Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Saingan Yang Datang


__ADS_3

Cobaan menguji kesabaran, siapa yang dapat melewati adalah manusia yang benar-benar disayang dan terpilih oleh sang pencipta. Apa yang terjadi sekarang adalah ujian terberat ketika suami telah hilang ingatan.


"Kamu yang sabar ya, Ana!" Perkataan Mama mertua, ketika kami sudah selesai menemui dokter.


"Iya Ma. Ini mungkin sudah jalan takdir Ana menjadi begini," Kesabaranku berucap.


"Ada Mama disini, jangan khawatir. Kita akan berusaha seluat tenaga, agar semua kembali seperti sedia kala, yaitu Adit tetap mencintaimu dan kalian bisa bersama terus," Tangan beliau sudah mengelus lengan.


"Iya. Terima kasih. Dari dulu sampai sekarang Ana selalu merepotkan dan menyusahkan Mama."



"Mama tidak disusahkan, kok. Mama tulus membantu kamu, sebab sudah kuanggap sebagai anak sendiri. Terlebih lagi bisa merubah sikap Adit yang dulu suka membangkang, dan kini menjadi penurut serta selalu mendengarkan nasehat kami."


"Iya, Ma."


Sambil berjalan bercakap-cakap, akhirnya kami berdua sudah memasuki ruangan kamar mas Adit dirawat, dan betapa terkejutnya diri ini, saat disitu sudah berdiri seorang perempuan yang dulu pernah menjadi sainganku, dan yang pernah menjadi duri dalam rumah tanggaku yaitu bernama Salwa.


"Salwa?" Keterkejutan mama.


"Untuk apa kamu disini? Kenapa bisa tahu kalau Adit dirawat? Apa tidak malu kamu menampakkan muka didepan kami lagi?" berondong Mama tidak suka.


"Tante tenang dulu dong! Aku ke sini hanya menjenguk Adit, sebab ada rasa khawatir terhadapnya," cetusnya berucap, yang menurutku seperti drama.

__ADS_1



"Kamu keluar sekarang! Aku tidak sudi lagi melihat wajahmu," perintah Mama sambil menarik lengan tangan Salwa.


"Hentikan, Ma!" bentak mas Adit.


Seketika mama berhenti menarik Salwa, diiringi memasang wajah binggung atas ucapan anaknya.


"Mama ini apa-apa'an sih, main tarik tangan Salwa."



"Adit, apa maksud kamu?" jawab mertua.


"Lepaskan tangannya, Salwa ke sini sebab aku yang memanggilnya," penjelasan Mas Adit.


"Iya tante. Salwa kesini akibat Adit yang menelponku, jadi tante jangan nyelonong main usir-usir begini dong!" sela Salwa menerangkan, sambil membanting cekalan tangan mama mertua.


"Kamu jangan gila Adit, disini ada Ana istri kamu!" pembelaan ucapan Mama padaku.


"Apa? Istri?" tuturnya dengan memasang wajah kecut.


"Iya, Ana adalah istri kamu."

__ADS_1


"Aku tidak percaya dia adalah istriku. Selain itu aku tidak pernah melihat wajahnya apalagi mengenal dia," imbuh ucap Mas Adit, yang sudah membuatku bersedih ingin menitikkan airmata.


"Kamu jangan bercanda Adit, dia adalah wanita yang sudah sah kamu nikahi!" tekan Mama yang masih berusaha membelaku.


"Aah, pokoknya aku tidak percaya bahwa dia adalah istriku. Kalaupun dia memang sudah menikah denganku, pasti aku akan ingat akan kenangan-kenangan tentang kami. Jadi Mama tidak usah ngotot begitu membela dia, sebab yang ada dihatiku sekarang adalah Salwa seorang," kilahnya berucap yang membuatku tak bisa menahan lagi kesedihan.


"Sudah ... sudah, kalian tidak usah berdebat lagi. Ayo Ma, kita keluar! Percuma kita berbicara dengan Mas Adit sekarang," ujarku berusaha memecah ketegangan diantara mereka diiringi kesabaran.


"Iya, kalian keluar secepatnya sana! Bikin mata sepet saja melihat wajah kamu itu. Dasar perempuan yang tak tahu diri, bisanya cuma merebut pacar orang saja," celetuknya yang berusaha mengejekku.


"Kamu?" protes mama.


Kaki mertua kini sudah mulai melangkah maju ke arah Salwa, mungkin mencoba ingin memberi pelajaran padanya.



"Sudah, ma! Lebih baik kita segera keluar," cegahku.


"Iya kamu, dasar perempuan tak tahu diri, pergi sana! Jangan ganggu hubungan kami lagi," pembelaan Mas Adit berkata.


Deg, hati sudah begitu perih dan nyesek saat mendengar ucapan mas Adit barusan, tapi semua kenyataan ini harus dihadapi dengan kesabaran. Sungguh aku tadi ingin membalas semuanya, untuk berucap kasar pada Salwa, namun lagi-lagi suaraku seakan tercekat tak bersuara, akibat kalah sama mas Adit yang terus saja membelanya, dan aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diri, untuk mengiklaskan semuanya yang sempat dia lontarkan.


"Sabar ... sabar. Kamu harus kuat melihat mereka telah bersama lagi. Jangan sampai lengah kamu. Segera halangi mereka, agar kamu tidak kehilangan Adit untuk kedua kalinya," Pergumulan hati yang berbicara pda diri sendiri.

__ADS_1


Sudah kucoba serendahnya menenangkan diri agar tak terbawa emosi, tapi rasanya hati begitu sakit sekali bagai terhujam pisau, yaitu saat orang yang kucinta telah membela orang lain bukan istrinya sendiri. Aku memang sengaja membiarkan mas Adit dan Salwa berbicara sampai mulutnya puas, sebab tidak ada gunanya juga marah dengannya, dikarenakan hilang ingatannya tak akan merubah sikap mas Adit untuk membelaku.


Nyesek dan kesal pastinya. Untung ada Mama yang bisa menenangkanku saat ini. Ingin rasanya kuremas muka Salwa tadi, namun buat apa melakukan itu jika dia yang kucintai kini disampingnya dengan segala pembelaan.


__ADS_2