Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>> Pembuktiaan Dalam Penghinaan


__ADS_3

Aku tidak menyerah begitu saja untuk merawat mas Adit. Walau dalam dirinya sudah ada rasa kebencian terhadapku, aku masih semangat berusaha untuk mengembalikan ingatannya yang telah hilang. Cinta memang butuh pengorbanan, yaitu untuk memperjuangkan yang telah menjadi hak kita.


Biarlah untuk saat ini kupendam segala rasa sakit, dan harus tetap segera bangkit, walau kenyataan pahit sedang melanda rumah tangga kami.



Kutatap lekat wajah suamiku yang sedang tertidur lelap. Sungguh aku sangat merindukan sifat manjanya yang kemarin-kemarin, sehingga tetesan embunpun tak terelakkan untuk menyeruak keluar lagi.


Tangan kini berusaha merapikan selimut yang sudah tersingkap, dan mengembalikannya disebatas perut mas Adit, supaya dia yang terlelap merasakan kehangatan.


"Kamu!" suara Mas Adit tiba-tiba membuka mata.


"Eeh, maaf, Mas. Sudah menganggu."


"Ngapain kamu disini?" tanyanya tak suka.


"Maafkan aku, Mas! Sudah membangunkanmu dengan membenahi selimut barusan," Tak enak hati.


"Maaf ... maaf, enak saja. Siapa sih kamu? Selalu saja tiap-tiap hari datang ke sini, sepet sekali rasanya melihat muka kamu itu," ketusnya dia berucap.


"Maaf!" Kepala tertunduk, sedih mendapatkan omelannya.


"Kamu itu tidak usah berpura-pura menjadi istriku. Ngak mungkin 'lah seorang CEO seperti diriku menikahi wanita seperti kamu. Sudah kuper, banyak cin cong juga" Dinginnya dia berkata lagi.

__ADS_1



"Astagfirullah, Mas. Aku ini beneran istri kamu, dan sekarang dalam perutku sudah ada benih bayi kamu!" ujarku menerangkan.


"Apa? Aaaah, kamu jangan mengada-ada. Aku tidak percaya dengan semua omonganmu itu, dari dulu-dulu cintaku hanya pada Salwa seorang. Jadi tidak mungkin sampai aku bisa menghamili kamu. Dekat saja tidak. Pasti itu anak orang lain," ungkapan katanya.


"Astagfirullah. Aku tidak pernah mengada-ngada, semua yang kukatakan adalah benar," ucapku berusaha membela diri.


"Aaah bulsit, dah! Kamu itu selain perempuan tak tahu diri, ternyata juga seorang pembohong. Jangan-jangan pengakuan palsumu hanyalah ingin harta dan menjadi wanita dikenal saja," ejeknya tidak percaya.


"Beneran, Mas. Aku bukan wanita seperti itu dan tidak pernah membohongimu. Kita benar-benar sudah menjadi suami istri, dan dari semua itu aku ada buktinya," Perkataan kesal untuk segera menunjukkan buku nikah.


"Mana ... mana?" Tagihnya tak sabar.


"Wah ... wah. Kamu pasti beneran seorang pembohong. Surat ini sudah 7 tahun yang lalu, dan kamu baru saja hamil? Sungguh benar-benar kelewatan kamu bohongnya. Tidak bisa dipercaya. Dasar wanita penjilat," kilahnya masih tidak percaya.


"Ya ampun, Mas. Kenapa kamu masih tidak percaya. Kamu bisa tanya papa dan mama!" Tangan mengusap embun bening yang tengah jatuh menetes.



"Halah, pembohong. Banyak wanita model kayak kamu. Demi uang mereka rela berbohong dengan segudang trik. Mungkin anak yang kamu kandung adalah benih dari orang lain. Dasar perempuan tak tahu diri, main ngaku-ngaku saja itu adalah anakku. Sepantasnya kamu itu disebut sebagai wanita p*lac*r saja!" ujarnya menuduh dengan kejam, sambil menjelek-jelekkan kelakuanku.


"Astagfirullah, Mas. Kamu benar-benar sudah tega sekali menuduhku seperti itu," jawabku yang sudah beruraian airmata.

__ADS_1


"Jangan sok drama lagi. Airmatamu tidak akan meruntuhkan tuduhanku."


"Tak apa kamu menuduhku seperti itu. Walau kamu tak mengakui aku sebagai istri, tapi asal kamu tahu saja, bahwa aku ini bukanlah perempuan murahan seperti yang kamu tuduhkan barusan," ucapku sudah tersulut emosi.


"Hmm. Banyak membual."


"Dan ingat satu hal lagi, kita menikah memang bukan atas dasar cinta tapi karena perjodohan. Jadi walau awal-awal tidak ada cinta diantara kita, tapi aku masih punya harga diri, yang tak menyerahkan tubuhku begitu saja kepada orang, kecuali sudah ada cinta yang bersemayam dihati," imbuh tangisanku berucap.


"Maaf aku permisi dulu. Aku kesini hanya ingin melihat keadaanmu dan membawakan makanan kesukaanmu. Sekarang terserah kamu, mau memakannya atau membuangnya ke tempat sampah, yang terpenting aku sudah menjalankan bakti dan tugasku sebagai istri," ketusku berbicara, sebelum benar-benar melenggang pergi.


"Heeeh, perempuan pembohong! Aku tidak akan pernah membiarkanmu masuk begitu saja ke dalam keluargaku. Cam kan itu!" teriak-teriak Mas Adit saat aku sudah berusaha melangkah pergi.


Ocehannya tidak kugubris. Rasa sakit hati atas semua pernghinaan membuat menghirup udara saja susah sekali. Dada terus kupukul-pukul agar secepatnya bisa bernafas dengan lancar. Dibalik pintu rawat inap bersimpuh menumpah kesedihan. Ketika ada yang berlalu lalang lewat mereka hanya bisa menatap aneh ke arahku.


Sepulang dari rumah sakit, tubuh tak tahan lagi untuk tidak merosot ke lantai dalam rumah. Sekarang rasanya hidup kembali seperti semula lagi yaitu dahulu, dengan membawa rasa sakit akibat ucapan kasarnya barusan. Sungguh ucapannya tadi membawa luka hati yang kian menganga terbuka lagi. Kini dia benar-benar berbeda dari dulu.


Selama mengenalnya, mas Adit sebelumnya tidak pernah berkata kasar seperti itu. Tapi sekarang kata-katanya sudah menusuk jantungku dengan keterlaluan.


Tadi agar tak terjadi pertengkaran yang semakin memperburuk keadaan, setenang dan sebisa mungkin aku lebih banyak diam, dengan mengubur rasa sakit itu dalam-dalam, dan cukuplah semua itu menjadi kenangan pahit bagiku.


Berdebat dengan mas Adit sekarang sungguh sebuah kesia-siaan, rasanya aku sudah tak punya tenaga lebih untuk menjawabnya, sebab jika diteruskan perdebatan itu tidak akan pernah berakhir, dan akan semakin kian menjadi-jadi, sehingga perpecahan antara cinta kamipun terjadi.


Pelannya airmataku kini sudah kembali terurai, dengan tangan terus saja meraup wajah secara kasar, maksud hati untuk menghilangkan bayangan-bayangan ucapannya tadi.

__ADS_1


Rasanya aku sangat menginginkan untuk berteriak sekeras-kerasnya, supaya meluapkan emosi yang terus saja menggelegak dalam hati, tapi apalah dayaku sekarang ini, mungkin semuanya sudah menjadi jalan takdirku, yang harus dilewati untuk menguji kesabaran dan keihklasan.


__ADS_2