
Sebenarnya Aliya sudah ingin kuambil tinggal bersama kami berdua, tapi apa boleh buat saat mertua meminta Aliya untuk jadi temannya dirumah, dan akupun dengan pasrah mengizinkan, sebab dia begitu menyayangi cucu satu-satunya itu. Selain itu mas Adit untuk sementara ini harus kurawat dengan baik, dikarenakan akhir-akhir ini dia begitu disibukkan dengan urusan perusahaan.
"Beginilah nasib kalau tidak bisa menyetir mobil, pergi kemana-mana terpaksa menaiki taxi sendirian."
Netra terus menatap keindahan pemandangan diluar kaca taxi, dengan keadaan sudah ramai orang-orang berlalu lalang melajukan kendaraan.
"Behenti ... berhenti, Pak!" suruhku pada supir taxi.
"Ada apa, Nona? Kita belum sampai tujuan ini," tanya sopir taxi binggung.
"Berhenti sebentar!"
"Baik."
Netra kini melihat fokus ke arah pinggir jalan, yang memperlihatkan sepasang suami istri yang sedang bertengkar, dan akupun mengenal siapa mereka berdua, yaitu kak Nola bersama suami. Terlihat tangan telunjuk suaminya itu telah kurang ajar menunjuk-nunjuk ke arah wajah kak Nola, yang mana dia hanya bisa diam membisu dimarahi suaminya. Tak berselang lama, terlihat kak Nola membantah omongan suami, dan sampai pada akhirnya sebuah tamparan keras terdarat dipipinya. Akupun yang hanya menyaksikan itu begitu geram dan marah. Sungguh suaminya itu tidak ada malu, telah berani menampar wajah cantik istrinya sendiri ditempat umum.
"Pak ini! Saya turun saja disini," ucapku menyodorkan uang pecahan merah.
Tas yang awalnya tergeletak, cepat-cepat kuraih. Membuka untuk ambil dompet didalam.
"Oh iya Nona, terima kasih. Ini kembaliannya," jawab Pak sopir taxi, balik menyodorkan uang.
"Bapak ambil saja kembaliannya, saya yang harusnya mengucapkan terima kasih karena sudah diantar."
"Iya, Nona. Sama-sama."
Braaak, suara pintu taxi sudah kututup rapat.
Langkah kini berusaha menyebrang jalan, untuk mencoba menghampiri kak Nola, saat suami kejamnya telah melenggang pergi.
Kak Nola kelihatan sudah mengeluarkan air mata, sehingga rasa ibakupun datang yang mencoba mendekatinya.
"Kak Nola!" panggilku.
Dia terduduk bersimpuh. Keadaannya begitu kacau. Rambut yang tersisir rapi harus ada sedikit terkeluar berantakan.
"Ana?" Kekagetannya yang sudah mengusap airmata.
"Kamu baik-baik saja 'kan? Maaf, tadi tidak sengaja melihat semua " tanyaku.
__ADS_1
"Iya aku baik. Tidak apa-apa. Itu hal biasa yang sering terjdi padaku. Oh ya, kamu kok ada disini?" tanyanya balik.
"Kebetulan aku sedang lewat tadi."
"Oh begitu."
Wajah Kak Nola seperti orang yang sedang tidak tenang. Melihat kanan kiri untuk memastikan. Mungkin masih ada rasa takut jika ketahuan oleh orang, yang entah siapa itu tapi nampak wajah agak ketakutan.
"Kak! Kamu baik-baik saja 'kan!"
"Iya, Ana. aku sangat baik."
"Oh ya Ana, kita bicarakan didalam mobil saja, sebab aku sedang memata-matai suamiku. Ayo kamu
masuklah!" suruh kak Nola.
"Baiklah, Kak."
Dengan secepat kilat kami berdua sudah masuk dalam mobilnya. Dengan kecepatan penuh kak Nola berusaha mengejar mobil suami, yang kelihatan sudah jauh didepan kami.
"Aku tadi berusaha mengikuti suami, sebab ingin tahu dia pergi kemana? Tapi naasnya aku telah ketahuan, sehingga kamipun sempat bertengkar dipinggir jalan, dan dia berhasil menampar pipiku tadi," terangnya.
"Memang kenapa Kakak sampai mau mengikuti suami sendiri? Apakah ada hal yang mencurigakan pada suami kamu itu?" Keanehanku bertanya.
Diri ini dibuat penasaran. Pasti ada firasat yang memang ingin Kak Nola bongkar.
"Iya Ana, suamiku akhir-akhir ini sering keluar, dan menelpon orang yang tidak jelas siapa itu. Aku sempat curiga kalau dia ada wanita lain, oleh sebab itu aku berusaha mencari tahu dengan cara mengikutinya," imbuhnya menjelaskan.
"Ooh, begitu. Patut Kakak ingin mengikuti."
"Ya begitulah, Ana. Dia memang pria tertutup yang sangat mencurigakan.
"Sabar, Kak. Memang tidak mudah menghadapi watak suami yang keras."
"Terima kasih kamu masih peduli dengan masalahku."
"Sama-sama. Kita adalah teman."
__ADS_1
"Eehhh, itu ... tuh, Kak! Sepertinya mobil suami kamu tadi," tunjukku pada mobil berwarna merah.
"Iy-iiya Ana, itu mobil suamiku. Aku akan mengikuti dari jarak agak jauh saja, biar tak ketahuan sama dia lagi," responnya.
"Iya, Kak. Hati-hati."
Lama sekali kami mengikuti, dan pada akhirnya mobil didepan kami sepertinya akan berhenti, sebab telihat dari lampu mobil sudah menyala merah dari sebelah kiri.
"Suami kamu mau kemana, Kak?" tanyaku saat netra sudah memperhatikan tempat diseberang sana.
"Aku juga belum tahu, Ana. Sepertinya ini sebuah rumah sakit, tapi-?" Suara kak Nola menerka-nerka.
"Coba kita ikuti masuk kedalam saja, Kak!" suruhku.
"Baik, Ana."
Perlahan-lahan mobil sudah masuk ke dalam area rumah sakit, dan sepertinya bukanlah tempat untuk berobat orang sakit pada umumnya.
"Kak lihat? Ini bukanya rumah sakit jiwa? lihat tulisan yang bertenger didepan papan tempat masuk!" tunjukku.
"Wah benar kamu Ana. Siapa sebenarnya yang ditemui suamiku? Kok aneh banget, datang kerumah sakit jiwa?" Keheranan kak Nola berucap.
Kami terus saja mengintip tulisan yang bertengger cantik digedung berwarna putih.
"Memang Kakak ngak tahu 'kah, kalau ada keluarga atau teman atau siapapun teman terdekat yang sekarang sedang sakit?"
"Enggak, Ana! Setahuku keluarga suami semuanya jauh-jauh, dan hanya ada aku saja keluarganya yang terdekat" tutur Kak Nola menjadi binggung.
"Aneh juga! Jadi penasaran siapakah yang ditemui suami kakak itu?" balasku berkata.
"Kita masuk langsung saja Ana, kita ikuti suamiku pelan-pelan, sebab aku jadi penasaran sekali sama siapa yang ditemuinya sekarang," suruhnya.
"Emm, benar itu, Kak. Baiklah aku akan menemani Kakak. Takut saja kalau kejadian dijalan tadi terulang."
"Iya, Ana. Thanks."
Kami berduapun akhirnya sudah turun dari mobil, untuk segera mengikuti suami kak Nola. Dengan cara tergesa-gesa namun juga mengendap-endap kami mengikuti, karena tak mau kehilangan jejaknya begitu saja.
__ADS_1