Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Mencoba melerai


__ADS_3

Rasa terkejut begitu membuat jantung berdetak cepat sakit sekali, saat Naya memanggilku tiba-tiba namun yang terlihat adalah kak Adrian, yang tengah digandeng nyaman oleh anak kesayanganku.


"Hadeh, apa yang sedang mereka lakukan ini?" guman hati gelisah saat mereka sudah saling pukul.


Suasana yang sedang baku hantam, membuatku semakin kalut apa yang harus dilakukan. Sedangkan Naya kini sudah digendong ibu dengan tangisannya yang histeris ketakutan.


"Hentikan ... hentikan perkelahian ini," cegahku mencoba melerai mereka.


Kelihatan sekali emosi mereka sudah tak terkontrol lagi, hingga para karyawan dan pengunjung mencoba menolong untuk melerai mereka. Setelah sekian lama dengan kesusah payahan semua orang menolong, akhirnya mereka berhenti berkelahi juga dengan tangan sama-sama dicekal oleh orang lain.


"Kalian bisa tenang dan berhenti berkelahi tidak? Kalau tidak aku akan menendang kasar kalian pergi dari tempat ini, paham!" ancamku saat mereka masih nampak ada guratan emosi.


"Lihat! Atas ulah kalian, Naya jadi ketakutan dan menagis histeris begitu," Tunjukku marah-marah ke arah ibu yang sibuk masih mengendong.


"Jangan salahkan aku, Karin. Chris saja yang tadi duluan mengajak gelut," nyolot ucap kak Adrian menjawab.


"Aku tak akan mulai, jika kamu tak cari gara-gara dan datang kesini," balas suara Chris marah.


"Aku wajar kesini karena ada hak yang harus kuambil dan selesaikan," cakap kak Adrian yang tak mau kalah.



"Hak apa itu? Bukankah kamu sudah membuangnya demi orang lain?" sambut jawab Chris tak mau mengalah juga


"Sudah ... sudah, berhenti kalian ribut-ribut begini. Pusing kepalaku memikirkan sifat kalian yang seperti kekanak-kanakkan ini," keluhku bergantian emosi.

__ADS_1


Mereka berdua seketika diam tak ada jawab saling menyaut lagi, hingga orang-orang yang sempat mengunci tangan mereka akhirnya melepaskan juga. Naya yang masih menangis tiada henti, akhirnya dibawa ibu pergi menjauh, mungkin tak ingin melihat pertengkaran yang memuakkan ini.


"Duduk kalian!" perintah bentakanku.


Mereka yang awalnya berdiri sama-sama sedang menahan amarah, kini menurut saja perkataanku, dengan wajah masih sama-sama berancang-ancang siap berkelahi lagi.


Kini aku pergi berjalan kedapur sebentar, meninggalkan mereka yang dalam sikap masih tenang. Kini ember telah kuisi dengan air, dan kini mencoba membawanya kedepan.


Byuur ... byuuur, dua kali siraman air kini kudaratkan ketubuh kak Adrian dan Chris. Mereka berdua terlihat gelagapan saat air telah berhasil membasi wajah dan sekujur tubuh, dengan tangan masing-masing mencoba membuang aliran air itu.


"Apa kalian sudah sadar?" tanyaku yang menyimpan emosi.



Tak ada jawaban sama sekali dari mulut mereka, yang ada mereka hanya terlihat mulai mengigil karena baju yang basah. Geram dan marah pada mereka terasa begitu membuncah, hingga rasanya ingin sekali meluapkan segala emosi pada mereka.


"Maafkan aku, Karin. Entah mengapa aku tak terima saja jika laki-laki ini bertandang ke toko kita, sebab kamu tahu sendiri jika dia datang ke sini pasti selalu menghadirkan masalah," Penyesalan ucap Chris.


"Maafkan aku juga, Karin. Bukan aku ingin mencari masalah, namun diriku ini benar-benar ingin mengetahui lebih tentang kehidupan kamu sekarang. Tapi, pada kenyataannya kamu selalu saja menghalangi diriku, saat ingin mengetahui lebih tentang kamu," saut ucap kak Adrian yang menyesal juga.


"Baguslah kalau kalian menyesal atas perkelahian tadi. Apa kalian itu tak berpikir bahwa ada Naya yang masih kecil, melihat pertunjukkan yang tak seharusnya dan baik untuk ditonton, tapi sekarang sudah terlanjur atas tingkah kalian tadi. Lihat! Dia begitu ketakutan," simbat bu Fatimah yang kini ikut angkat bicara.


"Rohmat, ambil Naya dulu!" perintah Ibu agar dia mau mengambil alih Naya yang sudah kelihatan tenang tertidur.


Rohmat serta merta langsung beralih mengendong segera, dan berusaha menjauh dari kami yang sudah ada suasana ketegangan.

__ADS_1


"Kamu gantilah baju dulu, nak Chris. Dan untuk nak Adrian kamu juga gantilah baju juga, meminjam punya nak Chris atau pegawai lain disini. Kalau sudah selesai ibu akan tunggu disini bersama Karin," perintah bu Fatimah.


Dengan rasa berat namun tak ingin membantah ibu, mereka berdua akhirnya mengkuti saja perintah itu. Tak lama kemudian Chris kini hanya memakai kaos oblong biasa, yang awalnya sempat memakai kemeja putih berbalut jad hitam.



"Kamu bicaralah empat mata dengan Karin sebentar, sebab ada hal-hal penting yang perlu kalian selesaikan, karena ibu tak ingin kalian berlarut-larut mengenai masalah ini, hingga berdampak hal-hal yang tak baik nantinya," perintah ibu.


Aku yang mendengar penuturan ibu sempat ragu, apakah bisa berbicara baik-baik sama kak Adrian, yang padahal hati sangat meronta tak ingin membuka luka hati lagi, namun perintah ibu ada benarnya jika kami harus segera menyelesaikan segalanya.


Akhirnya aku menyuruh kak Adrian untuk mengikuti langkahku keluar dari toko, sebab tak enak sama tatapan orang-orang yang masih penasaran sama kami. Chris hanya terdiam tak ada pelawanan dan pasrah membiarkan aku pergi.


"Bicaralah apa yang ingin kakak ketahui sekarang?" suruhku.


"Maafkan aku, Karin. Jika selama ini diriku hanya bisa membuat kecewa dan bikin kau sakit hati saja. Aku hanya penasaran tentang Naya, dan selain itu apakah kita tak bisa kembali seperti dulu," ucap kak Adrian lesu menatap nanar ke arahku.


Diriku yang tak ingin ada masa-masa kelam namun indah terulang kembali, netra kini menatap lurus ke arah jalanan.


"Maafkan aku yang tak jujur mengenai masalah Naya. Ya benar, Naya adalah anak kandung kakak. Masalah hati jangan tanyakan lagi mengenai itu, sebab sudah lama rasa itu telah mati, dan kini terganti oleh orang lain," jelasku dengan jujur.


"Syukurlah kalau Naya adalah anak kandung yang selama ini jadi dugaanku, tapi mengenai hati apakah tak bisa diperbaiki lagi?" tanyanya.


"Maaf, kak. Itulah jawaban yang sesunguhnya, jadi sekarang kakak jangan terlalu berharap lebih padaku. Kini jawaban sudah jelas dan pasti, jadi jangan pernah ganggu lagi kehidupan kami, sebab aku dan Naya sudah bahagia tanpa kamu," terangku yang kini berusaha melenggang pergi.


Setelah semua penjelasan, untung saja kak Adrian tak ada rasa berontak lagi, hingga diri ini berjalan masuk ke toko lagi tanpa ada halangi oleh kak Adrian.

__ADS_1


"Maafkan aku, kak. Walau hati yang terdalam aku juga mencintaimu, tapi luka hati yang sudah tertoreh telah membawa dampak buruk pada kehidupanku, maka dari itu sejarah itu tak ingin terulang lagi biar kehidupanku dan Naya bisa bahagia," ucapan hati yang sesungguhnya.


__ADS_2