
Pagi untuk kerja sudah menjelang, dan aku telah disibukkan dengan merias gedung, yaitu dengan pernak-pernik hiasan, bunga segar, balon, dan pita-pita hias. Pokoknya gedung dilantai dua puluh tiga sudah kusulap menjadi tempat yang indah, dan elegan atas keromantisannya.
"Sini ... sini. Semua kumpul ... semua kumpul, ada pekerjaan untuk kalian. Kalian semua nanti datang ke lantai dua puluh tiga, yaitu untuk membantu Bos memeriahkan lamarannya," ucap Rudi pada para pegawai memberi pengumuman.
"Wah, Bos besar akan melamar siapa, nih! Benar-benar beruntung orang itu!" ucap salah satu karyawan bertanya.
"Dia adalah pegawai sini, dan dia adalah istri bos yang sesungguhnya, yang dulu sempat terpisah oleh sesuatu hal. Dan sekarang bos besar ingin mendapatkan dia kembali, jadi kami minta tolong kalian memberi semangat di acara nanti," penjelasan Rudi.
"Pasti Bos. Kami akan selalu mendukungmu sampai akhir, semangat bos!" imbuh ucap karyawan lain.
"Iya Bos. Semangat ... semangat," celoteh yang lain juga.
"Iya, terima kasih untuk semua orang atas semangatnya," ucapku pada mereka.
"Oh ya, untuk kalian semua nanti ada arahan dari petugas surahan kami, jadi kalian harus mengikuti petunjuknya, oke!" pidato Rudi lagi.
"Siap sekali, Bos."
"Good untuk kalian."
Akhirnya rencana sudah tersusun rapi, dan tinggal menjalakannya. Sekarang giliranku untuk memanggil ana, yang sedang sibuk bekerja dilantai tiga belas.
"Hei Ana," panggilku dengan mengagetkannya dari belakang.
"Ada apa sih, Mas! Ganggu orang kerja saja, mentang-mentang Bos disini yang lagi ngak ada kerjaan, selalu main ganggu orang saja," ketusnya berbicara.
"Kok ketus amat bicaranya?" Tidak suka atas nada cakapnya.
"Iya ... iya, maaf. Habisnya Mas, kayak sibuk mau gangguin gitu."
"Masak sih? Ngak ada 'lah, perasaan kamu saja mungkin aku mau usil."
"Mungkin. Ada apa'an, sih! Aku benar-benar sibuk dengan pekerjaan. Kalau ada yang ingin dibicarakan segera utarakan, sebab aku mau pindah ke tempat lain, nih!"
"Hadeh, jadi ceritanya ngusir, nih."
"Enggak gitu juga, tapi beneran aku syebuk, jadi ada hal yang ingin dibicarakan sekarang, tidak? Sebelum benar-benar pergi ini."
"Ngak ada yang dibicarakan, sih! Tapi ada sesuatu yang ingin kuberikan!" jawabanku.
"Apaan itu? Berikan disini saja, kok susah amat."
"Kalau kuberikan disini, namanya bukan suprise. Ayo ikut aku," ajakku yang sudah menarik tangannya.
"Mau kemana sih, Mas? Pelan-pelan jalannya. Ngak sabar betul, tunggu dulu kenapa!" bawelnya mulut Ana, dengan melepas genggaman tanganku.
"Ada apa lagi Ana, ayo cepetan ikut aku dulu," suruhku lagi.
"Tunggu dulu, Mas. Aku mau kelarin dulu pekerjaan membersihkan," jelasnya.
__ADS_1
"Aah, masalah pekerjaan biar nanti dikerjakan sama pegawai lain, kamu harus benar-benar ikut denganku sekarang!" suruhku lagi berusaha memaksa.
"Iya ... iya. Sebentar, kubereskan dulu alat pekerjaannya."
"Hmm, cepat."
Tangan Ana sekarang terus saja kutarik untuk mengikuti langkahku, tanpa dia tahu kejutan apa yang akan kuberikan padanya nanti.
Ckleeeek, pintu perlahan-lahan kubuka.
"Kok gelap amat sih, Mas!" tanyanya kebinggungan.
"Kamu tunggu di sini sebentar, ada sesuatu yang ingin kuambil," suruhku pada Ana yang kini sudah tepat berdiri di tengah-tengah ruangan.
"Tes ... tes," suaraku mengetes mic.
Byaaar, lampu putih berbentuk bulat hanya menyinari tubuh Ana seorang yang tengah berdiri sendirian.
"Untuk Ana Istriku yang sedang berdiri di sana!" ucapku dalam kegelapan, mulai membuka percakapan.
Maafkanlah suamimu yang selama ini telah menyakitimu.
Wajahmu selamanya tak pernah kulupakan.
Setiap detik, dan menit hanya dirimulah yang ada dalam pikiranku.
Senyum manis dan namamu selalu saja terukir indah dihatiku.
Kamu telah berhasil mengetuk pintu hatiku yang sempat tertutup untukmu.
Diwaktu kau pergi aku sudah mulai jatuh cinta padamu.
Namun belum sempat mengatakannya, kau telah pergi begitu saja dari hadapanku.
Sungguh aku begitu tersiksa atas kepergianmu itu.
Aku begitu merindu akan kehadiranmu.
Aku ingin terus memelukmu.
Aku begitu mencintaimu, Ana.
Hanya dirimulah dihatiku selamanya dan seterusnya.
Kamu sungguh membuatku mengila akan nama cinta.
Kamu juga telah berhasil memutar balikkan hatiku.
Dan hatiku sungguh bergetar atas cinta yang kau bawa.
Maafkanlah aku, Ana.
Aku benar-benar tidak bisa lagi hidup tanpamu disisiku.
Rasaku yang dulu pernah singgah kini lebih mengebu hadir, yaitu saat engkau kembali.
__ADS_1
Tapi sayangnya engkau seperti membenciku.
Sehingga akupun sangat tersiksa atas semua sikapmu itu.
Aku benar-benar tidak menginginkan lagi kata perpisahan diantara cinta kita.
Jadi kembalilah kepadaku.
Aku akan mengengam erat tanganmu terus, dan takkan pernah kulepaskan lagi.
Suasana dalam ruangan mandadak hening, setelah kata-kata merayuku yang sedikit berbentuk puisi, dan kini aku berjalan ke arah Ana yang terdiam dengan netra sudah berkaca-kaca.
"Maafkan aku Ana, maukah kau kembali lagi padaku? Kita akan terus bersama dan memulai lagi kisah baru dalam rumah tangga yang sempat tertunda! Kembalilah padaku, wahai istriku!" ucapku yang sudah bersujud didepan Ana, dengan memberikan sebuah kotak berisi cincin, yang dikembalikan Ana waktu ingin kabur dulu.
Mulut Ana tidak bisa berkata-kata lagi, yang mana airmata tak henti-hentinya terus menetes, mungkin sudah tersentuh hatinya akibat ucapan-ucapanku barusan.
"Haching ... huaaching," Suara tiba-tiba orang bersin dalam kegelapan.
"Katanya hanya ada kita berdua disini! Beneran ngak ada orang disini 'kan?" tanya Ana padaku.
"Huuus, ini gara-gara kamu bersin," imbuh percakapan seseorang dalam kegelapan.
Heheheh. Hanya cegegesan yang dapat kuberikan pada Ana.
"Tidak usah pedulikan mereka, yang terpenting sekarang adalah bagaimana dengan penawaranku tadi?" tanyaku balik.
"Terima ... terima ... Ana. Terima, pok ... pok," suara gemuruh semua orang mulai menyemangatinya.
"Ayo, terima Ana. Terima saja, kasihan Pak Adit. Terima ... Ana ... terima," imbuh pekik semua orang secara serempak.
"Heeem," jawab Ana sambil menganggukan kepala.
"Ini nyata 'kan? Apa yang barusan kamu berikan atas jawabannya?" tanyaku lagi sebab tidak percaya.
"Iya, Mas. Aku menerimamu," jawabnya lirih.
"Apa ... apa? Aku tidak mendengarmu!" pintaku pada Ana untuk mengulanginya.
Telinga memang tidak terlalu terdengar kata-katanya, akibat sorak riuh gembira orang-orang yang mendukung kami.
"AKU MAU MENERIMA KAMU," teriak Ana dengan lantang sekuat-kuatnya.
Byaaar, dor ... duoor, lampu seketika menyala semua, dibarengi dengan beberapa letusan balon.
"Waaaaaah, wow!" Ana kagum, saat mata menjelajahi sekeliling ruangan yang sudah didekorasi.
"Selamat Ana. Selamat Pak Adit," teriak semua orang.
"Terima kasih, Ana!" teriakku sekencang-kencangnya dengan mengendong dan berputar-putar.
"Sama-sama, Mas. Aku juga mencintaimu," teriaknya yang tak mau kalah dan malu lagi pada semua orang lain.
__ADS_1