
Sekarang aku berjalan mengendap-endap menyusuri pekarangan rumah Yona.
Langkah terus saja sibuk berjalan lagi dan lagi. Kini jejak tapak kaki menuju disamping rumah Yona dan tidak ada apa-apa disini, kecuali pepohonan yang rimbun berlebatkan daunnya.
Kaki terus saja menyusuri jalan dan sampai pada akhirnya mata melihat sebuah bangunan yang masih kokoh bangunanya, tapi catnya kelihatan sudah memudar dan kelihatan kotor sekali, sebab disekitar bangunan itu banyak sekali sampah-sampah berserakan sekali, serta disekelilingnya ada hitam-hitam seperti habis dibakar.
Berbekal kenekatan, perlahan namun pasti langkah terus saja maju mendekati bangunan itu yang terlihat seperti gudang terbengkalai.
"Apakah Karin benar-benar ada sini, ya? Tapi tidak mungkin Karin ada disini, sebab kelihatan sangat kotor sekali tempat ini? Masak iya Yona akan tega mengurung Karin disini?" ucapku dalam hati terus saja bertanya-tanya.
Terlihat gudang begitu rapat sekali ruangannya, tak ada celah sama sekali untuk diriku mencoba mengintip apa yang ada didalamnya.
Kupegang pintu gudang itu. Terlihat gembok begitu besar dan kuatnya terkunci, sampai aku tak serta merta untuk bisa membukanya langsung.
Kaki sekarang sudah memutar ke samping kanan gudang dan tak kutemukan jua celah besar untuk mencoba mengintip.
Akhirnya setelah memutar ke kiri, ada satu celah lubang kecil dari atas kayu jendela, tapi naasnya lagi-lagi tertutup rapat yang tergembok dari luar. Terlihat lubang itu tinggi sekali. Wajah sudah melihat ke samping kiri kanan, tapi tak kutemukan benda yang membantuku untuk memanjat.
Tidak kehabisan akal, kini diriku memutar ke arah depan lagi. Terlihat ada kursi dari plastik dan meja dari kayu tapi sudah lapuk bentuknya, sehingga diri inipun datang keraguan untuk memakainya.
"Ya ampun, apa aku benar-benar akan menaiki ini!" gumanku dalam hati ragu.
Dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan lagi, akhirnya meja dan kursi buruk ini kutumpuk jadi satu dan kini sudah berubah menjulang agak tinggi.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa dan segera memudahkanku untuk melihat keadaan didalam.
"Ya Allah, bantulah hamba agar tidak jatuh memakai barang-barang ini, sebab aku melakukan ini dengan niatan baik, untuk mencari tahu keberadaan Karin," doaku dalam hati sebab masih ada keraguan saat ingin menaikinya.
"Huuuff, Bismillah." Hembusan nafasku yang panjang sambil diiringi doa.
Sekarang kaki sudah terasa bergerak-gerak akibat gemetaran, saat menaiki bekakas yang sudah usang ini.
Mata terus saja fokus melihat keadaan dalam gudang, tapi didalamnya terlihat hanya ada kegelapan saja. Samar-samar terlihat hanya ada barang-barang yang saling bertumpukan, namun aku tidak menyerah begitu saja, yaitu saat netra terus saja sibuk melihat ke arah sekililing benda-benda sekitaran situ, sebab siapa tahu ada sosok Karin diantaranya.
"Tidak ada apa-apa disini!" guman hati.
"Hei, kamu itu siapa?" teriak suara seorang perempuan.
"Mati aku!" Keterkejutanku saat ada yang memergokki.
Kaki langsung saja turun dan berusaha ingin lari karena ada yang melihat.
"Hei, kamu siapa! Tunggu ... tunggu, hei."
"Hei, kamu. Maling ya?" tanya perempuan yang memergokki, saat dirinya sedang membuang sampah.
"Bukan ... bukan, Mbak. Saya ada keperluan sedikit disini, hanya ingin memeriksa keadaan gudang ini saja!" jawabku saat si mbaknya sudah mencekal tangan, dengan menarik kuat lengan bajuku.
"Bohong kamu! Mana ada maling yang mau ngaku," ujarnya tidak percaya.
__ADS_1
"Dan bagaimana kamu bisa masuk kesini, kalau memang bukan maling?" imbuh cakapnya yang masih tidak percaya.
"Beneran mbak, bukan ... bukan. Aku bukan maling!" jawabku mencoba menjelaskan.
"Kamu jangan bohong," celetuknya masih tidak percaya.
"Sumpah, Mbak. Aku beneran bukan maling, dan aku kesini hanya sedang mencari seseorang," jelasku lagi.
Braaaak, suara keras dalam gudang seperti benda jatuh.
"Suara apaan itu, Mbak?" tanyaku binggung.
"Entah?" jawabnya yang juga merasa aneh.
"Apakah ada seseorang didalam?" tanyaku dengan langkah sudah menghampiri pintu gudang.
"Eeeit, mau ngapain kamu?" cegah si mbaknya.
"Mau masuklah?" ketusku menjawab.
"Gak boleh. Kamu tidak boleh masuk, mengerti! Ini adalah kawasan yang dilarang sama majikanku," cegahnya berusaha menghalang-halangi.
"Enggak mau, Mbak. Memang kenapa, sih? Apakah ada sesuatu tersembunyi didalam?."
"Mana aku tahu. Pokoknya tidak bisa."
"Ayolah, Mbak. Izinkan aku masuk."
"Tidak bisa."
"Pergi kamu, cepetan pergi. Sebelum majikanku datang! Dan jika kamu kekuh masuk, nanti bisa-bisa akan kena masalah dan semburan majikan aku nanti," ujar pembantu Yona memberitahu.
Terlihat sekali pembantu Yona sudah merasa gelisah, akibat diriku kekuh tidak mau pergi dan ingin membuka pintu gudang.
"Tidak bisa. Aku harus masuk ke dalam."
"Aaah, kamu cepetan 'lah pergi sana! Sebelum majikanku benar-benar kesini," ucapnya sambil menarik-narik bajuku.
"Enggak mau, Mbak. Aku benar-benar ingin masuk kedalam, sebab aku yakin pasti didalam ada orangnya!" tolakku yang masih kekuh tidak mau pergi.
"Beneran kamu gak mau pergi!" ucapnya terlihat seperti mengancam.
"Enggak," jawabku mantap.
"Maling ... maling ... maling," teriak-teriak pembantu Yona menuduhku.
"Wah, kamu benar-benar sadis dan gila, Mbak," responku yang sudah mengambil ancang-ancang mau berlari, untuk segera menjauhi gudang.
"Biarin."
"Sudah pergi sana."
"Awas kamu."
__ADS_1
Langkah sudah sekencang-kencangnya berlari sambil terbirit-birit, dikarenakan ketakutan yang bisa-bisa bakal ada pemukulan massal, akibat tuduhan palsu pembantu Yona.
"Ada apa ... ada apa ini?" teriak Yona saat bersimpangan denganku, yang sedang berlari ingin menghampiri tempat kejadian.
Sebab tidak ingin ketahuan, wajah telah kututup menggunakan baju depan.
"Hei, kamu? Siapa kamu? Tunggu kamu!" Cegah Yona yang mencoba berbalik arah, yang tadinya mau ke gudang sekarang mengejarku.
Namun pada kenyataanya Yona tidak bisa mengejar, sebab tangan Adrian tiba-tiba sudah mencengkalnya supaya terhenti.
Kaki sudah berlari dengan langkah seribu, agar tidak ketahuan diriku ini siapa.
"Heeh ... heeh," Tarikan nafasku yang ngos-ngosan akibat lelah.
"Untung saja tidak ketahuan siapa diriku tadi, huuff ... huuf," ucapku yang menghembuskan nafas dalam-dalam akibat merasa tenang, saat sekarang sudah berada didekat mobil Adrian, yang terparkir agak jauh dari rumah Yona.
Perasaan sudah cukup merasa lega, sebab saat bertemu dengan Yona tadi, untung dengan sigap wajah kututup rapat-rapat.
"Semoga saja ... semoga saja, Yona tadi tidak mengenaliku," gumanku dalam hati yang sudah masuk ke dalam mobil Adrian.
Hampir lama juga menunggu Adrian, yang tak kunjung-kunjung jua keluar dari rumah Yona.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Adrian saat mau duduk dikursi mobil.
Bhugh, mobil sudah tertutup rapat-rapat.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" balik tanyaku.
"Aku juga baik, maaf tadi agak lama keluar, sebab Yona sempat curiga pada kita, tapi dengan kelihaianku yang sudah merayunya dia sepertinya mulai percaya lagi," penjelasan Adrian.
"Bagaimana tadi? Ada petunjuk tidak didalam rumahnya?" tanyanku penasaran.
"Ngak ada. Aman-aman saja didalam, dan sudah ketulusuri semuanya tapi masih saja tetap tak ada petunjuk," keluh Adrian.
"Bagaimana dengan kamu?" tanyanya balik.
"Aku ada sedikit keanehan dalam gudang!" ujarku memberitahu.
"Aku tidak bisa terlalu jelas melihat keadaan didalamnya sebab gelap, dan sepertinya tidak ada apa-apa didalam. Tapi yang jadi keanehanku ada suara didalam sana tadi, dan suara itu sempat terdengar begitu kuat seperti ada yang menjatuhkan suatu benda. Kalaupun binatang tidak akan sekuat itu, kalaupun hantu masak di siang-siang bolong begini ada hantunya," penjelasanku merasa ada kejanggalan.
"Benarkah itu?" tanya Adrian tak percaya.
"Benar, Adrian. Tapi tadi keburu ketahuan sama pembantu Yona, yang sudah berteriak maling kepadaku, sehingga akupun tidak bisa lebih tahu lagi ada apa sebenarnya didalam gudang itu?" Kekecewaanku berkata.
"Kalau begitu kita tunggu saja dan tetap harus mengawasi rumahnya! Siapa tahu ada petunjuk lagi."
"Saat Yona lengah kita bisa beraksi lagi," ide Adrian.
"Baiklah."
Entah apa yang kulakukan sekarang, yang jelas aku juga sangat mencinta Karin. Tapi disebalik itu semua, diriku sudah mengikhlaskan Karin bersama orang lain, sebab bagiku tiada guna lagi bila kita mencintai orang lain tapi orang itu tak mencintai kita.
__ADS_1
Walau berusaha semaksimal mungkin mendapatkannya, tapi nak berkata apa lagi? Kalau jodohku bukan bersama dia.
Dia teman yang selalu memberi perhatian saja, itu sudah cukup bagi diriku untuk merasa bahagia. Bagiku teman selamanya akan bisa awet, dibandingkan dengan cinta yang telah terjadi, sebab bisa-bisa menghancurkan hubungan pertemanan yang sudah terjalin setelah sekian lama bersama.