
Mulutku tak henti-henti sumringah tersenyum, akibat membayangkan Nola yang sudah malu bukan kepalang akibat baju daster. Kini secepat kilat pulang lebih awal dari mas Adit, sebab tak ingin diketahuinya bahwa diri ini telah bekerja diperusahaannya.
Sebelumnya pihak atasan dibidang kebersihan, sudah kuberitahu siapa aku sebenarnya, jadi tak perlu khawatir atas perkerjaanku jika ada sesuatu kendala, sehingga datang pergipun semauku jika menginginkannya.
"Huuuuf, tit ... tiiit," Tarikan nafas panjang sambil memasuki rumah apartemen.
Waktu masih menunjukkan di angka pukul 15.30 WIB, dan menandakan mas Adit masih lama sekali untuk sampai rumah. Kerjaanku sekarang hanya rebahan di sofa ruang tamu, merasakan pegal-pegal disekujur tubuh.
Sambil santai-santai mengendorkan otot-otat, otak kini bekerja memikirkan sesuatu, tentang ajakan Nola untuk pergi ke pesta bersama mas Adit.
"Bagaimana aku bisa mengagalkan rencana itu? Apakah aku harus menyamar lagi? Tapi bagaimana bisa masuk ke dalam pesta itu? Bukankah acara itu menggunakan undangan? Aaah ... hiiiiih, bagaimana ini!" Kekesalanku yang tidak menemukan ide.
"Aaah ... aah, siapakah yang bisa menolongku sekarang?" guman hati yang terus berpikir.
Lama sekali aku tidak mendapatkan ide, sampai akhirnya dapat orang yang bisa membantuku sekarang. Gawai dalam tas sudah kuambil untuk menelpon orang itu, dan jari-jari kini sibuk mencari nama yang ingin secepatnya kutelpon.
[Hallo, assalamualaikum]
[Iya, Ana. walaikumsalam]
[Ada apa Ana? Tumben-tumben kamu menelponku, pasti ada hal penting lagi ini]
__ADS_1
Tebakkan sekertaris Rudi, yang ingin kumintai tolong.
[Wuuuih, kamu itu dukunkah? Sampai tahu maksud dan tujuanku?]
[Iiich, ngaco sekali tebakkanmu. Gak mungkin aku dukun, kerja aja pakai jas, asal nuduh aja]
Jawabnya yang terdengar tak senang.
[Hihihi, maaf ya sekertaris Rudi. Kamu selalu saja tahu keinginanku, jadi sudah keceplosan menganggapmu sebagai dukun, jangan marah ya, oke!]
[Aku gak marah, Ana. Cuma kesel saja kamu ngomong kayak gitu]
[Iya ... ya, sekali lagi aku minta maaf]
[Oke, aku memaafkanmu. Ooh ... ya, kamu tadi mau minta tolong apa?]
[Iya aku dengar, terus?]
[Aku minta bantuan kamu, untuk menyelidiki ditempat mana mereka akan pergi? Setelah itu cari cara supaya bisa memata-matainya, sebab pasti akan sulit untukku masuk ke dalam sana, karena semua tamu pasti menggunakan undagan, jadi kali ini kamu bantu aku untuk mengetahui semua itu]
Pintaku yang ingin sekali membuntuti mas Adit nanti.
[Baiklah, aku akan cari semua informasi yang kamu suruh]
__ADS_1
[Terima kasih sekertaris Rudi. Secepatnya kamu hubungi aku, sebab nanti bisa mempersiapkan diri, langkah-langkah apa yang akan kulakukan selanjutnya]
[Iya, sama-sama. Oke deh! Semuanya pasti beres, dan tidak salah kamu itu meminta bantuan ke padaku. Tapi ngomong-ngomong aku melakukan pekerjaan ini ada bonusnya gak nih!]
[Ciihh, bonus melulu dalam otakmu sekarang]
[Hahahaha. Tentu dong Ana, itu semua 'kan demi kelangsungan hidupku mencari calon istri]
[Dasar, iya ... iya. Semua pasti beres, apalagi masalah bonus, kujamin full penuh bayaran]
[Terima kasih, Ana! Ternyata kamu tak pelit seperti bosku Adit]
[Eeeit ... iiit, jangan hina-hina ya ! Dia itu adalah suamiku]
[Hihihihi, kelupaan dah! bisa mati aku]
[Gak kok Rudi, aku gak akan bilang padanya, asal kamupun selalu menjaga rahasiaku juga]
[Siiip, pasti kujamin semuanya akan aman dalam mulutku]
[Oke deh! Kutunggu kabar kamu]
[Siip]
__ADS_1
Klik, gawai sudah kumatikan.
Rasa malaspun mulai kubuang, sebab ingin secepatnya mandi, dan segera ingin meluncur ke rumah mertua untuk mengambil Aliya.