
Tok ... tok, pintu kamar Ana kuketuk.
"Masuk aja, Mas. Pintunya ngak dikunci, kok!" sahutan Ana didalam kamarnya.
"Maaf ya, saya menganggu," ujarku tak enak hati.
"Ada apa, Mas? Mari duduk sini!" Tangannya sambil menepuk-nepuk kasur.
"Gak ada apa-apa sih! Cuma ... cuma," Suara tercekat tak bisa ngomong.
"Cuma apa? Bicara saja, ngak usah sungkan-sungkan begitu!" suruhnya.
"Itu ... itu, hmm. Itu, Ana! Boleh tidak jika Mas tidur bersama kamu disini?" Nada lirihku berbicara akibat ada keragian dan talut.
"Mas yakin mau tidur disini? Aku kalau tidur orangnya ngak bisa diam, menendang sana-sini lho!" .
"Ngak masalah juga. Eghem ... hmm, emangnya beneran, jika aku bisa tidur disini? Dari gelagat kamu kelihatan tidak masalah. Hehehe" tanyaku dengan antusias.
"Boleh ... boleh aja sih. Asal Mas Adit tidak keberatan juga sebab kita tidak pernah dekat apalagi sampai seranjang bersama," ujarnya menyetujui.
"Benar juga, sih. Tapi.beneran 'kan apa yang kamu katakan, Ana?" tanyaku masih tidak percaya.
"Beneran mas. Boleh banget, kok!" Santainya dia berkata.
"Yes ... yess. Satu langkah maju telah berhasil!" kegiranganku berbicara dalam hati.
Ana yang baru saja mengaca ditempat rias, kini mulai mendekati posisiku yang sudah bergulung selimut sebatas dada.
Kami tidur dengan kaku tak ada pegerakan dari tubuh masing-masing, dimana wajah kami terus saja sama-sama menatap ke arah langit-langit.
"Ana, kamu belum tidur 'kan?" tanyaku saat suasana terasa ambigu.
"Belum Mas, kenapa? tanyanya yang mungkin juga sedang merasa aneh.
"Kok rasanya begini, ya!" ucapku memecah keanehan padanya.
__ADS_1
"Rasanya aneh banget dalam sekasur berdua," imbuhku terasa canggung.
"Mungkin ini baru pertama kali kita melakukan ini, jadi rasanya aneh saja!" jawabnya.
"Hahahhah, benar ... benar itu," ucapku dengan badan sudah berubah posisi menjadi miring menatapnya.
Cuuup, sebuah ciuman kilat kudaratkan di keningnya.
"Terima kasih, Ana. Kamu masih mempercayai dan mau menerimaku menjadi imam kamu," ujarku dalam kesyahduan.
"Iya Mas, aku juga terima kasih. Mas Adit telah membuka pintu hatimu dan mau menerimaku juga," ucapnya langsung memeluk.
Hati sudah dag dig dug tak karuan akibat pelukannya, dan disaat dia dalam keadaan diam, dengan hasrat yang mulai mengebu-gebu, tanpa ragu lagi kumulai aksiku untuk mencium bibirnya. Awalnya Ana begitu terkejut atas perlakuanku, tapi lama kelamaan dia mulai mengikuti aksiku dengan matanya yang mulai terpejam.
Sapuan nafas yang hangat mulai membelai wajahku, sehingga jantung semakin bergetar dan berdegup kencang dalam dada. Perasaan hati yang sedikit terguncang tapi terasa nyaman, akibat ciuman mesra yang kulakukan sekarang, membuat Ana kini sedikit kewalahan atas tindakanku. Rasa hati yang baru pertama kali merajai raga, membuat detak jantung semakin melayang-layang dan tak terkontrol lagi. Rasa malupun kini sudah bercampur menjadi satu bersama n*fsu, yang membuat hatiku jantungan kian berdebar tak karuan.
Dezzzzt. Kring ... dert ... kring, suara gawaiku berbunyi.
"Hhhhh. Mas, handphone kamu berbunyi!" suara Ana menarik nafas dalam-dalam akibat aksiku yang brutal.
Dzzttt kring ... dezzrrttt. Untuk kesekian kali gawai terus saja berbunyi.
"Mas Adit, sayang! Angkatlah dulu, siapa tahu penting," ujar Ana menyuruh.
"Heeh, iya ... iya, Anaku sayang," jawabku dengan hati dongkol.
Wanitaku itu hanya tersenyum geli, saat tahu aku begitu tidak suka atas gawai yang berbunyi sehingga aktifitas kami terhenti dengan keterpaksaan.
"Sebentar, aku angkat dulu handphone. Kamu harus tetap disini, jangan ke mana-mana, oke!" suruhku.
"Siap, Bos!" Tangan Ana hormat, tanda setuju atas perintahku.
Tiiit, layar gawai sudah kusentuh untuk mengangkat telephone dari Rudi.
[Hallo, ada apa'an, sih! Malam-malam ganggu orang saja]
[Hehehehe, masak sih bos. Wah..wah, mentang-mentang istri sudah kembali, makin seru sajja tak terpisahkan. Kalau bisa buatkan keponakan yang lucu-lucu secepatnya dong!]]
__ADS_1
[Buat sendiri saja sono. Makanya kalau mau anak kecil cepatan nikah, jangan terus-menerus menjadi bujang lapuk. Cepetan ada apa malam-malam menelpon?]
[Jangan marah-marah, kenapa! Gantengnya hilang lho]
[Enggak peduli]
[Astaga, beneran lagi mood tidak baik
[Emang. Cepatan ada apa? Dan ingin bicara apaan? Sampai ganggu orang lagi tidur saa]
[Aku cuma mau bilang perusahaan yang menjadi saingan kita, sudah berani menjual saham lebih murah dengan kita, selain itu mereka semakin gencar saja dengan produk baru. Ooh ya, ada satu lagi produk yang baru mereka luncurkan sama persis dengan punya kita, sepertinya hasil dari jiplakkan, tapi itu masih kemungkinan. Belum ada informasi lebih lanjut, sebab aku masih baru menyuruh orang untuk menyelidikinya]
[Wah, mereka benar-benar ingin bersaing dengan kita. Tunggu aja pembalasan kita dan pasti akan kuhancukan bisnis mereka. Kamu harus mencari celah agar mereka kalah dari kita, dan masalah produk perusahaan kita gencarkan saja terobosan pakaian baru, yang diminati oleh pasaran pakaian sekarang]
[Siap, Bos. Apapun yang terjadi, aku akan selalu siap untuk membantu dan terus mendukungmu]
[Terima kasih, Rudi. Kamu dari dulu adalah teman yang bisa diandalkan. Kalau begitu sudah dulu, aku benar-benar ngatuk sekali nih! Rasanya mau tidur, huaaah ... huaaah]
Ngelesnya diriku berucap, sambil pura-pura menguap.
[Wah ... wah, bos benar-benar tidak sabar lagi ingin membuat dedek, nih!]
[Iiich, kalau kamu disini saja, sudah kujitak kepalamu]
[Hahahahah. Iya ... iya, lanjutkanlah malam-malam kamu yang penuh keindahan bersamanya, Selamat malam]
[Hemm, selamat malam juga]
Ternyata infomasi Rudi penting juga, tapi kenapa harus menganggu kebersamaan kami. Gawai sudah kumasukkan dikantong piyama, dan sekarang ingin kembali ke kamar Ana.
Ceklek, pintu kubuka.
"Ana ... Ana, aku sudah selesai menelpon Rudi nih! Maaf ya, kamu jadinya harus menunggu lama," ucapku yang sedang berjalan mendekati tempat pembaringan.
"Haaaah!" Terkejutnya diriku.
Betapa kecewa hati saat ini, Ana ternyata sudah terlelap memejamkan mata, patut saja tidak ada simbatan dari ucapanku barusan.
Wajahnya yang cantik dan imut, hanya bisa kupandangi dengan seksama, dan akhirnya tentang rasaku yang ingin sekali berbuat lebih padanya, harus menahan pahitnya kekecewaan terhadap diri sendiri. Kini tubuhnya yang terlelap tidur, sudah kupeluk erat-erat dalam dekapan, yang mana aku tidak ingin terlepas dan jauh-jauh tidur darinya.
__ADS_1