Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>Sama-sama Memaafkan


__ADS_3

Karena kecape'an menangis, tanpa sadar akupun telah tertidur pulas dalam kamar sendirian, tanpa ada suami yang menemani disisi. Langsung saja tubuh bangkit dari tergoleknya kasur, dan mencoba melekatkan telinga dipintu, untuk mendengarkan mas Adit apakah sudah tidur apa belum?.


"Aah ... sepi sekali, pasti Mas Adit sudah tertidur," guman hati berbicara.


Ceklek, pintu kamar telah kubuka.


Kaki sudah berjingkat-jingkat berjalan perlahan-lahan, mencoba mencari tahu keberadaan suami dimana. Syok, melihatnya tengah meringkuk disofa tanpa ada ketebalan selimut yang menyertai.


"Ya Allah, apakah aku telah berdosa, membiarkan suami tidur di sofa begini?" ujarku yang menangis menyesal, tapi dalam hati masih ada api kemarahan.


"Maafkan aku, Mas! Diriku melakukan ini semua, sebab tak ingin kamu jatuh dipelukan si janda bahenol itu. Diri ini tak mau terulang lagi kisah-kisah pahit kita, dalam membina rumah tangga seperti kemarin. Aku tahu bahwa itu semua adalah kesalahanku, tapi bukankah kau juga tahu? Bahwa cinta ini telah membuatku gila, tak mau hatimu pindah pada orang lain, dan bagiku kau sangatlah berarti dalam hidupku. Maka dari itu, semua ulah tadi sungguh sangat tak terkontrol lagi, sehingga menciptakan mencelakai orang. Maafkan aku, Mas!" Lelahan airmata terus saja mengalir, sambil duduk menatap tajam wajahnya yang tampan.



Tangan terus saja sibuk mengelus pipinya, yang masih memejamkan mata. Perlahan namun pasti, tangan terus saja mengelus kulit putih itu. Suami yang kelelahanpun sudah tak sadar bahwa diri ini menungguinya.


Tangan sudah kutaruh ditangannya, untuk menggengam erat telapak tangan suami yang lebar. Dan kepala berusaha kusandarkan di sofa, yang masih tersisa sedikit akibat tempatnya dipenuhi badan mas Adit.


Matapun sayu-sayu terpejam, dan tanpa sadar lagi akupun kini sudah tetidur.


Hawa dingin yang menusuk tulang, kini membuat mata yang sayu-sayu terpaksa ingin membuka, dan betapa kagetnya diri ini, saat badan sudah terasa berada diatas tempat yang empuk-empuk yaitu kasur. Perut juga merasakan sesuatu yang berat telah melingkar memeluk erat, dan aroma khas parfum suami sudah tercium hidung. Sebab penasaran, akhirnya badan langsung kubalikkan, dan benar saja Mas Adit ternyata sudah tidur bersama dalam satu kamar.

__ADS_1


Entah sejak kapan dia mengangkat tubuhku, untuk berpindah dalam kamar, yang jelas hati sudah berbunga-bunga bahagia, yaitu bagaikan bunga yang sudah layu terasa segar kembali, akibat siraman air telah membasahi kelopaknya. Begitulah dengan hati ini terasa bangkit bahagia lagi, saat suami ternyata tak marah lagi padaku, justru dia mau merangkul lagi, ketika amarah dan emosi sempat merajai jiwa.


"Kenapa? Kamu kok manatap wajah Mas terus? Apakah terlalu tampan dan cool, wajahku ini? Sehingga dari tadi kamu menatapnya?" ucapnya yang tiba-tiba telah terbangun dari tidur.


"Enggak. Siapa bilang aku menatap wajah Mas terus. Mata baru saja terbuka, dan tanpa sengaja aku melihat wajah mas yang sedang berada didepan muka ini," Ngelesnya ucapanku.


"Masak sih? Bukanya lama ya kamu menatap? Contohnya saja di sofa ruang tengah tadi?" ujarnya yang ternyata mengetahui.


"Enggak! Siapa bilang, ge'er amat jadi orang," Nada suaraku nyolot.


Tuduhan memang benar, tapi malu untuk mengakui jika sedang terpesona oleh wajahnya.



"Kamu dari tadi ngak tidur 'kah, Mas?"


"Tidur kok."


"Masak sih. Ngak percaya. Atau sedang pura-pura, sebab kok kamu tahu, kalau aku menatap wajah mas di sofa tadi?" tanyaku penasaran.


"Nah, kamu sendiri 'kan yang ngaku, kalau menatap wajah Mas. Aku tidur sih! Tapi rabaan tanganmu telah membangunkanku, dan akupun tak mau membuat kamu malu, jadi ya lanjut pura-pura tidur. Aku senang sekali kamu tak marah, dan sudah mengenggam erat tanganku, berarti dalam lubuk hatimu ada rasa penyesalan, atas sikapmu yang membantah omonganku," jelasnya yang membuatku sedih.

__ADS_1


"Iya Mas, maafkan aku."


Penuh airmata dalam penyesalan.


"Kamu jangan menangis lagi, sayang! Mas juga sadar atas kesalahan yang kuperbuat tadi, dan kemungkinan terlalu keras dan kasar atas pertengkaran kita. Maafkan Mas juga, sebab emosi jiwa telah mengalahkan kesabaranku," ucapnya yang menghapus airmata dipipi.


"Iya, Mas."


"Aku tahu kamu melakukan itu semua, sebab tak ingin jauh-jauh berada disisiku. Rasa trauma kamu yang dilakukan Salwa kemarin, sudah membutakan hatimu untuk mencelakai orang. Jadi pintaku sekarang, jangan lakukan itu lagi, sebab bisa membahayakan orang lain dan diri kamu sendiri. Mas tidak ingin kamu kena masalah dan celaka seperti kemarin-kemarin. Saat kamu melakukan itu, diriku begitu sedih, marah, dan terutama takut atas semuanya, sebab aku begitu tak mau kehilangan kamu lagi, cuuup!" Ungkapan hatinya yang membuat hati tersentuh, yang tak lupa sudah mengecup kening juga.


Kutumpahkan air mata didada bidangnya. Memeluk erat tubuh kekar, dan suami menyambut baik hingga berbalik memeluk erat.


"Sudah ... sudah, jangan menagis lagi! Sayang sekali jika airmata itu tumpah terus," bujuknya.


Plaaak, kupukul lengannya dengan kemanjaan secara pelan.


"Jangan bersedih lagi! 'Kan enak kalau kita bicara dari hati ke hati, semua masalah bisa terselesaikan dengan mudah," tuturnya.


"Iya, Mas."


Kamipun akhirnya tidur dengan perasaan sudah lega dari masing-masinng, tak ada kemarahan lagi yang menganjal dihati kami, dan malahan yang ada hanyalah rasa kebahagiaan saja.

__ADS_1


__ADS_2