
Saat semua telah terelakan, rasanya tiada lagi beban pikiran yang menganggu. Ikhlas mungkin itu kuncinya, sebab sekarang aku tak lagi memikirkan tentang Karin.
"Kamu kelihatan fresh saja, nak! Ada apa ini?" tanya kecurigaan Mama saat kami sedamg sarapan.
"Alhamdulillah, iya Ma. Apakah nampak ketara sekali wajahku sekarang?" balik tanyaku.
"Iya, Nak. Kamu sekarang nampak ada senyuman yang terukir indah, terasa tak ada beban lagi. Apakah sekarang sudah berusaha mengikhlaskan, Karin?" imbuh tanya beliau.
"Iya, Ma. Alhamdulillah, sekarang Adrian bisa mengerti apa itu artinya cinta sejati, yaitu ketika merelakan wanita yang kita cintai bahagia bersama orang lain. Walau sedikit rasa sakit hati, melihat senyumannya bersanding bersama orang lain, itu sudah cukup mengenai jawaban atas semuanya," jelasku.
"Baguslah, Nak. Memang itu yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga saja Karin kali ini benar-banar akan bahagia bersama pilihannya itu. Tapi ingatlah! Jangan lupakan Naya sebab dia anakmu juga," nasehat Mama.
"Iya, Ma. Pasti itu. Terima kasih jika selama ini Mama selalu memberi semangat dan dukungan pada Adrian. Dikala waktu terpurukpun hanya Mamalah yang menjadi pelipur laraku," cakapku memberikan senyuman lebar.
"Iya, sama-sama, Nak."
"Benar itu kata Mama. Papa juga sependapat sama beliau, bahwa kamu harus bangkit dari semua masalah kemarin. Masalah jodoh biar Tuhan yang mengatur, sebab sebagai manusia kita hanya bisa pasrah saja. Kamu sebagai anak jagoan kebangaan kami, tidak boleh menyerah dan terus-menerus terpuruk. Banyak masalah yang harus bisa ditangani, contohnya Naya mengenai statusnya sebagai anak kamu," sela cakap Papa, yang kini ingin ikut bergabung sarapan.
"Iya, Pa. Adrian mengerti."
"Ya sudah, Ma, Pa. Adrian akan berangkat kerja dulu, sebab diburu oleh waktu mau mengadakan meeting," cakapku ingin pamit, yang sudah mencium kedua tangan punggung kedua orangtua.
__ADS_1
"Iya, hati-hati dijalan nanti kamu," jawab Papa mendoakan.
"Iya, Pa. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Mobil sudah kuhidupkan mesinnya, yang kini akan menuju keperusahaan bekerja. Semua kini terasa ringan tak ada beban lagi, hanya tinggal tanggung jawabku pada Naya untuk merawatnya lebih baik lagi.
Laju mobil semakin merayap, saat sudah memasuki jalan yang banyaknya kendaraan berlalu lalang menjalankan mobil dan motor, yang kelihatan pada sibuk ingin berangkat kerja. Dengan perlahan-lahan mobil terus melaju, sampai pada akhirnya setelah sekian menit merayap bisa bebas juga dari kemacetan jalanan.
"Semoga hari-hariku akan bertambah baik lagi, tanpa harus adanya Karin disisiku. Walau kau tak bisa kumiliki, yang pastinya namamu akan terus dalam hatiku yang terdalam dan abadi selamanya. Maafkan aku Karin, jika hanya bisa membuatmu luka yang tak bisa membahagiakanmu," rancau hati yang tengah melamun ketika akan memasuki jalan gang kecil menuju perusahaan.
Bhug, tiba-tiba tanpa sadar kini aku telah menabrak mobil seseorang, yang berlainan arah lawan lajunya.
Dengan secepatnya aku turun dari mobil, untuk memeriksa seseorang yang barusan kutabrak apakah baik-baik saja apa tidak. Saat sudah turun, netra mencoba melihat kesekeliling keadaan mobill apakah terjadi kerusakan parah atau tidak, dan ternyata hanya penyok diujung badan mobil dengan sedikit-dikit lecet saja.
"Maaf, Mas. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya seorang perempuan telah menyapa duluan.
"Kamu?" Kekagetan kami secara kompak.
"Adrian, kamu?" Syoknya Yona melihatku.
__ADS_1
"Wah, ini memang kebetulan atau takdir yang tak sengaja mempertemukan kita," jawabku.
"Mungkin takdir diatas kebetulan. Gimana kabar kamu, Adrian?" tanya Yona sudah menjabat tanganku.
"Alhamdulillah aku baik, kalau kamu gimana kabarnya sekarang?" balik tanyaku.
"Aku sekarang juga baik. Wah, kamu sekarang nampak tambah keren dengan jas itu," puji Yona.
"Ah, ini biasa saja kali. Mungkin wajahku yang tampan ini menambah aura kekerenanku sekarang," jawabku sambong.
"Dari dulu kamu memang keren, hingga aku ... aku---? Suara tertahan Yona.
"Hingga aku apa, Yona?" tanyaku penasaran.
"Aah, ngak jadi. Biasalah, lupakan saja perkataanku tadi,"
"Ya sudah, kalau begitu. Aku mau pamit kerja dulu, jika ada apa-apa sama mobilnya bisa hubungi aku disini, pasti aku akan bertanggung jawab mengenai kerusakan mobil kamu," cakapku memberikan kartu nama.
"Oh iya, silahkan lanjutkan aktifitasnya. Pasti aku akan hubungi kamu. Kelihatannya mobilnya tidak rusak parah, jadi tak payah repot-repot untuk memperbaikinya. Tapi bolehkan aku bertemu kamu jika ingin ngobrol?" tanya Yona.
"Tentu saja, aku akan dengan senang hati akan bertemu kamu. Ya sudah, aku telat nih! Maaf tidak bisa ngobrol lama-lama sama kamu. Bye ... bye!" cakapku sudah pamit.
"Iya, Adrian. Bye ... bye juga."
__ADS_1
Setelah sekian tahun tak bertemu, tanpa sengaja aku dipertemukan dengan Yona yang dulu sangat kubenci, akibat selalu saja membuat ulah pada Karin. Kini semua kesalahannya sudah kulupakan, sebab tak baik jika memendam rasa benci terlalu lama-lama. Semoga saja Yona yang kutemui sekarang, tak sama sifatnya dengan dulu, yang selalu kejam pada semua orang.