
Akupun yang tidak merasakan penyiksaanpun, sudah merasa bagai ngilu sampai ke tulang, saat luka kak Nola begitu menganga banyak sekali, akibat mahakarya cambukan yang dilakukan suaminya.
"Ana, ada apa?" tanya Mas Adit dan sekertaris Rudi, yang sudah datang menghampiriku.
"Itu, kak Nola, Mas!" jawabku binggung dengan rasa cemas begitu mengebu.
Tangan kuremas-remas. Ada kekhawatiran getaran tangan yang tidak bisa diremehkan.
"Iya ada apa? Kok kamu kelihatan panik begitu?" tanya Mas Adit binggung pulak.
"Kamu masuk saja ke ruang ganti pakaian, dan lihatlah sendiri! Aku tidak tega bila menjelaskannya," terangku menyuruh mereka berdua.
Dengan melangkah tergesa-gesa, Mas Adit dan sekertaris Rudi sudah berjalan ke ruangan yang kumaksud.
Ceklek, pintu telah dibuka segera.
"Kak Nola? Kamu?"
Wajah kak Nola sudah tertutupkan masker, mungkin sudah malu dengan keadaannya.
"Tunjukkan saja, Kak!" suruhku.
Tapi kepala kak Nola digeleng-gelengkan ke kiri dan kanan, tanda tak setuju atas permintaanku.
"Gak pa-pa, Kak. Kami akan membantu, jika kamu dengan legowo berbagi nasibmu ini!" pintaku yang sudah mendekati, dan mengenggam erat tangannya.
Jika tidak mau berbagi cerita, pasti perempuan yang lemah didepanku ini akan terus merasakan penyiksaan.
__ADS_1
"Gak mau, Ana. Aku tidak mau kalian terlibat masalah hanya gara-gara diriku, sebab suamiku itu orangnya kejam, yang tanpa ampun akan memberi pelajaran, pada siapa saja yang berani menganggunya," tolak perkataan kak Nola.
"Ada apa sih ini?" tanya sekertaris Rudi binggung.
Dua pria yang ingin membantu kian dibuat penasaran.
"Ayolah Kak, kamu ceritakan semua masalah kamu. Jangan takut, insyaallah kami semua akan membantu kamu, biar hidupmu tak menjadi nelangsa begini," bujuk rayuku lagi.
"Tapi Ana?."
"Ayolah, Kak! Ini demi kebaikanmu juga," kekuhnya aku berucap.
"Iya Kak, kami akan membantu kamu, jika kamu ada masalah. Jangan takut, kami disini ada dengan setia untuk menolongmu." ucap Mas Adit yang ikut membujuk.
"Baiklah, kalau kalian semua tetap memaksa."
"Astagfirullah, apa yang terjadi sama kamu, Kak?" tanya Mas Adit.
"Ini semua yang melakukan adalah suaminya, dan aku belum tahu penyebabnya apa? Sebab Kak Nola belum bercerita padaku," Keterangan diri ini menjawab.
Kupeluk erat tubuhnya, sebab sudah ada isak tangisan yang hadir.
"Apakah sudah sesering ini, mendapatkan tindakan kekerasan dalam rumah tangga kamu?" tanya Rudi.
Kak Nola hanya menundukkan kepala, sambil mengalirkan bulir-bulir airmata. Mulutnya yang terasa kaku, hanya bisa menjawab dengan menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Akupun heran sama kamu, Kak! Bukankah kamu sudah bercerai dengan suami kemarin. Tapi kenapa kamu rujuk kembali? Padahal 'kan suami kamu sering menganiaya," Keherananku berkata.
"Aku sebenarnya juga tidak mau hidup bersama suamiku itu, tapi karena rumah dan harta benda peninggalan orang tua telah dikuasai suami, aku terpaksa kembali padanya, dengan janji dia akan mengembalikan rumah dan fasilitas lainnya," tutur Kak Nola menjelaskan.
"Astagfirullah, ternyata dia pria sadis melebihi bukan manusia saja kelakuannya itu."
"Aku tak tahu kalau dia begitu licik, telah membalik nama harta warisan kedua orang tuaku," tangisnya yang kian pecah.
"Waaah ... suami kamu itu benar kurang *j*r, sudah menipu istrinya sendiri, ditambah telah melakukan kdrt padamu, Kak!" Mas Adit emosi.
"Bener itu, Bos!" sahut Rudi membenarkan.
"Kalau bukan karena harta orang tua, aku tidak akan bertahan bersama dia. Entah mengapa dia dulu sangat menyayangiku, tapi setelah anak kami meninggal karena kecelakaan, dia begitu berubah menjadi ringan tangan dan selalu menghajarku," ucap Kak Nola yang masih bersedih.
"Berarti suami kakak itu jadi seorang pemarah, gara-gara anak kamu meninggal? Kalau tebakkanku sih! Suami kakak itu seakan-akan tak terima anaknya meninggal, dan dia menyalahkan kamu," tebakku berkata.
"Iya Ana, apa yang kamu ucapkan benar. Aku tak menyangka atas perubahan sikapnya itu begitu drastis jadi kejam, padahal anak kami kecelakaan bukan karena salahku. Kejadian waktu itu, anakku sudah masuk sekolah play grup, tiba-tiba telah menyebrang jalan raya tanpa didampingi suster. Hhhhhh, Entahlah. Akupun tak tahu kenapa dia bisa semarah itu padaku, padahal yang lebih merasa kehilangan adalah diriku," hembusan nafas kak Nola binggung.
"Patutnya memang itu bukan kesalahan Kakak sih! Tapi aneh sekali kenapa dia sampai semarah itu? Apa jangan-jangan dia itu ada trauma apa gitu? Kayak keluarga tercinta meninggal?" tanya kecurigaan Mas Adit.
"Aku gak tahu Adit. Setahuku suamiku hanya berdua dengan adiknya, yang kini tinggal diluar negeri," jelas kak Nola.
"Hmmm, jadi aneh dan sangat mencurigakan?"
"Bisa jadi Kak Nola disalahkan, mungkin karena kurang hati-hati menjaga anak . Dan si suami terlalu sayang pada anaknya, sehingga kayak ngak rela saja, bahwa si buah hati telah meninggal," jawabku.
"Mungkin saja, Ana. Sebab memang suamiku itu begitu sayangnya pada anakku, sehingga dirikupun kadang cemburu atas kasih sayangnya yang berlebihan tercurah pada buah hati, tapi semua dapat kutepis karena mereka begitu berarti dalam hidupku," terang kak Nola sudah merasa tenang.
__ADS_1
Kami yang awalnya dendam menjadi luluh, sebab iba melihat keadaannya yang begitu kacau. Walau kami semarah apapun itu, kalau menyangkut wanita yang tidak berdaya diperlakukan seenaknya saja pasti kami malah ingin membantu.