
Mas Adit adalah suami yang sudah kutinggalkan, karena dia dulu lebih memilih mencintai wanita lain, yaitu kekasihnya waktu SMA. Sikapnya yang tidak pernah menganggapku ada sebagai istri, membuat diriku terlalu sakit hati dengan sesegera mungkin meninggalkannya.
Kami menikah karena orangtua menjodohkan, sehingga pernikahan yang tanpa dasar cintapun terjadi. Satu tahun aku bertahan, dan menutupi rumah tanggaku yang tidak ada cinta dan keharmonisan lagi, sehingga membuatku tidak kuat lagi, dan akhirnya melarikan diri bersama ayah kandung, yang mana beliau telah memberi dukungan penuh atas keputusan yang kubuat.
Setelah kejadian kemarin yang memecahkan guci, kini belum ada tanda-tanda diriku akan dipecat, sehingga hari ini masih tetap masuk kerja seperti biasa. Kata bu Nur, dia belum ada kesempatan ngomong pada bos besar, karena semua karyawan termasuk bos besar sedang sibuk terhadap terobosan pakaian merk baru.
Sekarang bu Nur menyuruhku membersihkan ruangan bos besar dan kamar mandinya.
Ceklek, pintu telah berhasil kubuka.
Diriku sekarang sudah berada dalam ruangan bos besar, yang berada di lantai paling atas yaitu empat puluh.
"Waaah!" Aku terheran-heran dan berdecak kagum ketika melihat begitu menakjubkannya ruangan kantor ini, yang mana sofa dan lampu-lampu serta lukisan semuanya serba mewah.
Begitu mewahnya ruangan milik bos besar, mataku tak henti-hentinya melongo manatap takjub. Troli kutinggalkan dengan melangkah datar ke arah meja kerja.
Kini tangan mencoba mengelus-elus kursi dan meja mewah, yang telah berjejer rapi dimana diatasnya ada berkas-berkas tidak jelas dan kumengerti. Usil melihat dan membukanya satu-persatu berkas, namun masih saja tidak kumengerti maksud tulisan-tulisan ada didalamnya.
Mata kini tertuju melihat disebuah sudut meja, memperlihatkan foto mas Adit berserta mertua, yang tentunya disamping ada sebuah foto pernikahan yang sudah enam tahun berlalu, yaitu sebuah foto diriku dengan orang yang sudah berani menghianati dengan kejam.
"Aah, seandainya saja kamu tidak menghianatiku, pasti sekarang kita akan bahagia bersama," keluh kesah mengusap bingkai foto yang masih terbungkus rapi.
Diri ini masih saja berharap semua waktu bisa berputar kembali, untuk memperbaiki pernikahan yang sudah hancur.
Setelah beberapa menit mengenang kenangan pahit enam tahun yang lalu, sekarang melakukan tugas untuk membersihkan ruangan kantor mewah, yang secepatnya melangkah pergi mengambil peralatan kebersihan.
Hampir setegah jam lebih membersihkan disekitar ruangan kerja, kini tugasku beralih membersihkan toilet bos besar.
"Waaah ... woow!" diriku kembali tertegun melihat keadaan dalam toilet.
Kamar mandinya saja begitu besar sekali, melebihi kamar kosku yang selama ini ditempati.
"Begitu besarnya toilet ini!" gumanku dalam hati dengan mata terus melihat sana-sini. Takjub dengan peralatan kamar mandi yang mewah.
"Benar-benar sukses suamiku sekarang."
Semua peralatan telah keluar. Perlahan-lahan namun pasti, mulai melakukan pekerjaan yang sebagian wanita cantik tidak akan mau.
Kugosok-gosok setiap sudut kamar mandi, dan yang terakhir sebuah kran air untuk mencoba mengelapnya. Entah apa yang terjadi dengan kran, tiba-tiba saja sudah terlepas dari tempatnya saat mengelap, sehingga kini mengucurkan air dengan derasnya.
"Aaakgh, astagfirullah!" Baju sudah tersemprot air begitu deras, sehingga membuat semuanya menjadi basah kuyup.
"Aaakgh ... ahhhh, pffffh" Kini kedua tangan berusaha menutupnya agar berhenti mengeluarkan air, yang tak terbendung lagi derasnya.
__ADS_1
"Mmpphh," Mukaku tak luput juga kena semprot air.
"Tolong ... tolong! Aaakh," teriakku.
"Bagaimana aku menghentikan air ini?" gumanku yang sudah kalut.
Air sudah deras menyemprot ke segala arah, dan aku sudah berusaha menghentikannya, tapi sepertinya sia-sia saja walau tangan sudah menahan tepat dibagian lubangnya. Kamar mandi sudah mulai dipenuhi genangan air, yang tadinya sudah bersih kini menjadi berantakan karena terciprat air kran yang rusak.
"Tolong ... tolong. Ya Allah, kemana ini semua orang? Apa tidak ada yang mau membantuku," ucapku sekali lagi sudah begitu panik.
"Ana?" panggil Mas Adit.
"Kamu kenapa?" suara Mas Adit terkejut, tengah berdiri tepat dipintu yang terbuka.
Dia begitu kaget melihatku, yang sudah dalam keadaan kacau dengan baju basah.
"Tolong, Mas!" Permintaanku berucap, agar dia segera mau menolongku.
Tapi mas Adit berbalik pergi meninggalkanku yang sudah kerepotan menahan air, dimana semakin lama semakin deras menyemburkan airnya.
"Ahh ... Mas Adit ini, bukannya segera menolong tapi main pergi saja," gerutuku marah tak suka.
Muka sudah cemberut, tanda ketidak senangnya diriku atas kelakuan Mas Adit, yang sudah meninggalkan begitu saja, tidak mau memikirkan kesusahanku yang sedang manahan air.
"Ana, kamu gak pa-pa, 'kan?" petanyaannya yang sudah kembali membawa beberapa potong kain.
"Iya ... iya. Sekarang lepaskan saja tanganmu itu! Biar aku menyumpalnya dengan kain ini," suruhnya.
Setelah beberapa menit berusaha, akhirnya kran itu dapat berhenti dengan sebuah sumpalan kain, yang ditaruh oleh Mas Adit supaya bisa cepat terhentinya air keluar.
"Fiuuuhhh, alhamdulillah!" Rasa syukurku dan sekarang lega.
Kini baju mas Adit juga ikut-ikutan basah, sebab habis membantu membenahi dan menahan air.
"Kamu gak pa-pa, Ana?" tanya Mas Adit, yang sudah melihatku gemetaran akibat efek baju basah.
"Aku baik!" Bibir sudah bergetar menahan dingin.
"Kamu tidak baik. Tunggu disini, sebentar."
Terlihat mas Adit langsung pergi berlari keluar, dan secepat kilat kembali lagi membawa handuk putih panjang. Dengan cepat mas Adit melilitkan handuk ke tubuhku, yang semakin mengigil tak karuan dinginnya.
"Ayo! Supaya kamu tidak lebih mengigil begini."
"Hmm, terima kasih."
Kini kedua tangannya ditaruh dipundakku, untuk memapah agar segera keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Sheeeet!.
Tiba-tiba badanku oleng mau jatuh terpeleset, akibat terlalu licinnya lantai dikarenakan kran air yang rusak tadi. Dengan cepat dan sigap Mas Adit mencoba menangkap, dengan kedua tangannya dilingkarkan dipinggangku, untuk menahan agar tidak jatuh langsung ke lantai. Tapi sayangnya karena berat badanku dan lantai yang telah licin, Mas Adit tidak bisa kuat dan seimbang menahan tubuh kami, sehingga tak terelakkan kami berdua jatuh dilantai secara bersamaan.
Bhuuugh, suara tubuh kami sudah jatuh dilantai, dan tangan mas Adit secepat kilat menaruhnya dibelakang kepalaku, mencoba menahan kepala agar tidak terbentur dilantai.
Lebih parah dan tak terelakkan lagi, tubuh mas Adit sekarang berada diatasku.
Kami hanya bisa diam sesaat saling berpandangan, dan sama-sama memperhatikan inci demi inci wajah yang terekspresi sama-sama saling merindukan.
Tak berselang lama, dirikupun sadar siapa yang kupandangi sekarang.
"Akgh ... ahhh, minggir, Mas!" desahku kesal pada Mas Adit.
"Kenapa?" Dia malah bertanya.
Posisi kami sekarang sungguh tidak nyaman, dan akupun berusaha berkali-kali bergerak, mencoba melepaskan posisi yang menegangkan ini, tapi kenyataannya Mas Adit tidak mau mendengarkan ucapanku.
"Minggir dulu."
"Tidak bisa."
"Jangan begini, Mas."
"Hei ... Ana!" ucapnya dengan lembut.
Wajah sudah berpaling ke kanan, tidak ingin terlalu larut melihat wajahnya.
"Aku sangat merindukanmu!" ujarnya.
Kini tangannya sudah mencengkram pipiku memakai tangan lebarnya, supaya diriku bisa tenang dan tetap menatap wajahnya.
Dag ... dig ... dug, suara jantung ini berdetak dengan cepat, karena wajah mas Adit sudah menatapku secara lekat-lekat, tapi dengan sigap aku menoleh lagi ke kanan.
Tidak ingin dia menatapku secara terus menerus. Rasa benci yang sudah tertanam takut jika tiba-tiba akan hilang, dan semua akan berganti dengan benih-benih cinta lagi.
Sebisa mungkin aku meronta untuk segera lepas dari Mas Adit, tapi diriku tetap kalah telak dengan kekuatannya. Saat tangannya yang sempat mencengkram pipiku tadi, kini sudah beralih untuk mengunci menahan tanganku.
"Lepaskan aku mas!" bentakku dengan nada marah.
"Tidak akan, karena aku menginginkanmu."
Hati kian berdebar kencang yang tak karuan lagi detakkannya. Posisiku masih sama dibawah yaitu ditindih tubuh mas Adit.
Tiba-tiba tanpa aba-aba.
Cuuuuup, bibir mas Adit didaratkan dibibirku yang tak siap ini. Mata seketika mulai mendelik tak suka, dan membuat wajah sudah bersemu kemerahan. Sekujur tubuh yang tadinya kedinginan, sekarang hawa rasanya begitu panas. Tanganku yang tadinya sekuat tenaga ingin lepas sekarang menjadi melemah.
__ADS_1
Sebuah ciuman masih terus saja melekat dibibirku, yang tanpa henti mas Adit mencoba mengairahkan ciumannya dibibir ini, tapi aku tak begitu merespon atas aksinya.
Terasa sekali ciuman ini, seperti ciuman seorang kekasih yang selama ini terindukan. Terlihat dari pelupuk mata mas Adit mulai mengeluarkan bening-bening air, yang mulai mengalir perlahan dipipi halusnya.