Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Wajah Yang Mirip. SEASON 2


__ADS_3

Para karyawan telah berbisik pelan-pelan, kelihatan menyindirku yang sedang menghampiri pria yang sibuk berbincang dengan pegawai pria. Semua kelihatan penuh tatapan keheranan.


"Permisi!" sapa kepada anggota keluarga Rara.


"Iya," jawabnya pelan.


Mata yang melotot ingin melihat rupa dia, seketika dibuat kian terbelalak saat menyaksikan pria yang ada dihadapanku telah menoleh.


Deg, jantung berdetak lebih kencang. Bumi terasa mulai berputar. Sikap yang berdiri sedikit mengambang, bagaikan telah terbang ke awan yaitu terasa ringan. Kaki sudah kaku tidak bisa merasakan pijakkan dilantai. Sekumpulan kunang-kunang nampak mulai mengerubungi.


Tubuh ringan bergerak-gerak melayang kiri kanan ingin jatuh. Entah mengapa kepala terasa berat, saat rasa pusing mulai mendera.



"Eeeh, Mbak!" ucap salah satu karyawan yang berhasil menangkap tubuh.


Tangan meraba kening yang berdenyut sakit. Kemudian jari-jari mengucek mata agar pandangan tak kabur.


"Kamu tidak apa-apa?" Suara kekhawatiran pria yang membuatku syok.


"Mbak ... mbak!" Suara kompak para karyawan.


Para pegawai sudah berkumpul untuk memastikan keadaan ini. Mereka tahu sekali alasan mengapa tubuh bisa berubah jadi melemah.


"Astagfirullah ... astagfirullah. Semoga apa yang kulihat ini bukanlah sungguhan," Bathin hati sedih.


"Mbak, ayo! Akan kami papah agar bisa merilekskan tubuh untuk duduk," ajak karyawan.


"Aku ngak pa-pa, hufffff!" Hembusan nafas kasar agar hati ini bisa mereda segera.


Mata masih terpejam pura-pura sambil tangan terus menguceknya, agar bisa meredakan apa yang kulihat sekarang ini.


"Iya, Mbak. Kalau kurang fit, kami bisa mengangkat ke tempat yang lebih baik," simbat pegawai lain.


"Aku beneran baik-baik saja."


"Ambilkan kursi agar bos kalian bisa duduk dengan tenang. Ambilkan air putih juga agar lebih baik lagi," suruh pria itu.


"Baik, Mas!" jawab karyawan.


Netra mulai perlahan-lahan kubuka. Jantung kian berdetak tak tentu pacuannya, ketika menyaksikan wajah pria itu terpampang dekat sekali, diposisi tubuh yang terkulai lemas duduk dilantai.

__ADS_1


"Astagfirullah. Aku tidak sedang bermimpi melihat wajah itu," guman hati yang sadar atas apa yang terjadi sekarang.


Segelas air putih berhasil disodorkan. Pegawai sudah menuntun untuk segera kuminum. Tenggorokan yang kering mulai terasa dialiri air hangat suam-suam kuku. Kehangatan mulai terasa diusus, sehingga sedikit berhasil meredakan hati yang syok.


Setelah meneguk air itu, tubuh sudah diangkat beramai-ramai agar bisa duduk tenang.


"Mbak, tidak apa-apa 'kan?" tanya karyawan lagi.


"Alhamdulillah, aku sudah merasa baikan sekarang, tidak seperti tadi."


"Syukurlah kalau begitu," saut yang lain.


Semua mata kini tertuju padaku. Tahu sekali jika perasaan sedih mulai hadir.


"Kalian boleh pergi, untuk kembali kepekerjaan masing-masing," suruhku dengan nada masih lemah.


"Tapi, Mbak. Kami sangat khawatir jika nanti terjadi apa-apa lagi," tolak karyawan.


"Insyaallah, aku baik."


"Alhamdulillah. Masih bisa mengatasi ini, jadi kembalillah bekerja sebab banyak pelanggan sedang menunggu."


"Ya sudah, Mbak. Kami semua akan permisi ke pekerjaan masing-masing," Salah satu pegawai mewakili dan menerima apa yang kumaksud.


"Emm."


Satu persatu pegawai mulai melenggang pergi. Tidak ada satupun yang menjaga. Kini hanya ada aku dan tamu keluarga Rara.


"Maafkan saya, atas kejadian ini," ucapku tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Anggap saja ini kejadian biasa, yang mungkin sedang lelah dalam bekerja saja," jawabnya melembutkan perkataan.


"Terima kasih atas pengertiannya." Senyuman manis terlempar, tapi begitu berat untuk melakukannya barusan.


"Oh, iya. Santai saja."


"Apakah aku tidak salah alamat datang kesini? Sebab saya mencari anak kecil bernama Rara?" Tangan sudah mengusap tengkuk perlahan. Kelihatan dia tidak enak atas pertanyaannya.


"Oooh, benar. Rara ada disini."


"Mari akan saya antarkan kepada dia. Rara sedang tidur didalam," Sikap yang duduk sekarang ingin berdiri.

__ADS_1


"Eeh, kalau masih sakit mending tidak usah mengantar. Biar saya saja yang akan kesana sendirian." Tangannya ingin meraup menolong, mungkin takut jika aku ingin jatuh pingsan lagi.


"Tidak ada apa-apa, kok. Aku baik-baik saja."


"Beneran, nih? Maaf, jika sudah merepotkan kamu."


"Iya, ngak pa-pa."


Berjalan duluan, ingin menunjukkan ruangan tempat kerja.


Pria yang tak tahu namanya, namun wajah mirip dengan kak Adrian sudah membututi dari belakang.



Ceklek, pintu sudah terbuka. Menampakkan beberapa kotak kue telah berserakan dimana-mana habis kubuat tadi. Kasur lantai yang ada Rara sedang tertidur pulas telah kami hampiri.


Pria itu langsung saja membopong tubuh Rara, dengan cara memanggulnya didepan. Tubuhnya yang masih kecil mudah untuk mengangkat.


"Maafkan saya jika sudah merepotkan dan terima kasih telah menjaga Rara dengan baik," cakapnya tersenyum lebar.


"Sama-sama. Dia tidak merepotkan sama sekali, hanya tadi kebetulan menolongnya saat tak tahu jalan pulang," terang malu-malu.


"Pokoknya terima kasih, sudah berbaik hati membantu dan menjaga. Entah apa yang terjadi, jika Rara tidak bertemu dengan orang baik seperti anda. Mungkin saja, saya tidak akan bertemu dengan Rara lagi," Suaranya terdengar sungkan.


"Iya, sama-sama. Alhamdulillah, saya bisa membantu Rara, sampai pada akhirnya bisa kembali lagi kepada keluarganya."


"Emm, makasih. Ya sudah, kalau begitu kami mau pulang dulu. Kasihan sama Rara, pasti sudah lama menunggu keluarga untuk menjemput," pamitnya berbasa-basi.


"Iya, kasihan dia tadi. Tidak berhenti menangis terus."


"Benarkah? Pasti merepotkan sekali jika tadi dia menangis."


"Tidak apa-apa. Itu hal wajar yang terjadi jika ketakutan, apalagi anak kecil yang terpisah."


"Ya sudah, kami pamit dulu. Hari sudah mulai malam. Terima kasih!" cakapnya yang kali ini benar-benar akan pergi.


"Iya, sama-sama."


Sekarang gantian pria itu yang berjalan duluan. Hanya bisa mengantarnya sampai ke depan pintu toko ssja.


Walau pria itu mirip, namun aku tak mau langsung gegabah kecentilan sama dia, sebab sadar diri jika mereka memang orang yang berbeda. Lambaian tangam telah terlempar untukku. Mobil mulai menjalankan mesinnya, saat aku membalas balik lambaian itu.

__ADS_1


__ADS_2