalian selain baik hati, ternyata mulia juga sifat kalian. Rasanya sungguh plog sekali bisa berkeluh kesah pada kalian, terima kasih!" ucap Kak Nola ingin berpamitan.


"Iya Kak, sama-sama. Kalau Kakak butuh bantuan lagi, kami siap akan membantu, dan anggaplah kami seperti keluarga sendiri," Kelegowoan mas Adit


"Iya, Adit! Terima kasih. Kalau begitu aku akan pulang dulu," ujarnya.


"Iya Kak, kamu hati-hati dijalan," jawabku.


"Emm. Bye ... bye."


Tubuh kak Nola sudah hilang dari pandangan kami, sungguh rasa iba dan kasihan begitu terasa dihati, ternyata suami yang seharusnya melindungi, tak tahunya telah menyakiti dengan cara memukul, setiap jengkang anggota tubuhnya. Miris sekali kisah kehidupan kak Nola, bukannya mendapat bahagia tapi justru kesengsaraan pikiran dan bathinnya

__ADS_1


__ADS_2